JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
PERSIAPAN


__ADS_3

Hari yang dinanti tiba sudah. Seperti pesan sang Umma, jika jumat minggu ini Rais akan menjemput Mila lebih awal dari biasanya. Sehingga membuat Rais memilih untuk libur berdagang susu.


Jam berdetak tepat di angka empat pagi, Rais telah bersiap-siap untuk segera menjemput sang adik tercinta. Tak lupa, Arra memakaikan jaket kulit berwarna hitam untuk sang pujaan hati.


"Abi pakai ini, diluar dingin," ucap Arra sembari memakaikan jaket ke tubuh Rais.


Rais tersenyum, lalu mrngecup kening sang istri, "makasih ya, Mi. Ummi perhatian banget sama Abi."


Dengan sengaja Arra mencubit manja perut Rais, "apaan sih Bi. Biasa aja kali," ucapnya tersipu. "Oh,ya Bi. Kenapa Umma nyuruh Abi jemput Mila lebih awal?"


Rais menggeleng, pria tampan itu nampaj sedang sibuk menyisir rambutnya.


"Emang Abi nggak dikasih tahu sama Umma, kenapa?"


"Ehm ... nggak, Abi cuma di pesan buat jemput Mila lebih awal, gitu aja, Mi."


"Yaudah, cepetan berangkat, ntar keburu siang."


"Ummi ntar kerumah Umma ya? Tapi tunggu Abi pulang dari jemput Mila."


Arra nampak mengernyitkan jidatnya, "emang ada apa, Bi?"


"Ntar Ummi juga ngerti," tukas Rais sembari menyalakan motor bebek berwarna merah.


*****


Sepeninggal Rais menjemput Mila ke pesantren. Arra nampak berfikir, apa gerangan yang membuat sang suami menjemput adik perempuannya ke pesantren lebih awal. Apalagi, saat ini Mila tengah menghadapi ujian akhir. Sepertinya tidak mungkin pulang jika tidak sedang ada sesuatu yang penting.


Cling


Sebuah pesan di gawai Arra masuk. Ibu muda itu melirik, nama Zaki terpampang di layar ponsel. Dahinya berkerut. Ia menggerutu, ada apa gerangan pagi buta begini Zaki mengiriminya pesan. Karena dirasa tidak penting, Arra pun memutuskan untuk membiarkan pesan tersebut tanpa ia buka.


Cling


Mungkin itu adalah pesan kesekian kalinya dari sahabatnya, Zaki. Dengan menganjur napas, Arra pun mulai membuka pesan tersebut.


Assalamualaikum, Ra. Kamu sibuk nggak? Pesan pertama yang memang sengaja tidak ia buka sebelumnya.


Ra, kamu sibuk nggak? Aku mau minta tolong sama kamu. Pesan kedua yang masih tidak ia pedulikan. Hingga akhirnya pesan ke tiga masuk dan ia putuskan untuk membukanya.


Ra, hari ini aku mau bertamu kerumah mertua kamu. Kata mas Rais kamu mau ikut. Aku mau tanya sama kamu, kira-kira aku sama ibuku kesana bawa apa ya, Ra. Pesan yang menohok, yang spontan bisa membuat seorang Shamira terbelalak.


Bertamu? Mas Rais tahu? Bawa apa? Pertanyaan demi pertanyaan langsung berjubel di otak ibu muda tersebut. Tanpa ba-bi-bu-be-bo ia pun menekan tombol panggilan keluar, nama Zaki pun nampak terpampang di layar ponsel.


"Zaki, maksud kamu apa? Mau bertamu kerumah mertuaku?" Seloroh Arra tanpa menguluk salam ketika Zaki menganggat panggilan masuk darinya.


"Ya bertamu, silaturahmi." Jawab Zaki simple.


"Iya, ngerti. Maksud aku, dalam rangka apa? Kenapa mas Rais juga tahu kalau kamu mau bertamu? Terus si Milq juga pulang pesantren cepat-cepat. Ada apa ini?"


Zaki terkekeh di ujung ponsel, "ada apa, Zak. Kenapa malah ketawa? Jangan bilang kamu mau melamar Mila!" Ucap Arra kesal.

__ADS_1


"Lho, emang kenapa? nggak ada salahnya 'kan kalau misal aku melamar adik iparmu?"


Arra melongo, "apa! Kamu pasti becanda 'kan?"


"Emang mas Rais nggak kasih tahu kamu, kalau aku mau melamar Mila?"


"Kalian semua jahat sama aku, kenapa hal sepenting ini, kalian nggak ngasih tahu aku? Kamu sahabatku, Zak. Rais juga suamiku, harusnya kasih tahu aku." Arra berucap dengan nada kecewa.


Tiba-tiba suasana sunyi. Beberapa menit kemudian, Arra mematikan ponselnya.


Ibu muda tersebut nampak termangu di jendela rumahnya. Matanya menatap awas ke arah gerbang rumah, seakan tak sabar menanti sang suami kembali pulang.


Selang dua jam, Rais tiba di gerbang rumah. Mulut Arra komat-kamit seperti sedangenggerutu.


"Assalamualaikum," Ucap Rais dari pelataran rumah, ketika ia mendapati sang istri tengah berdiri di balik jendela.


"Waalaikumsalam," jawab Arra malas.


