Jerat Mafia Hareudang

Jerat Mafia Hareudang
JMH BAB 17 - Berpikiran Sama


__ADS_3

Axe tersenyum melihat respon Flo, dia pikir gadis itu akan merendahkannya tapi ternyata dia salah.


"Kau lapar? Sepertinya di tasku ada roti!" ucap Axe sambil melirik tasnya yang jaraknya agak jauh dari tempat dia duduk.


"Roti? Bukannya ayam?" ledek Flo yang mengingat bisnis terselubung Axe.


Axe memutar bola matanya malas, dia malu kalau membahas kedai ayamnya. Lelaki itu ingin berdiri tapi ditahan oleh Flo.


"Kita ambil bersama-sama," ucap Flo yang tidak mau melihat terong bangsa romawi Axe lagi, dia tahu Axe yang tidak tahu malu.


Akhirnya Axe dan Flo berdiri berdua untuk menjangkau tas Axe yang berisi roti.


Axe mengambil tas itu dengan menunduk yang membuat Flo ikut menunduk juga.


"Rupanya rotinya hanya satu," ucap Axe sambil membuka tasnya kemudian roti itu dia berikan pada Flo. "Istriku tidak boleh kelaparan!"


Flo menerima roti itu dan langsung memakannya tapi setelah dua gigitan, dia menawarkan pada Axe. "Kau makanlah juga!"

__ADS_1


Mendapat perlakuan seperti itu ada perasaan aneh yang menjalar pada diri Axe, ternyata ada yang peduli padanya.


Axe juga menggigit roti dari tangan Flo, dia melakukan itu berulang sampai rotinya habis. Setelah roti habis, keduanya tertawa bersama.


"Bukankah ini lucu, kita berdua ke hutan dan kehujanan lalu kita bertelanjang sambil memakan roti bersama," ucap Flo yang diangguki oleh Axe.


"Dan aku harus mati-matian menahan diriku!" timpal Axe kemudian.


Suasana menjadi canggung kembali sampai Axe mendekatkan wajahnya dan ingin mencium Flo. Tapi buru-buru Flo menahannya.


"Maaf, kau pasti kewalahan menghadapi Larry!" sahut Axe yang jadi merasa bersalah.


"Sebaiknya untuk sementara, kau harus mencari cara untuk mengendalikan Larry," ucap Flo lagi.


Axe jadi mengerutkan keningnya, dia kembali mendekatkan wajahnya pada Flo tapi kali ini tangannya mengusap pipi gadis itu.


"Kau tidak akan kembali ke London, 'kan? Aku memang seperti memanfaatkanmu tapi setelah kita keluar dari hutan ini, aku akan lekas menjalankan rencanaku!" bujuk Axe.

__ADS_1


Flo mulai luluh, gadis itu menganggukkan kepalanya.


"Aku akan bertahan sebentar lagi. Dan Axe..."


Flo mulai merapatkan diri pada lelaki itu. "Aku merasa suku Ura itu tidak ada, mereka mungkin memang hidup di bangsa Larry. Bukankah mereka sangat aneh sebelumnya?"


"Ya, kau benar. Selama aku tinggal di sini, mereka juga lebih banyak diam. Mereka seperti menunggu!" ungkap Axe.


"Larry sudah memilihku dari awal jadi mereka pasti menungguku!" ucap Flo yang kembali mengingat saat menginjakkan kaki ke bandara sudah mendengar bisikan untuk datang ke hutan yang mereka kunjungi sekarang.


"Oleh karena itu, Larry menganggapmu pendampingnya! Sial!" timpal Axe merasa dipermainkan iblis itu.


Axe menatap Flo, dia jadi tidak tega dengan gadis itu tapi tujuannya sudah separuh jalan.


"Lebih baik memang kita harus berpisah jika Larry berhasil meniduriku maka aku miliknya seutuhnya dan nyawaku bisa terancam. Dia terus mengatakan aku akan hidup bersamanya," jelas Flo yang mengeluarkan apa yang ada di kepalanya.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," ucap Axe yang menyatukan keningnya dengan Flo. "Bagiku, kau adalah pendampingku. Kau juga harus berpikir seperti itu Flo! Kita harus bersatu untuk mengalahkan Larry!"

__ADS_1


__ADS_2