JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
KARENA AKU ISTRIMU


__ADS_3

Setelah terjadi perdebatan sore tadi, kini nampak dua pasangan itu tengah berjalan menuju kamar tidur. Seperti masih canggung, Rais bingung harus berlaku apa terhadap istrinya tersebut. Sedangkan Ara nampak terlihat biasa saja, seperti tidak terjadi sesuatu antara dirinya dengan Rais tadi sore.


"Abi kenapa?" Tanya Ara menatap Rais yang masih duduk dibibir dipan.


"Maafin Abi, Mi. Hari ini, Abi sudah terlalu banyak menyakiti hati Ummi." Jawab Rais lirih. Lelaki itu masih belum berani naik keatas ranjang.


Ara beringsut kearah Rais yang masih duduk dipojokan dipan. "Abi? Ummi udah maafin Abi. Tapi, Ummi harap jangan ada kebohongan-kebohongan lagi diantara kita Bi Ummi tidak mau itu terjadi. Sesakit apapun itu, Abi harus jujur kepada Ummi." ucap Ara panjang lebar.


"Insha Allah, Mi. Abi akan selalu ingat kata-kata Ummi, Abi juga berjanji kalau Abi tidak akan berhubungan dengan Mayra, mau itu via telpon atau yang lain."


Ara tersenyum manis, jemarinya memegang jemari Rais yang terasa sedikit bergetar ditambah dengan keringat dingin mengucur dari telapak tangan laki-laki itu.


"Abi kenapa?" tanya Ara lirih. Wanita itu menatap dalam wajah Rais.


Rais tak menjawab, airmatanya yang sedari tadi dibendungnya. Kini tumpah dihadapan sang istri. Lelaki itu benar-benar merasa bersalah.


Ara pun memeluk Rais yang terlihat menangis. Ia mencoba menenangkan hati Rais. "Udah, Bi? Kita anggap kejadian kemarin itu nggak pernah terjadi dalam rumah tangga kita. Kita mulai dari awal lagi, ya?"


"Abi sungguh minta maaf, Mi. Abi malu kepada Ummi. Begitu sabarnya Ummi menghadapi suami seperti Abi. Yang belum apa-apa, bahkan belum bisa membahagiakan Ummi, udah berani nyakitin Ummi. Maafin Abi." Pekik Rais.


"Abi ngomong apaan sih? Udah lupain semua." Tutur Ara, "Abi... Emang sampai kapan Abi mau meratap gini? Kalau kaya gitu, kapan kita punya momongan." lanjut Ara.


Rais tersenyum sembari mengusap airmatanya.


"Iya, nggak seharusnya laki-laki meratap ya, Mi."


Malam semakin temaram, didalam kamar yang berukuran sekitar empat kali empat meter persegi itu, sedang terdengar diskusi mengenai anak masadepan mereka.


"Ummi pengennya punya anak cewe apa cowo?"


"Kalau Ummi terserah Bi. Sedikasihnya sama Allah."


"Abi juga Mi. Tapi kalau boleh Abi menawar. Anak pertama Abi pengen perempuan."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Sebab, Abi pengen anak kita banyak belajar tentang arti kesabaran dari Umminya."


"Abi bisa aja."


"Abi serius, Mi. Jarang ada wanita selembut Ummi dan sebaik Ummi. Bahkan, Ummi tidak pernàh mempermasalahkan latar belakang Abi."


"Kenapa harus dipermaslahkan?"


"Ya, kebanyakan orang bermateri itu, mereka pasti mempermaslahkan materi, Mi."


"Itu bagi sebagian orang Bi, tidak berlaku untuk Ummi. yang penting bagi Ummi adalah kesetiaan, ketulusan, serta unggah-ungguhnya. Dan yang utama adalah keimanannya. Kalau ada yang lebih dari itu, maka Ummi anggap itu bonus untuk Ummi."


"Masha Allah Ummi. Sungguh merugi, jika Abi menyia-nyiakan wanita sebaik Ummi."


"Abi gombal." tutur Ara sembari mencubit perut Rais, hingga meninggalkan bekas sakit.


"Abi serius, sayang." Kali ini Rais mulai mencium pipi Ara.


Ara tak dapat menolaknya, sebab dia juga sedang rindu dengan sentuhan Rais.


