JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
AKU HANYA MILIKMU


__ADS_3

Rais menatap sang istri dan ayah Mayra secara bergantian. Mendadak suasana hening, hanya terdengar denting jam dinding yang mengisyaratkan bahwa ia masih menyala.


"Obat Mayra hanya ada dalam diringmya sendiri, bukan saya, Paman." ucap Rais tegas.


"Tapi tiap hari dia memanggil nama kamu, Is."


"Jika saya menemui Mayra, lalu putri Paman tersebuf membaik. Saya yakin setelah itu dia akan menahan saya untuk pergi." Ucap Rais, " apa Ummu juga ridho jika Abi dihalangi untuk pulang?" Tanya Rais kepada Ara.


Wanita cantik igu menatap lekat kedua mata Rais. Ia nampak menggeleng kuat-kuat ketika sang suami bertanya padanya.


"Lalu? Kenapa Ummi nyuruh Abi buat ke rumah Mayra sama Paman?"


"Ummi hanya kasihan dengan keadaan Mayra, Bi."


"Abi juga kasihan dengan Mayra. Tapi, alangkah baiknya jika rasa kasihan kita tersebut, dengan cara mendoakan kesembuhan untuk Mayra. Bukan dengan cara menemuinya. Abi tidak mau hal-hal diluar kendali Abi terjadi." Ucap Rais, " mohon maaf Paman. Saya menghargai ajakan Paman. Tapi saya tidak bisa menjenguk Mayra. Dia bukan siapa-siapa saya jika pun dia harus sembuh. ltu semua harus dari diri dia sendiri. Tanpa harus ada embel-embel Rais." Lanjutnya.


"Sekali ini saja, ls." Tawar ayah Mayra. Kali ini lelaki baya itu benar-benar menjatuhkan harga dirinya.


"Mohon maaf Paman. Saya harus menjaga hati istri saya. Dan lagi, Mayra itu bukan siapa-siapa Rais. Jadi, Rais harap Paman mengerti dengan keputusan Rais." ucapnya tegas. Hingga membuat ayah Mayra lagi-lagi geram.


Ayah Mayra pulang tanpa membawa Rais. Tadinya dia ingin sekali memaki laki-laki penjual susu tersebut. Namun, segera ia urungkan niatnya. Baginya saat ini, keputusan Rais adalah sebaik-baik keputusan.

__ADS_1


Tapat pukul tiga malam, lelaki baya itu masuk dalam rumahnya, ia berjalan menuju kamar sang putri, dimana saat ini sudah ada sang istri menemani Mayra tidur malam ini.


Mayra nampak terlelap, ia nampak memeluk guling kesayangannya yang selalu menemani tidurnya. Ayah Mayra melangkah masuk dengan begitu pelan, tak ingin membuat istirahat sang putri terganggu. Namun, ternyata usahanya sia-sia. Semenjak Mayra depresi, ia begitu peka dengan kedatangan seseorang.


"Mas Rais." Ucapnya mengagetkan sang ayah.


Ayah Mayra menghentikan langkahnya. Kali ini ia menatap sendu kedua bola mata Mayra yang nampak sayu. Mata panda melingkar tegas di kedua area matanya.


"Putri Abu belum tidur, Nak?" Tanyanya lirih, membangunkan sang istri yang tengah tidur disamping Mayra.


Mayra menggeleng pelan, "Mas Rais mana?"


"Rais sedang sibuk, mungkin ... besok baru kesini. Sekarang, kamu tidurlah. lni sudah larut malam."


***


Pagi menyapa Bumi, Kali ini langit nampak cerah bersinar, embun pagi sejuk, angin dingin tanda bahwa sisa-sisa hujan semalam masih terasa. Terlihat kediaman Rais dan Ara nampak sudah riuh. Pagi ini, Rais tengah menyiapkan pesanan susu yang semakin membludak. Sedangkan Ara yang kian hari perutnya kian buncit, hanya bisa melihat keruwetan sang suami dan dua orang pegawainya tengah berkutat dengan beberapa baskom besar yang berisi susu.


