
Entah karena merasa bersalahnya atau bagaimana, rais tidak lagi berani bertemu dengan ara. Setiap kali ara memesan susu, dia selalu menguruh mila untuk datang ke kontrakannya. Arapun sekarang enggan pergi ke masjid Al-aqso, dia takut bertemu dengan rais. Tapi kajian yang selama ini diikutinya masih tetap ia jalankan dengan rutin. Dan ibu rais pun memilih diam tidak menanyakan hal yang membuat putra dan sang dokter merasa canggung.
Hari ini rais sengaja menjual susunya agak awal, arapun jadwal kajiannya libur dan dia juga sedang tidak ada jam praktek.
Waktu liburpun ara habiskan di dalam kontrakannya.
Dan raispun ber inisiatif untuk bertemu ara dan meminta maaf atas kejadian waktu itu.
Rais bingung dia mau mengajak ara bertemu dengan cara apa,kalau dia langsung kerumah ara pun tidak mungkin, karena dia takut menjadi fitnah. Mau minta nomer telponya kepada ibunya dia tidak berani. Akhirnya dia memberanikan diri minta kepada mila.
"Hallo assalamualaikum mil..." kata rais memberi salam lewat telepon kepada mila.
"Waalaikumsalam mas,,,ada apa..." tanya mila
"Mas mau minta nomer ponsel dokter ara boleh...penting soalnya..."
Mila yang tidak ada rasa curiga sedikitpun langsung meng iyakan dan akan segera mengirim kontak ara.
"Makasih ya mil...assalamualaikum..kata rais..
Belum sempat menjawab salam dari kakaknya, telponnya sudah di tutup.
\=\=\=\=\=\=\=
Cling...
Satu notifikasi WA masuk ke ponsel ara.
"Assalamualaikum...mbk ara bisa kita ketemu di taman dekat kontrakan mbak ara."
"Saya pengen meluruskan kejadian kapan waktu itu mbak..mohon maaf ya mbak menggangu kesibukan mbak ara.."
"Waalaikumsalam...baik"
Jawaban singkat ara membuat rais makin takut tidak dimaafkan.
Setelah bertemu, mereka duduk disebuah kursi ditaman. Raispun memulai pembicaraannya.
"Mbak dokter...eh mbak ara...saya mau minta maaf sama mbak ara.. karena saya sudah lancang mengutarakan isi hati saya kepada mbak ara...saya tau kok mbak saya ini cuma anak kecil kemaren sore yang belum pernah jatuh cinta sebelumnya..." kata rais membuka percakapan.
Yang ada didalam fikiran rais, adalah cepat selesai masalahnya dia bisa segera pulang, karena kalau lama lama dia bisa malu sendiri kepada ara.
"Apa yang membuatmu jatuh cinta kepadaku.." tanya ara dengan tatapan kedepan melihat danau dekat taman.
Rais terdiam, dia bingung harus menjawab apa, karena dia juga tidak tau alasannya kenapa dia jatuh hati kepada ara.
"kenapa kamu diam is...jawab pertanyaanku.."desak ara.
Rais masih terdiam menunduk. Dia sedang mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan ara. Namun lagi lagi dia tidak mempunyai alasan kenapa dia jatuh hatinkepada ara.
"Kenapa kamu nggak jawab... kamu bingung apa alasan kamu jatuh hati sama aku..." kata ara, seperti tau isi hati rais.
"Is... kalau kamu hanya main main dan merasa kasihan dengan keadaanku yang ber status janda ini...mohon maaf is... aku nggak mau membuang waktuku untuk bermain main soal perasaan...apalagi kamu kan tau, usiaku bukan lagi usia remaja yang masih mau bersenang senang seperti anak muda pada umumnya...kamu ngerti kan maksud aku is..." kata ara.
Rais hanya menganggukkan kepalanya tidak menjawab.
