JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
SUAMI IDAMAN


__ADS_3

Hari berganti, bulan pun berlalu. Kini, Zulva dan Zulvi sudah memasuki usia tiga bulan. Kerempongan kerap menyeliputi keluarga Rais dan Ara. Namun, mereka berdua nampak menikmati proses demi proses tersebut. Apalagi peran seorang Rais dalam keluarga tersebut amatlah membantu. Ayah si kembar itu tidak pernah mengeluh dengan apa yang ia kerjakan tiap hari. Mulai dari menyiapkan suau dagangannya, membantu Ara mencuci, membereskan rumah hingga menjaga kedua buah hatinya.


Pagi ini, Rais dan Ara terlihat tengah bersiap siap untuk pergi ke rumah sakit, sebab jadwal hari ini adalah imunisasi DPT / Polio 2 untuk duo Zul. Kerempongan pun tidak pernah ketinggalan ditengah tengah keluarga kecil itu. Ara yang sedang mendanddi sang kakak Zulva, sedangkan Rais memilihuntuk mendandani sang adik Zulvi.


"Sholihahnya Abi dan Ummi, hari ini kalian mau imunisasi. Abi harap, kalian jangan rewel, ya? Soalnya, Abi sedikit sibuk, Nak. Kalau kalian rewel. Kasihan Ummi kalian." Ucap Rais sembari memakaikan jilbab pink kecil kepada Zulvi.


Bayi itu nampak mengerti jika dirinya diajak komunikasi oleh sang ayah. Ia terlihat senyum hingga tergelak. Berceloteh ria seperti kebanyakan bayi-bayi lain pada umumnya. Namun tidak dengan sang kakak Zulva, bayi itu nampak tertidur setelah buang air besar dan minum susu.


"Oh, ya, Bi. Tadi istrinya Andre telpon. Mau kasih tahu, kalau ada yang minat kerjasama dengan kita." Ucap Ara sembari memakai baju putih.


"Alhamdulillah, nanti Abi voba telpon Andre ya, Mi."


"Iya. Bi? Emangnya hari ini setelah imuninsasi Abi mau kemana?"


"Ya seperti biasa, Mi. Ngider. Emang ada apa?"


"Ummi jenuh, pengen ajak Zulva dan Zulvi jalan-jalan, Bi."


"Emh, yaudah hari ini pulang dari imunisasi kita jalan-jalan, tapi bentar ya? Kasihan mereka habis imunisasi."


Ara mengembangkan senyum, lalu tanpa pamit kepada Rais, ia mencium pipi sang suami, "makasih, Bi."


"Lho ... istri Abi mulai nakal nih, main cium-cium di depan anak-anak. Nggak malu, ya?" goda Rais.


"Kan Abi yang ngajarin." Ara ngeles.


***


Setelah pulang dari imunisasi, Rais mengajak Ara dan duo Zul jalan-jalan sebentar. Sebelum pada akhirnya, mereka kembali kerumah.


Setibanya dirumah, ada sebuh motor bebek nampak terparkir di halaman rumah mereka.


"Siapa ya, Bi?"


"Siapa ĺagi, paling juga Mila, Mi. Kelihatan dari motornya."


Benad saja, Mila terlihat sedang mengambil jambu kristal yang berdiri kokoh disamping rumah mereka.


"Assalamualaikum." Ucap Ara mengagetkan Mila yang sedang kesusahan mengambil jambu dengan gala.


"Waalaikum salam, Mbak Ara ... mana duo bocil?"


"Duo bocil?" jawab Ara penasaran.


"Ponakan cantikku."


"Udah masuk rumah, lagi bobok. Kamu lagi ngapain, Dek?"


"Tuh ... tinggi banget, susah ngambilnya."


"Makanya, jadi orang tuh tinggi, jangam imut." goda Ara sembari meraih gala yang dipegang Mila, mencoba mengambilkan jambu yang sudah ditunjuk oleh sang adik ipar.

__ADS_1


"Mbak Ara? Mila mau ngomong sama Mbak."


"Yaudah ngomong aja. Ada apa?"


"Mila pengen jadi dokter kaya mbak Ara. Mila kan sudah kelas tiga SMA."


Ara menghentikan aktifitasnya, lalu melangkah duduk di sebuab batu yang tak jauh dari pohon jambu. "Bagus kalau gitu, nanti, Mbak kasih buku-buku kedokteran buat kamu. Rencana kamu mau kuliah dimana?"


"Bener ya Mbak? Kasih mila buku-bukunya?"


"Iya ... emang mau kuliah dimana?"


"Emh, UGM, Mbak. Mila udah lihat-lihat apa aja persyaratannya masuk sana."


"Yaudah kamu harus bener-bener rajin belajar."


"Pasti itu Mbak."


Ditengah-tengah obrolan mereka, Rais memecah keseriusan yang terjafi diantara Mila dan Ara.


"Ngobrol opo toh, asik bener. Ayo masuk rumah, diluar panas. Biar nanti Mas yang ambilin jambunya." Ucap Rais.


"Abi ih, kepo ama urusan wanita." Ucap Ara tertawa.


"Bocil ditinggal sendiri, Mas?" Tanya Mila sembari berdiri.