"Sayang, ayo siap-siap kerumah Umma." Ajak Rais ketika sampai di dalam rumah. Matanya menatap Arra yang masih berdiri di balik jendela, masih mengenakan daster belum mandi pagi.


"Lho, kok Ummi belum siap-siap? Anak-anak udah pada bangun 'kan?"


"Siap-siap kemana? Zulfa dan Zulfi udah bangun, lagi main sama Mbak di belakang."


"Kok kemana? Kerumah Umma, sayang."


"Ngapain, Bi? Ummi lagi sibuk, hari ini mau buka praktek, Abi aja yang kerumah Umma."


"Abi? Ummi lagi malas kemana-mana."


"Iya tapi ini kerumah Umma, sayang. Masa iya malas?"


Arra bergeming, ia begitu kecewa dengan sikap sang suami yang tidak memberitahunya jika hari ini akan ada lamaran dirumah mertuanya.


"Ummi kenapa?"


"Abi yang kenapa?"


Rais mengerutkan alisnya, "kok Abi?"


"Kenapa Abi nggak kasih tahu Ummi, kalau ternyata hari ini Zaki mau melamar Mila? Kenapa, Bi?"


"Astagfirullah, Sayang. Cuma hal sperti itu?"


"Abi bilang cuma? Bi ... Zaki itu sabahat Ummi, setidaknya Abi kasih tahu Ummi, biar Ummi nggak kaya orang bodoh gini," ucap Arra sedikit kesal.


"Kok Ummi gitu? Maafin Abi kalau Abi salah sayang. Tadinya Abi pengen kasih kejutan sama Ummi, kalau Zaki hendak meminang Mila."


"Ummi bahagia jika memang Zaki mau melamar dan menikah dengan Mila. Karena Ummi tahu, Zaki itu orangnya baik. Tapi, yang Ummi sesalkan, kenapa Ummi baru dikasih tahu sekarang?"


"lya, maafin Abi, Mi."

__ADS_1


Arra mendengkus kesal, ia meninggalkan Rais masuk kedalam kamar.


Rais mengekori Arra, "yaudah kalau Ummi nggak mau maafin Abi, Abi bakal sekap Ummi seharian di kamar. Biar ntar Zulfa dan Zulfi punya adik, mau?"


"Ish ... Abi, yaudah Ummi mandi dulu, siap-siap."


"Gitu dong, itu baru Umminya Zulfa dan Zulfi."


****


Rumah orang tua Rais dan Mila nampak ramai, sanak saudara dekat berkumpul. Ada yang membuat juada, ada pula yang menggelar karpet di ruang tamu.


Mila nampak termangu, gadis cantik itu diam seribu bahasa di dalam kamar. Ia masih saja memikirkan obrolannya dengan sang sahabat, Jayanti. Di lubuk hatinya, ia tidak mau tergesa-gesa dalam menjalin hubungan, apalagi tentang sebuah pernikahan. Namun, di hati yang terdalam, nampaknya Mila memang menginginkan sosok Zaki sebagai pelabuhan terakhirnya.


"Ndug Mila? Apa kira-kira kamu bakal nerima lamaran nak Zaki?" Suara sang Umma membuyarkan lamunannya, gadis itu segera berjingkat dari duduknya.


"Mila nggak tahu, Ma. Mila ikut kata Umma saja," tukasnya lirih.


"Lho, yang mau menikah dan menjalani hubungan itu kamu, bukan Umma atau yang lain."


"Lalu, kenapa Umma mengijinkan Zaki serta keluarganya datang kerumah?"


Umma menganjur napas berlahan, "Umma sebenarnya nggak tahu, siapa nak Zaki. Tapi, Umma dengar cerita dari mas mu Rais, katanya dia adalah lelaki baik. Apalagi, nak Zaki itu kawan dekat nak Arra. Jadi, Umma mengijinkan dia serta keluarganya bertamu kerumah kita."


"Kalau begitu, Umma menyetujuinya untuk menjadi pendamping Mila?"


"Kalau itu, Umma serahkan sepenuhnya sama kamu, Ndug. Umma nggak mau memaksa."


"Tapi, Ma. Bagaimana jika nanti Zaki serta keluarganya kecewa?"


"Mereka salah jika kecewa atas keputusanmu."


"Maksud Umma?"


"Ya ... karena Umma sudah katakan sama nak Zaki lewat telepon, jika putri Umma ini masih mau melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi."


"Lalu, dia bilang apa sama Umma?"


"Ya, dia bilang, pengen denger langsung dari kamu, keputusannya seperti apa. Ya, Umma bilang, monggo kalau emang mau denger langsung. Monggo silaturohmi kerumah. Apa kata-kata Umma ada yang salah?"


Mila menggeleng, "tapi nggak seharusnya jugu Umma nyiapin segalanya kaya gini?"


"Wis udah, kamu siap-siap aja dulu. Pukul sembilan, keluarga nak Zaki sampai disini."


🌷🌷🌷🌷


Jangan lupa mampir karya baruku ya. Judulnya, 'ISTRI SIMPANAN'


Makasih


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, ISTRI SIMPANAN, di sini dapat lihat: http://h5.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1527205&\_language\=id&\_app\_id\=1

__ADS_1


__ADS_2