Tiba tiba suasana hening. Kali ini rais menatap dalam wajah ara yang duduk disampingnya dengan jarak satu meter.
"Mbak... usia saya memang jauh lebih muda dibanding mbak ara... dan saya tau mbak..saya bukan siapa siapa... bahkan kerjaan saya jauh dari mapan...tidak sebanding dengan kerjaan mbak ara yang berprofesi sebagai seorang dokter,apalagi dokter bedah... (diam senejak,lalu melanjutkan),,, tapi mbak ara harus tau, perasaan ini mengalir begitu saja... bahkan saya tidak tau kenapa saya harus jatuh hati kepada mbak ara,, harusnya hati saya sadar,kalau rasa untuk mbak ara adalah sebuah kesalahan besar...(diam sejenak, lalu melanjutkan lagi)... dan harus mbak ara tau juga... bukan karena mbak ara seorang dokter,,,bukan karena berstatus janda ataupun seorang putri orang kaya,,bukan mbak... andai mbak ara menerima lamaran saya,, saya berjanji kepada diri saya sendiri, akan membahagiakan mbak ara dengan cara saya sendiri, walaupun itu tidak mungkin untuk mbak ara,,karena dilihat dari apa yang mbak ara punya saat ini..." kat rais panjang lebar.
Ara yang mendengar penjelas rais, seketika jatuh air matanya. Entah apa yang ia dirasa saat ini, ara tidak menjawab semua penjesan rais. Ara terdiam menangis dan menangis.
"Mbak nggak usah menangis mbak... ini mutlak kesalahan saya... tapi saya mohon sama mbak ara, jangan menghindari keluarga saya mbak.. kalau memang mbak tidak suka dengan saya, cukup hindari saya mbak.. bukan ibu dan mila...mereka merasa nyaman kenal dengan mbak ara... mbak tenang saja...saya akan berusaha memendam rasa ini dalam dalam...tapi itupun jika Allah berkehendak... tapi jika Allah tidak berkehendak saya bisa apa mbak... saya hanya bisa berencana sedangkan yang wajib memutuskan hanya Allah..." kata rais melanjutkan percakapannya.
__ADS_1
Entah apa yang ada dalam fikiran ara saat ini,tanpa kata yang ber arti ara langsung memeluk rais. Rais yang terperanjak kaget tidak bisa menghindar dari pelukan ara, seakan menikmati pelukan dari ara, raispun membalas pelukan itu, tenggelam bersama didalam pelukan.
Setelah merasa lega, arapun melepas pelukannya, mereka berdua baru ingat apa yang mereka lakukan barusan adalah salah satu yang benar benar dilarang oleh agama.
"Ya Allah apa yang aku lakukan barusan.." kata rais dalam hati.
Sedang ara yang tidak tau harus bilang apa, raut wajahnya memerah, dia pergi dari taman itu tanpa kata, meninggalkan rais.
\=\=\=\=\=\=\=
Sudah beberapa minggu ini ara tidak nampak kerumah rais, bahkan dia juga tidak memesan susu lagi lewat mila. Dia memutuskan untuk menghindari rais.
Ditempat lain ibu rais merasa ada yang aneh, mengapa ara sudah beberapa minggu ini tidak berkunjung kerumahnya untuk mengikuti kajian. Ibu rais yang merasa ada yang tidak beres akhirnya memutuskan untuk menelpon ara.
Tuuut...tuuuut
"Assamalamualaikum bu..." jawab ara dengan salam telpon dari ibu rais.
"Waalaikumslam mbak ara..."jawab ibu rais.
"Mbak ara kenapa nggak ngikutin kajian beberapa minggu ini,,,mbak ara sehat kan..." sambung ibu rais sembari bertanya keadaan ara.
Ara bingung harus menjawab apa. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan ibu rais, karena memang dia sedang dalam keadaan sehat.
"Mbak ara... mbak ara nggak apa apa kan mbak...kok diem.." tanya ibu rais lagi.
