Jerat Mafia Hareudang

Jerat Mafia Hareudang
S2 - Babak Baru


__ADS_3

Flo mengatur nafasnya yang masih terengah-engah, sesuatu yang menggebu-gebu sebelumnya usai sudah.


Entah dari mana Axe belajar tapi suaminya benar-benar melakukan semuanya dengan cara baru dan bersemangat sekali.


"Kemarilah!" Axe menarik Flo dalam dekapannya.


Lelaki itu mulai menggesek lagi miliknya yang membuat Flo terkejut.


"Axe..." Flo ingin melakukan protes tapi tangan Axe sudah kembali nakal menyentuh tubuhnya.


"Keringat kita bahkan belum mengering!"


Mengabaikan perkataan Flo, Axe kembali mengulangi lagi kegiatan panasnya sekali lagi.


Flo benar-benar dibuat tak berdaya, kalau saja perempuan itu tidak meminta berhenti pasti Flo sudah pingsan dibuatnya.


"Maafkan aku, darling," bisik Axe ketika melihat Flo yang tertidur karena kelelahan. Tangannya turun untuk mengusap perut istrinya.


Sudah setahun mereka menikah tapi Flo belum ada tanda-tanda hamil.


Mungkin karena memang mereka berpisah sebelumnya.


Jadi, kali ini Axe akan kejar target untuk mempunyai anak.


Hal yang dulu tak pernah lelaki itu pikirkan sama sekali tapi sekarang Axe justru menginginkan hal itu. Jika dia dan Flo mempunyai anak pasti ikatan diantara mereka akan semakin kuat.


Dan Axe akan benar-benar diterima dalam keluarga Hoult.


Keesokan harinya, Flo terbangun dengan badan sakit semua terutama pinggangnya.


"Auw!" Flo mengeluh dengan memegangi pinggangnya yang terasa sakit. "Aku tidak perlu berolahraga kalau begini ceritanya!"


Matanya bergerak liar untuk mencari keberadaan suaminya tapi Axe tidak ada di kamar hotel yang mereka tempati sekarang.


"Axe..." Flo mencoba memanggil tapi sosok Axe tak kunjung muncul.


Lebih baik Flo mandi terlebih dahulu supaya lebih segar, toh mereka tidak buru-buru untuk check out dari hotel.


Cukup lama Flo membersihkan dirinya di kamar mandi, ketika perempuan itu keluar sudah tersaji berbagai olahan daging di atas meja.


Kali ini Axe sudah ada di kamar dengan senyum terbaiknya.


"Good afternoon, darling," ucap Axe.


Di luar memang sudah siang hari, tidak biasanya Flo bangun siang kalau tidak karena kelelahan.


"Aku mencarimu sedari tadi," balas Flo seraya mendekat. Namun, mata Flo justru fokus pada hidangan di atas meja.


"Kenapa semua serba daging?"


"Untuk memulihkan tenagamu, darling," jawab Axe tanpa beban.


"Kalau kita terus di sini, mungkin aku akan patah tulang," sindir Flo seraya duduk. Dia jadi waspada karena masih memakai handuk saja.

__ADS_1


"Aku pasti akan dibunuh daddy mertua," Axe ikut duduk dan mengambil salah satu piring. Dia akan melayani Flo sebaik mungkin.


Walaupun Flo menolak tapi Axe tetap menyuapi istri tercintanya itu.


Mereka terus bermesraan untuk melampiaskan rasa rindu.


"Kita harus kembali Axe, kau belum menyapa mommy dan daddy," ucap Flo yang jadi mengingat orang tuanya.


Sebenarnya Axe masih ingin bermesraan dengan istrinya tapi dia memang harus menemui mertuanya setelah satu tahun tidak bertemu.


Akhirnya Flo dan Axe check out dari hotel menjelang makan malam supaya bisa makan malam bersama dengan anggota keluarga Hoult lainnya.


Di kediaman keluarga Hoult, Silver memasak lebih banyak dari biasanya untuk menyambut kedatangan menantunya.


"Aku harus menyiapkan menu yang tidak ada di Perancis," gumam Silver.


"Ah, aku harus meminta Keenan lebih cepat pulang malam ini!"


Sepertinya lelaki itu panjang umur karena sebelum Silver mengangkat ponselnya, Keenan sudah pulang duluan.


"Kau sudah pulang?" tegur Silver.


