JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
MURKA


__ADS_3

Dua hari berlalu semenjak pesan Mayra dikirim kepada Rais. Terlihat jelas, lelaki itu masih nampak diselimuti kemurungan. Sehingga menjadikan sang istri ikut menebak-nebak, apakah gerangan yang tengah dipikirkan sang suami.


Fajar telah menyingsing. Cahaya mentari kian mencakar permukaan bumi. Ara nampak sedang membereskan perabotan bekas pengolahan susu beberapa waktu tadi. Sedangkan Rais nampak sedang membantu Ara menyapu rumah bagian depan.


"Abi?" Panggil Ara ketika sudah membereskan perabotannya.


"Iya, Mi?"


"Ummi ingin bicara sama Abi, serius." Ucap Ara menghampiri Rais yang tengah berada di beranda rumah.


"Bicara? Seperti serius sekali?"


Ara tersenyum. "Iya."


Ara terlihat menganjur napas, lalu mengembuskannya dengan berlahan. Pandangannya jatuh di atas ubin tepat disamping ia duduk.


"Bicara lah, Mi. Abi akan menjadi pendengar Ummi."


Tanpa basa basi, Ara pun melayangkan sebuah pertanyaan kepada Rais.


"Jujurlah sama Ummi. Kenapa beberapa hari ini Abi nampak murung? Apa yang sedang Abi pikirkan?"


Dada Rais bergetar, bahkan bibirnya terkunci rapat. Lelaki itu bingung harus bercerita dari mana. Menceritakan tentang keadaan Mayra? Apa mungkin Ara akan mengerti? Begitulah kira-kira perasaan Rais.


"lni tentang Mayra, Mi."


Aliran darah Ara seketika terasa berhenti. Bak disambar petir siang bolong. Kata-kata Rais barusaja seakan menghunus jantung Ara. Namun wanita itu tetap berusaha terlihat tidak apa-apa.


"Kenapa dengan Mayra, Bi? Apa dia baik-baik saja?" telisik Ara.

__ADS_1


"Mayra sakit, Mi. Abi bingung, dari kemarin mau jujur sama Ummi tentang keadaan Mayra. Tapi, Abi takut Ummi salah sangka."


"Dia menghubungi Abi?" tanya Ara lembut, bahkan sebuah simpul senyum ia layangkan kepada sang suami.


Dengan tàku-takut, Rais memberanikan diri untuk berkata jujur kepada Ara dengan cara mengangguk.


Ara kembali tersenyum, "gitu kan enak, Bi. Abi udah jujur sama Ummi, walau harus nunggu Ummi yang tanya duluan."


Ara bergegas dari hadapan Rais. Langkahnya berlalu menuju kamar.


Rais pun memngekori Ara, "Ummi mau ngapain?"


"Ummi mau beres-beres lemari, Bi?"


"Kan lemarinya masih rapi, Mi?"


Ara menghentikan kegiatannya. "Hati Ummi yang nggak rapi, Bi." Ucapnya tersenyum.


Ara menghampiri Rais yang tengah berdiri disudut lemari.


"Mungkin selama ini Ummi hanya pelarian Abi. Ummi nggak faham, dan memang nggak mau tahu tentang itu. Sejak Abi memutuskan untuk berbohong kepada Ummi. Ummi berfikir, Bi. Pernikahan yang hanya dilandasi kebohongan, akan berakhir dengan kehancuran. Tapi, Ummi nggak mau pernikahan kita hancur."


"Maksud Ummi, apa? Ummi cemburu sama Mayra?"


"Kenapa Abi bertanya seperti itu?"


"Abi kan sudah bilang sama Ummi, Abi nggak ada hubunga apa-apa sama Mayra, Mi."


"Mulut dan hati Abi nggak sejalan. Mulut Abi ngomong apa, hati Abi ngomong apa!"

__ADS_1


"Mi? Kita bisa bicarain ini baik-baik."


"Lho? Bukannya dari tadi kita ngomong baik-baik, Bi." Ara mengeluarkan sebagian pakaiannya dari dalam lemari.


"Haram hukumnya, jika Ummi pergi dari rumah tanpa seijin suami!" Tukas Rais. Membuat Ara menghentikan kegiatannya.


"Haram, Bi?"


Rais terdiam.


"Abi bilang haram? Kalau Abi tahu ini dan itu haram, kenapa Abi mencoba sesuatu yang bisa membuatku melangkah dalam hal keharaman, Bi?"


Mendadak suasana hening. Rais terlihat bersimpuh dihadapan sang istri. Namun, Ara mencoba untul tetap tegar dan tegas.


"Bersimpuhlah sama Allah, Bi. Mintalah pada.Nya untuk meneguhkan pilihanmu. Dia yang Maha membolak balikkan hati Ummatnya."


"Ummi akan meninggalkan Abi?"


"Kita butuh menenangkan diri, Bi. Abi tenang saja, Ummi tidak akan pulang kerumah orang tua Ummi. Ummi nggak mau papa sama mama tahu masalah kita. Biarkan sementara Ummi kembali ke kontrakan lama Ummi."


"Nggak bisa, Mi. Ummi harus tetap dirumah ini!" pekik Rais.


"Hatiku bukan tempat pelampiasanmu, Is! Aku manusia biasa, akan merasakan sakit hati ketika pasangannya memikirkan wanita lain!"


"Ini nggak seperti yang Ummi bayangin!"


"Terus bayangku harus seperti apa!" pekik Ara, air mata mulai membasahi kedua pipinya.


"Mi ... Abi mohon, maafin Abi? Abi janji nggak akan memikirkan Mayra lagi."

__ADS_1


"Bohong!" Sentak Ara. "Udah cukup, selama ini aku kamu bohongi! Sakit Is, sakit! Sekarang biarin aku pergi dari rumah ini, aku butuh ketenangan. Dan kamu, jika masih memikirkan Mayra, aku yang akan pergi dari hidupmu."


Ara berlalu dari hadapan Rais yang masih dalam posisi setengah berdiri dalam kamar. Wanita itu benar-benar pergi dari rumah. Hatinya hancur, ketika tahu, jika suaminya memikirkan wanita lain selain dirinya.


__ADS_2