Usaha Rais kian hari semakin pesat. Usaha yang dirintis dari penghasilan yang tidak seberapa. Kini, ia bisa mempekerjakan dua orang untuk membantu mengolah susu.


Usai memasukkan susu dalam beberapa botol, Rais terlihat menghampiri Ara yang tengah duduk menatapnya.

__ADS_1


"Sayang, hari ini pesanan susu Abi lumayan banyak, jadi, Abi berangkat ngidernya lebih awal, ya?" Rais berucap ketika langkahnya sampai di depan Ara.


Ara mengangguk tersenyum, "Abi ... maafin Ummi ya, sebab, semalam sudah menyuruh Abi ketemu Mayra. Ummi bingung, Bi. Mungkin Ummi merasa iba sama dia." Ucap Ara sembari menatap kedua bola mata Rais.


Rais mengambil posisi duduk disamping Ara, "nggak apa-apa, sayang. Tapi, Abi harap selanjutnya Ummi akan bersikap seperti waktu Mayra kerumah kita. Abi tidak mau rumah tangga kita hancur hanya karena kelakuan orang ketiga. Terlepas itu Mayra atau bukan. Jujur, Mi. Abi nggak mau berpaling dari Ummi. Apapun keadaannya." Rais berucap sembari menatap lekat manik sang istri, jemarinya menggenggam erat buku-buku tangan Mayra.


"Insha Allah, Bi. Semalam, Ummi hanya berfikir bagaimana keadaan Mayra. Ummi nggak tega aja. Walau sebenarnya hati Ummi ingin berkata tidak."


Rais merangkul Ara, "kita kekamar, nggak enak disini, ada orang-orang." Ucap Rais sembari mengajak Ara ke kamar.


Ara memeluk erat tubuh Rais ketika sampai dikamar. Perempuan cantik itu meneteskan airmatanya di punggung suami tercintanya, "jujur, Ummi takut kehilangan Abi. Terlebih dengan adanya Mayra. Ummi sebenarnya takut, Bi."


"Ssttt ... jangan bilang gitu, Ummi harus tahu, Abi hanya milik Ummi, apapun yang terjadi. Untuk Mayra, dia hanya masalalu, bahkan setelah orang tuanya menghina keluarga Abi, sedikitpun tidak ada ruang dalam hati untuk Mayra. Karena Abi sadar, jika kami ditakdirkan bukan untuk menjadi pasangan."


"Tapi Ummi takut, Bi. Pikiran Abi akan berubah."


"Insha Allah tidak, Mi. Abi bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta. Apalagi Abi bukanlah orang yang mengagung-agungkan poligami. Bukan Abi menampik sunnah yang satu itu. Namun, Ummi harus paham. Abi bukanlah manusia lilihan untuk menjalani hal tersebut. Percayalah, Abi hanya milik Ummi, kita akan selalu bersama, sehidup dan sesurga. Insha Allah."


Ara mempererat pelukannya. Betapa ia sangat bersyukur memiliki suami seperti Rais. Meskipun sempat tiga kali Rais membohonginya, mungkin waktu itu Rais bingung harus jujur kepada Ara. Ia takut, sang istri akan marah ketika ia punya masalalu.


"Terimakasih untuk cinta dan kasih sayang Abi. Maafkan atas segala kekurangan Ummi."

__ADS_1


"Abi juga terimakasih sebab Ummi sudah sudi mau berumah tangga dengan Abi. Ummi nerima cinta Abi dan mau serumah dengan Abi saja, Abi sudah sangat bersyukur. Betapa jahatnya Abi, jika sampai menghinati kepercayaan Ummi."


Pagi yang mengesankan, dua insan tersebut tenggelam dalam cinta dan kasih sayang. Rais meraih bibir Ara yang nampak basah oleh airmata dengan bibirnya. menciumnya dengan amat manis.


__ADS_2