"Di mana Tessa?"


Sekretaris pribadi lelaki itu ternyata masih ada di belakang karena membawa banyak berkas yang harus Keenan kerjakan.


"Kenapa kau tidak membantu Tessa," lanjut Silver jadi marah.


"Tessa digaji untuk melakukan semua itu, bukan?" tanggap Keenan dengan santainya.


Silver sampai menggelengkan kepalanya karena putranya yang bergantung pada Tessa.


Sampai tak lama terdengar suara mobil lagi dan Silver bisa menebak kalau itu adalah Flo bersama suaminya.


"Apa benar itu Flo?" Silver berlari menuju pintu depan. Padahal hanya sehari saja dia tidak melihat putrinya.


Dan benar saja itu memang Flo yang datang.


"Mommy mertua..." Axe yang melihat mertuanya langsung mendekat. "Aku datang!"


"Kau semakin tinggi saja," komentar Silver ketika melihat menantunya itu.


"Apa aku juga semakin tampan? Wajahku masih seperti model, bukan?" Axe mengguyar rambutnya.


"Axe..." Flo berusaha menyadarkan suaminya.


"Ayo cepat masuk!" Silver mengajak keduanya untuk masuk ke dalam.


Sebelum masuk, Axe berhenti sejenak untuk melihat mansion utama keluarga Hoult.


Dalam hatinya, apa dia bisa memberikan Flo tempat tinggal seperti itu setelah menikah dengannya.


Mereka bahkan harus berpisah selama setahun supaya dia bisa mengelola bisnis ayamnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Flo.


"Tidak apa-apa, aku hanya memikirkan kehidupan istriku untuk ke depannya," jawab Axe mulai serius.


Flo yang mengerti keadaan suaminya, menggenggam tangan Axe supaya lelaki itu tidak berpikir macam-macam.


"Apa aku pernah mengeluh? Kita akan menghadapi semua bersama," ucap Flo yang selalu menjadi support system bagi Axe.


"Ayo! Semuanya pasti sudah menunggu kita!"


Axe harus menguatkan mental menghadapi keluarga istrinya, walaupun dia sekarang sudah diterima tapi sebelumnya hubungannya cukup ditentang.


Jadi, Axe selalu berusaha hati-hati akan setiap tindakan yang dia lakukan.


Apalagi di depan ayah mertuanya, Grey.


"Kau sudah datang?" tanya Grey yang melihat Axe masuk ke dalam. Lelaki itu sudah duduk di meja makan.


Di sana juga sudah ada Silver dan Keenan beserta Tessa.


"Maafkan saya, daddy mertua," ucap Axe secara spontan.


"Kenapa minta maaf?" tanya Grey.


Flo menepuk jidatnya sendiri, karena takut suaminya akan melakukan kesalahan. Dia membimbing Axe untuk segera duduk di meja makan.


Seperti biasa Grey akan memimpin doa lalu mempersilahkan semua yang ada di meja makan menikmati hidangan.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Grey di sela makannya.


Pertanyaan itu tentu saja ditujukan pada Axe.


"Untuk saat ini, aku mau fokus untuk membuat cucu untukmu, daddy mertua," jawab Axe apa adanya.


Biasanya Grey akan kaget mendengar apa yang keluar dari mulut menantunya itu tapi untuk sekarang Grey sudah terbiasa.


"Kami akan pindah rumah, Dad," Flo mencoba meralat perkataan suaminya.


Setelah ini Axe memang harus benar-benar belajar bersosialisasi dengan baik.


"Kapan pindahnya?" tanya Grey.


"Kalau bisa secepatnya," jawab Flo.


Sedari tadi Keenan hanya mendengar percakapan mereka, dia merasa tidak dianggap dan berbisik pada Tessa yang ada di sampingnya.


"Bukankah aku seperti anak angkat di sini?" bisik Keenan.


"Tidak seperti itu, Bos," balas Tessa.


"Mereka tidak ada yang bertanya tentang rencanaku selanjutnya," Keenan jadi protes.


"Bukannya Bos memang masih tidak punya rencana masa depan?" tanggap Tessa berusaha mengingat hidup Keenan selama ini yang masih bergonta-ganti pasangan.

__ADS_1


"Ah, sudahlah," Keenan tidak mau membahas dirinya lagi.


Sekarang biar orang tuanya mengurus urusan menantu mafianya.


__ADS_2