Jerat Mafia Hareudang

Jerat Mafia Hareudang
S2 - Mencari Kesalahan


__ADS_3

Silver membantu mengemas barang-barang yang akan dibawa oleh Flo untuk pindah rumah.


Sebenarnya Flo dan Axe memang sudah mempunyai tempat tinggal, hanya saja Grey melarang Flo tinggal sendiri ketika berjauhan dengan suaminya.


"Mommy tidak perlu membantuku," Flo mencoba merebut barang yang dikemas oleh ibunya itu.


"Tidak apa-apa, justru kau yang jangan kelelahan, kau kan sedang program hamil," tolak Silver yang tetap ingin melanjutkan pekerjaannya.


Ekspresi Flo jadi berubah ketika membicarakan masalah kehamilan.


"Ada apa?" tanya Silver yang bisa melihat perubahan ekspresi putrinya.


Keduanya lalu duduk di tepi ranjang kamar Flo untuk saling berbagi cerita.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa memberi Axe keturunan, Mom?" tanya Flo yang mengungkapkan isi hatinya.


"Kenapa bicara seperti itu? Lagipula pernikahan kalian masih berjalan satu tahun, itu masih masa-masa penyesuaian diri masing-masing," balas Silver mencoba bijak.


"Tapi, aku takut," Flo masih saja dengan asumsi di kepalanya.


"Percayalah kalau Tuhan itu memberi kita anak disaat yang tepat," sahut Silver.


Walaupun masih takut tapi Flo bisa sedikit lega mendapat asupan positif dari sang mommy.


Ya memang benar, mereka tidak perlu terburu-buru.


"Darling..." Axe memanggil istrinya karena truk pengangkut barang sudah sampai.


Semua barang yang sudah dipacking diangkut oleh truk, sisanya mereka akan membeli perabotan baru.


Padahal rumah mereka sudah lengkap tapi ada barang-barang Flo yang mempunyai kenangan tersendiri yang harus dibawa.


Setelah itu mereka benar-benar berpamitan untuk meninggalkan mansion keluarga Hoult.


"Sering-seringlah berkunjung," ucap Silver sebelum melepas putrinya.


"Ya ampun, kita masih sering bertemu, Mom. Lagipula di sini masih ada Kee," balas Flo dengan kekehan.


"Adik begundalmu itu selalu membuat mommy dan daddy sakit kepala," Silver mengingat Keenan yang masih belum bisa mandiri.


Akhirnya Flo benar-benar pindah dan akan menjalani rumah tangga sendiri sekarang.


Axe menyetir mobil untuk menuju rumah baru mereka.


"Bagaimana kalau kita berbelanja dulu? Pasti kulkas masih kosong, bukan?" Flo memberi usul.


"Baiklah, darling," Axe setuju. Dia langsung menuju supermarket yang menjual kebutuhan lengkap.


Kali ini Flo ingin belajar memasak bersama suaminya, mungkin memang menyenangkan melakukan cooking date.


Keluar dan jalan-jalan memang perlu tapi melakukan kegiatan di dalam rumah untuk membangun suasana romantis juga perlu.

__ADS_1


"Apa kita perlu mengambil pelayan?" tanya Flo pada suaminya.


"Tidak perlu, kita bisa menyewa pelayan lepas atau pelayan dari mansion yang kita bisa bayar seminggu sekali," jawab Axe. Dia memang hanya ingin berdua dengan Flo.


Kalau sudah begitu, mereka bisa bercinta di manapun mereka inginkan.


Axe sudah membayangkan itu, jadi dia hanya perlu mematikan kamera CCTV.


"Baiklah," ucap Flo yang setuju. Dia tidak sadar akan rencana yang ada di kepala suaminya.


Setelah sampai semua berjalan normal, Axe mengangkat semua belanjaan dan Flo mencoba mengeluarkan lalu menyusunnya di kulkas.


Disaat konsentrasi dengan pekerjaannya itulah, Axe mencuri kesempatan untuk memeluk istrinya dari belakang.


"Aku belum selesai, Axe," ucap Flo supaya suaminya menjauh.


"Bagaimana kalau kau menyelesaikan hal lainnya, darling," Axe menggesek miliknya yang sudah menegang.


"Astaga," Flo membalik tubuhnya untuk mencegah suaminya berbuat hal lebih.


Namun sudah terlambat karena Axe langsung menaikkan tubuh Flo ke atas meja pantry yang ada di sana.