"Eh..iya bu maaf, ara baik baik aja kok bu,,,tapi memang akhir akhir inu ara lumayan sibuk bu,, karena harus menangani pasien yang operasi..." jawab ara.
Karena memang beberapa hari ini ada dua pasien yang operasi toraks dan melibatkan ara sebagai team dokternya.
"Ohw gitu...syukur kalau mbak ara sehat sehat aja... kalau sudah tidak sibuk kerumah ibu ya mbak... ibu kangen sama mbak ara.." kata ibu rais..
"Siaap bu,, pasti ara kerumah ibu..." jawab ara.
"Le...mas rais.. ibu boleh ibu masuk kamar..." tanya ibu rais didepan pintu kamar rais.
"Masuk aja umm kaya ama siapa aja..." Jawab rais mempersilahkan ibunya masuk kamar.
"Le... ibu mau nanya,, gimana kamu sama ara, apa kamu sudah minta maaf sama mbak ara..". Tanya ibu rais.
"Kita baik baik aja umm..." jawab rais.
"Yaudah kalau gitu, tapi ingat kalaian bukan muhrim lho... jangan sekali kali menemui ara dengan keadaan kamu suka sama dia, apalagi kamu menemuinya sendirian... dan jangan pernah hubungi ara lewat ponsel kamu secara diam diam... " pesan ibu rais.
Rais yang merasa bersalah kepada ibunya karena sudah bertemu ara beberapa minggu lalu, tidak bisa berkata apa apa..rais hanya diam menunduk, mengingat kejadian beberapa minggu lalu, dia tenggelam dalam pelukan yang tidak semestinya.
\=\=\=\=\=\=
Hari ini ara lumayan sibuk ditempat dinasnya, dia sudah melakukan operasi besar kepada pasiennya. Operasi yang memakan waktu sampai 16 jam itu membuat ara sangat lelah. Bahkan karena terlalu lelahnya dia sampai tertidur di rumah sakit. Tya asisten dokter yang mendampingi ara tidak tiga membangunkannya. Tya membiarkan ara ber istirahat di rumah sakit, tya menunggu ara sampai bangun dari tidurnya.
Setelah dua jam berlalu, akhirnya ara bangun dari tidurnya. Dia melihat tya asistennya tidur bersandar di kursi.
"Jam berapa ini" ucap ara sambil melihat jam ditangannya.
"Astagfirullah udah jam empat pagi..." kata ara sambil bergegas membangunkan tya, dia mengajak tya untuk sholat subuh di masjid rumah sakit.
Setelah melaksanakan sholat mereka kembali keruangan, mereka bergegas untuk pulang kerumah masing masing.
"Dr. Ara mau bareng tya nggak.."kata tya menawarkan diri.
"Nggak usah ya...aku pulang sendiri aja naik ojol" kata ara menjawab.
"Yaudah dr.ara hati hati ya...besok libur kan dok.."kata tya sembari bertanya.
__ADS_1
"Iya..kamu juga hati hati, istirahat yang cukup...makasih ya untuk kerjaan kamu seharian kemaren sampe ketiduran disini juga.." kata ara sambil bersiap siap untuk pulang...
"Sama sama dok." Jawab tya sambil sibuk mengenakan jaket.
Sesampai dikontrakan ara melihat sebuah motor terparkir didepan gerbang kontrakannya, motor itu tidak asing bagi ara. Tapi ara bingung kemana pemilik motor itu, kalau masuk tidak mungkin karena pagar digembok dan gerbang cukup tinggi pula.
Sembari melirik motor yang terparkir pas didepan gerbang kontrakannya, ara mengeluarkan kunci gembok. Tiba tiba ada suara dari arah belakang.
"Mbak ara..." panggil suara itu.
Ara yang mengenal suara itu langsung menoleh dan kaget. Dan ternyata benar saja, suara yang memanggil itu adalah rais.
"Kamu... ngapain kesini.." kata ara.
