
"Bagaimana kau bisa ada di sini!" Flo langsung menarik tangan Axe supaya masuk ke kamarnya.
"Kau lupa ya? Aku seorang mafia, menyelundup adalah keahlianku. Aku setiap hari datang tapi tidak bisa menemuimu sampai malam ini aku melihatmu ada di balkon kamarmu," jelas Axe yang sangat gigih. Dia tidak menyerah walaupun berkali-kali ditolak oleh Flo.
Flo memukul dada Axe dengan keras. "Dasar bodoh!"
"I love you, Flo," ucap Axe sambil menangkap tangan Flo kemudian menarik tubuh kurus itu ke pelukannya. "I with you, always!"
Mendengar itu, Flo memejamkan matanya. Dia sekarang bisa menerima sepenuhnya lelaki itu.
"Axe, aku sudah mengingat semuanya," ucap Flo kemudian.
"Benarkah?" Axe sampai melepas pelukannya. "Jadi kau mengingat apa yang sudah kita lalui?"
Flo menganggukkan kepalanya. "Hm, apa benar aku sudah terlepas dari Larry?"
"Iblis itu sudah bersama ghost hunter, aku rasa kau sudah aman, darling," ucap Axe yang langsung menyambar bibir Flo. "Kita harus memastikan jika memang kita tidak terikat lagi oleh iblis itu!"
__ADS_1
Flo tergelak karena tahu jika itu adalah modus Axe. "Ayo kita buktikan!"
Tak mau menunggu lama, Axe mulai membuka bajunya kemudian dia mencumbu Flo dan membimbing istrinya itu untuk naik ke atas ranjang.
Cumbuan demi cumbuan yang membuat tubuh Flo bergetar hebat. Sepertinya Axe memang tahu daerah mana saja yang membuatnya sensitif. Bahkan Flo sampai tidak sadar saat Axe sudah melepas semua pakaiannya.
Axe mengambil pengaman yang sudah dia beli sebelumnya.
"Kau memang sudah merencanakan ini, Mr. Mafia," ketus Flo saat melihat Axe membuka pengaman dari mulutnya.
Kemudian Flo menahan saat Axe akan memasang pengaman itu.
Axe tampak meragu karena pikirannya belum sejauh itu.
"Kenapa?" tanya Flo yang melihat perubahan wajah Axe. "Kau tidak mau punya anak denganku?"
"Bukan seperti itu, hanya saja aku masih belum bisa memenuhi semua kebutuhanmu. Aku ingin sukses dan menikahimu dengan cara yang benar," sahut Axe.
__ADS_1
"Kau memikirkan materi? Aku bisa mencari uang sendiri dan aku bisa membantumu untuk mengembangkan bisnis kedai ayam," ucap Flo lagi.
Axe menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bagaimana caraku berbicara pada orang tuamu nanti, rasanya tidak keren kalau aku bilang mempunyai bisnis kedai ayam bukan?"
"Lebih baik kita jangan memikirkan itu dulu fokus pada pembuatan anak saja," sahut Flo yang sudah tidak tahan karena benda panjang Axe yang terus menggesek tubuh bawahnya.
"Ah, aku sampai lupa!" Axe akhirnya membuang pengaman di tangannya.
Sebelum melakukan penyatuan, Axe memberikan pengalaman yang tidak akan terlupakan oleh istrinya. Dia terus merangsang tubuh Flo sampai gadis itu merengek menginginkan dirinya.
"Axe!" panggil Flo yang wajahnya sudah semerah tomat.
Axe berseringai sepertinya sudah waktunya, dia segera memposisikan diri untuk menyuntik Flo.
"Peluk aku, darling!" pinta Axe.
Flo mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh suaminya. Mereka saling memandang kemudian berciuman. Bersamaan dengan itu, Axe mendorong masuk yang membuat tangan Flo mengacak rambut Axe dalam ciuman.
__ADS_1
Saat Axe bergerak, Flo hanya bisa memejamkan mata menahan gejolak dalam dirinya. Rasanya tidak bisa diungkapkan kata-kata.
"Buka matamu, darling. Lihat aku!" pinta Axe yang terus bergerak cepat sampai menimbulkan suara tepukan daging.