"Iya lagi bobok."


"Mila! biarin mereka bobo, Nduk. Jangan di ganggu, Abi sama Umminya lagi pengen pacaran." Seru Rais kepada Mila yang sudah berlenggang masuk dalam rumah. "Dasar bocah."


Ara tersenyum, "lagian Abi, nggak mungkin juga Mila gangguin mereka. Paling seperti biasa, Mila numpang tidur di sebelah Zulva dan Zulvi."


"Haduh." Ucap Rais.


"Kenapa Bi."


"Tadinya, Abi pengen dimanja sama Ummi kalau mereka berdua udah bobok. Malah penggagunya dateng."


"Maksud Abi?"


"Minta jatah preman, Mi. Udah seminggu nggak dijatah."


Ara tergelak, "Abi apaan sih! Emangnya pake di hitung."


"Ya dihitung lah. Tadi malem mau minta, Ummi bobonya pules, Abi nggak tega bangunin." Ucap Rais malu-malu.


"Lagian Abi, kalau emang mau, tinggal bilang aja sama Ummi." Ucap Ara masih tertawa, "emh, Bi? Maafin Ummi ya?" tiba-tiba Ara serius.


"Maaf kenapa sayang?"


"Ya, nggak seharusnya Ummi melupakan kewajiban Ummi untuk memanjakan Abi. Dosa banget Ummi, Bi. Maafin Ummi ya?"

__ADS_1


"Huss ... Ummi nggak salah ngapain minta maaf, Abi ngerti gimana rasanya jadi Ummi. Ummi udah lelah dengan anak-anak kita. Bagi Abi, kesehatan Ummi nomor satu. Masalah yang lain, kalau memang ada wkatu dan tidak capek, ya ... ayo hajar aja." Ucap Rais tertawa.


"Ih, Abi. Orang Umminya serius."


"Lho, emang Abi nggak serius? Udah ayo masuk, Abi udah bikinin susu buat Ummi." Ajak Rais sembari meraih jemari Ara.


Sesampai didalam rumah, mereka menghampiri Mila yang ada didalam kamar mereka.


"Tuh kan bener, Bi. Mila ngorok," ucap Ara terkekeh.


Sudah biasa, adik ipar Ara tersebut setiap kali berkunjung dan menjaga dua buah hati Ara pasti akan ketiduran hingga pulas.


"Yaudah, Ummi duduk dulu di sofa, Abi ambilin susunya." Ucap Rais, berlalu ke ruang dapur.


Ara nampak mengoyang-goyangkan kepalanya kekanan dan kekiri. Kakinya ia selonjorkan di sofa. Rais yang melihat sang istri seperti itu, berinisiatif untuk memijatnya.


"Ini Mi, sususnya." Rais berucap sembari menyodorkan segelas susu hangat bikinannya.


"Makasih ya, Bi. Abi mau kemana?" Ucap Ara ketika Rais berjalan menuju kamar. "Udah Bi, jangan ganggu mereka."


"Ambil ini, Mi."


"Minyak kayu putih? Abi masuk angin? Sini biar Ummi kerokin."


"Bukan, Abi sehat Mi. Ummi yang harus Abi pijitin kaki dan tengkuknta kayanya capek banget." Ucap Rais sembari duduk dan meraih kaki Ara untuk segera ia pijat.


"Nggak usah kali Bi. Ummi nggak capek kok."


"Yang tahu Ummi tuh Abi, udah diem. Nikmati saja sentuhan Abi. Kalau Ummi ngantuk tidur." Ucap Rais tersenyum.


Ara benar-benar menikmati pijatan Rais. Hingga ibu dari dua anak kembar tersebut lelap hanya hitungan menit.


Setelah Ara tidur pulas, Rais tidak ikut beristirahat. Lelaki itu mengecek keadaan dua buah hatinya ke kamar. Di rabanya setiap kepala sang bayi, takut demam akibat dari imuninasi. Nampaknya masih normal, sebab Rais tersenyum. la tak lupa berbisik kepada Zulva dan zulvi, jia ia akan mencafi nafkah untuk mereka.


Benar saja, setelah Ara dan dua putri cantiknya saling terlelap, Rais pun segera ke rumah produksi yang terletak di samping kanan rumahnya, mengecek pegawainya dan siap membantu.


"Yang untuk ke perumahan sama Al-Aqsha udah siap, Han?" Tanya Rais kepada salah satu pegawainya.


"Enggih sampun siap, Mas Rais. Tinggal nunggu Makruf saja." Ucap pegawai tersebut.


"Makruf kemana?"


"Nganter pesanan ke desa sebelah."


"Yasudah untuk perumahan sama Al-Aqsha biar saya yang ngider."


"Lah mboten nopo-nopo, Mas? Nanti saja nunggu Makruf, paling bentar lagi udah pulang."


"Nggak apa-apa, kasihan Makruf juga, yang ini kan?"


"Enggeh Mas."

__ADS_1


Rais oun segera menata susu-susu tersebut kedalam ranjang yang sudah bertengger diatas motor bebeknya. Setelah semua siap dan lengkap, kini waktunya ia mengais rejeki. Sebelum berangkat, ayah dari dua orang putri itu nampak merapal doa.


__ADS_2