"Maaf mbak kalau kedatangan saya kurang menyenangkan..."kata rais.
"Ayo masuk..."jawab ara sembari mempersilahkan masuk rais kedalam pintu gerbang.
"Bawa motormu masuk,,ntar takut hilang...disini kata orang orang rawan.." tambah ara.
Rais yang tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala, dan mendorong motornya masuk kedalam gerbang.
"Masuk sini is... diluar kotor berdebu..belum diberesin.." kata ara.
Raispun masuk kedalam rumah ara. Ini kali pertamanya rais memasuki rumah ara dan sendirian.
"Duduklah" pinta ara.
"Ada apa..." tambah ara bertanya.
"Maaf mbak...tadinya saya tidak ada keberanian untuk menemui mbak ara... tapi saya berusaha mbak,.."kata rais.
"Iya ada apa" tanya ara lagi.
"Mbak ara boleh tidak suka sama saya mbak...boleh menolak cinta saya... karena saya juga tau dari sikap mbak ara, mbak ara sebenranya nggak suka sama saya..tapi saya mohon jangan menghindar dari keluarga saya mbak... ibu dan mila rindu mbak ara... bahkan setiap hari ibu bertanya tanya kenapa mbak ara nggak ikut kajian lagi...tolong mbak...saya mohon...(berhenti sejenak lalu meneruskan),, apalagi kan mbak ara sedang belajar agama lebih dalamlagi,,saya merasa berdosa mbak karena ucapan saya mbak ara tidak meneruskan belajarnya mbak..." kata rais panjang lebar.
Ara tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepala.
Dalam hati ara menggumam.."dasar anak kecil, nggak pernah jatuh cinta,,, harusnya kamu tau is kalau aku tuh juga suka sama kamu".
"Mbak ara kenapa nggak jawab mbak...kalau gitu maaf ya mbak udah mengganggu istirahat mbak ara,,,tapi rais mohon tolong dopertimbangkan lagi kata kata rais tadi..." pinta rais sambil beranjak berdiri dan melangkah mau keluar rumah.
Baru dapat dua langkah rais mau meninggalkan ara, namun ara menghentikannya. Ara langsung berdiri tepat didepan rais. Mereka saling menatap, tatapan mereka semakin dalam. Sampai entah setan apa yang merasuki mereka, bibir mereka saling bertemu, ara yang memang sudah berpengalaman langsung ******* habis bibir dan lidah rais. Sepertinya rais tidak mau kalah, meskipun dia belum berpengalaman tapi dia mencoba membalas setiap lumatan bibir ara.
Setelah beberpa menit mereka terbuai oleh hasrat setan. Merekapun menyudahi ciuman itu, tapi mereka masih tenggelam dalam pelukan.
"Mbak ara... apa yang udah kita lakukan ini.." bisik rais dengan suara terbata bata.
Ara yang terbenam dalam pelukan rais tidak mau menjawab, dia hanya menikmati irama jantung rais yang berdetak tak beraturan.
"Mbak...apa mbak ara menerima cintaku,,apa mbak ara mau menjadi istri saya..." lanjut rais yang masih belum melepaskan pelukannya.
Seketika ara melepaskan pelukannya, sembari menjawab.
"Aku belum tau is...tapi aku juga tidak ingin kehilangan kamu... tapi alangkah baiknya kita istikharah dulu.." jawab ara.
Setela kejadian barusan ara menyuruh rais pulang.
"Pulanglah... terimakasih untuk cintamu..." pinta ara.
Raispun langsung meng iyakan, tapi sebelum rais melangkah keluar pintu, dia memegang tangan ara.lalu dia mencengkeram dagu ara, setelah itu dia mencium keningnya.
Disepanjang jalan rais berfikir, antara bahagia dan takut. Dia merasa bahagia karena cintanya dibalas oleh ara, disisi lain dia takut karena sudah melanggar norma norma agama.
__ADS_1