"Sekarang kita tidak perlu mengkhawatirkan apapun," ucap Axe seraya mencium bibir istrinya dengan lembut.


"Hmmmp!" Flo tidak bisa menghindar lagi. Dia menerima ciuman dan berusaha mengimbanginya.


"Tapi, kau sudah berjanji akan belajar bersosialisasi dengan baik!"


"Aku akan berusaha tapi tidak janji," balas Axe yang tidak mau memberi harapan lebih.


Tidak mungkin bisa mengubah kebiasaan seseorang begitu saja.


Flo sudah pasrah, toh dia sadar sepenuhnya kalau suaminya adalah mantan mafia.


"Axe..." Flo merasa tidak nyaman karena melakukannya di tempat terbuka. Tapi, adrenalinnya juga terpacu seolah ada orang yang memperhatikan kegiatan panas mereka.


"Aku akan pelan, darling," bujuk Axe.


Tentu saja itu hanya kebohongan belaka karena suara tepukan daging terdengar begitu nyaring, tanda kalau Axe sangat bersemangat sekali.


Mulut Flo sampai hanya bisa mengeluarkan huruf vokal A saja.


Keadaan mereka berbanding terbalik dengan keadaan Mattew dan Anna.


Di mansion Coulson menjadi canggung setelah kejadian malam itu.


Padahal baik Mattew atau pun Anna sama sekali tidak mengungkitnya.


"Tidak perlu membuatkan apapun lagi," Mattew berbicara pada Anna. "Aku akan menunjuk pelayan lain untuk menggantikan pekerjaanmu!"


Lelaki itu pikir kalau Anna akan menolaknya tapi perempuan itu justru menerimanya secara suka rela.

__ADS_1


"Baik, Tuan," ucap Anna segera undur diri.


Mungkin dengan begitu Anna bisa lepas dari suasana canggung itu. Lagipula dia hanya bekerja beberapa bulan lagi.


Setelah itu, dia akan memulai hidup barunya.


"Aku bisa melakukan pekerjaan apa saja untuk bertahan hidup," gumam Anna.


Entah kenapa Mattew jadi tampak kesal tapi dia mencoba tidak peduli dengan emosinya.


Semenjak hari itu, Mattew jadi jarang melihat Anna karena pelayan itu melakukan tugas lain yaitu dibagian laundry.


Yang dilakukan Anna adalah mencuci, menjemur dan menyetrika. Untuk itu dia sebuk di belakang saja.


"Kenapa rasanya tidak seperti masakan Anna?" protes Mattew ketika merasakan makanan dari pelayan pengganti Anna.


"Tapi, saya sudah memasak sama persis seperti yang dilakukan Anna, Tuan," pelayan pengganti itu berusaha membela diri.


"Panggilkan Anna sekarang!" perintah Mattew.


Pada saat itu Anna masih sibuk menggosok baju, tentu saja penampilannya acak-acakan, tidak rapi seperti biasanya.


"Kenapa tuan Mattew memanggilku?" Anna mematikan setrika sejenak. Dia ingin menghadap Mattew dengan segera.


Mattew mengerutkan keningnya melihat penampilan Anna yang sudah lama tidak dilihatnya.


"Sepertinya kau tidak menikmati tugas barumu," komentar Mattew.


"Tidak Tuan, saya menikmatinya," balas Anna.


"Lihatlah penampilanmu sekarang," ucap Mattew yang masih dengan asumsinya.


"Saya memang seperti ini," Anna berusaha menjelaskan supaya Mattew tidak salah paham. "Ada apa Tuan memanggil saya?"


"Kau tidak mengajari pelayan penggantimu dengan benar," kesal Mattew.


"Saya sudah mengajarinya, Tuan," Anna membela diri.


"Tapi, kenapa masakannya tidak enak," ucap Mattew seraya menunjuk piringnya.


Kalau untuk urusan rasa Anna memang tidak bertanggung jawab.


"Kau harus mengajarinya dengan benar!"


"Maafkan saya, Tuan," Anna yang tidak mau berdebat lebih baik meminta maaf dan akhirnya pamit undur diri.


Dan hal itu semakin membuat Mattew kesal karena seolah Anna tidak melawan sama sekali.


"Sekarang kau yang memasak!"


Lagi-lagi Anna menuruti permintaan majikannya itu, dia memasak walaupun lelah setelah seharian berkutat di laundry.

__ADS_1


Mungkin lidah Mattew memang cocok dengan masakan Anna saja.


__ADS_2