Rais tak tinggal diam. Lelaki itu mencoba untuk meraba tiap inci tubuh sang istri yang masih terbalut oleh baju tidur.


Dengan cekatan, Rais mencoba membuka satu demi satu kancing baju Ara, namun masih jelas jika ciuman mereka belum lepas.


"Sayang, boleh Abi menikmati ini?" ijin Rais kepada sang empunya gunung kembar.


Ara hanya mendesah tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hingga membuat Rais tenggelam dibagian dada sang istri.


Tak puas dengan apa yang Rais lakukan. Tangannya pun meraba bagian intim, menyusuri sesuatu yang membuat Ara jatuh diatas lembah kenikmatan.


Hampir dua jam mereka menikmati indahnya cengkraman satu dan yang lainnya. Hingga pelum membanjiri badan mereka masing-masing. lengkuhan napas yang tak beraturan saling berkejaran antara Rais dan Ara.


Kini keduanya nampak lelah diatas peraduan. Sayup-sayup pandangan keduanya nampak saling beradu dengan dipoles senyum kebahagiaan. Hingga akhirnya mereka pun tak dapat menepis rasa kantuk yang menggelayuti sisi matanya. Rais dan Ara tenggelam dalam mimpi masing-masing dengan badan tanpa secari pakaian, kecuali hanya dibalut selimut.


****

__ADS_1


Pqgi nampak indah, kicauan burung pipit saling bersahutan diantara pepohonan yang rindang. Dari dalam rumah, nampak Ara dan Rais tengah sibuk dengan kegiatan biasanya. Membuat susu untuk mereka jajakan nanti siang.


"Abi... Seperti biasa nanti Ummi ke Al-Aqsho, ya?"


Hati Rais langsung bergemuruh, batinnya bertanya-tanya, apakah sang istri akan bertemu kembali dengan masalalunya?


Tak ingin hal itu terjadi, akhirnya Rais pun meminta Ara supaya berdiam diri dirumah saja. Namun, ternyata upaya Rais gagal. Wanita cantik itu tetap meminta kepada Rais agar diijinkannya menjajakan susu di area masjid tempat biasa ia dan Rais berdagang.


"Abi takut Ummi capek, sayang." kilah Rais. Hatinya berdetak tak beraturan, rasa takut akan pertemuan sang istri dengan Mayra menyelimuti pikirannya.


"Ummi dirumah jenuh, Bi. Lagian masjid dari rumah nggak jauh, cuma sepupuh menit aja naik motor."


Rais mengembuskan napasnya secara berlahan. "Mi, Abi mohon jangan menentang permohonan suamimu ini ya?"


Kata-kata yang benar-benar tak bisa jawab. Wanita itu paling takut jika dirinya tak bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya.


"Yaudah, kalau gitu Ummi dirumah aja. Maaf ya, Bi. Udah kekeuh tadi."


"Nggak apa-apa, sayang. Abi hanya tidak mau istri Abi yang sholehah ini kecapekan."


****


Sehabis sholat dzuhur, Rais pun segera meminta ijin kepada Ara untuk menjajakan susu dagangannya. Lelaki itu berinisiatif untuk mengunjungi Al-aqsho sebelum menjajakan susu ke perumahan-perumahan di daerah Tempur. Karena memang banyak pelanggan Rais yang berasal dari area masjid dan perumahan.


"Hati-hati ya, Bi. Jaga hati dan pandangan." Canda Ara ketika memasukkan botol-botol susu ke dalam keranjang dagangannya.


"Kok Ummi berkata kaya gitu? Abi ini nggak akan lirik-lirik siapa pun kecuali Ummi," balas canda Rais sembari memencet lembut hidung sang pujaan hatinya.


"Ya, kan Ummi istri Abi. Wajar dong kalau Ummi berpesan kaya gitu. Apalagi di Al-aqsho Ummi pernah bertemu masalalu, Abi."


"Astagfirullah, Ummi. Abi nggak mingkin ketemu Mayra. Sungguh."


"Iya, Ummi percaya sama Abi. Wong Abi bohong aja Ummi percaya." Ara tertawa renyah.


"Wis ... wis ... wis, Mi. Jangan diterusin candaannya. Udah siang keburu pelanggan pada ngacir."

__ADS_1


"Yaudah, pokoknya Abi hati-hati. Nanti pas Abi pulang, Ummi udah masakin yang spesial buat Abi."


__ADS_2