
Seminggu setelah kedatangan Zaki kerumah Ara. Kali ini rupanya giliran Ara dan Rais lah yang bertandang kerumah sang sahabat. Bukan hanya mereka berdua. Namun, ada Mila dan juga duo Zul disitu. Ara yang memang sudah kenal dengan ibunda Zaki. Sekonyong-konyong memeluk tubuh renta tersebut dengan begutu erat.
"Beneran, ini Mira yang dulu suka nangis kalau di kejar-kejar kucing?" Tutur ibu Zaki terheran-heran.
"lya, Tante. Ini Mira, Shamira. Masa tante lupa?" jawab Ara tersenyum. Jemarinya masih tegas berada di pundak ibunda Zaki.
"Kok kamu cantik?"
"Ih ... tante bisa aja! Oh, ya? Kenalin, ini suami Mira, mas Rais ... dan___" kata-kata Ara terhenti ketika melihat sosok Mila ternyata sedang mendorong kereta bayi kearah taman disamping rumah Zaki.
"Itu? ltu siapa?" tutur ibu Zaki.
"Oh, iya. Itu Mila. Adik Mas Rais, Tan."
"Ayo mari, silahkan masuk. Zaki masih ganti baju." Ucap ibu Zaki sembari mempersilahkan Ara dan Rais masuk.
Ara yang tengah melihat sang adik ipar nampam menikmati suasana hunia tersebut, melangkah dan segera mengajak Mila masuk dalam rumah.
"Wah, adik kamu cantik, Mir." Ucap ibu Zaki, ketika Mila nampak bersalaman dan tersenyum ramah.
Mila nampaknya belum tahu, jika rumah minimalis tersebut adalah rumah oemuda yang sempat ia temui seminggu lalu di kediaman sang kakak.
Sembari menunggu Zaki yang sedang berganti baju, kedua keluarga itu nampam berbincang-bincang.
"Apa kamu punya saudara yang kembar? Kok bisa punya anak kembar gini, udah gitu cantik-cantik. Persis kaya kamu waktu kecil dulu." Ucap ibu Zaki sembari menimang Zulva di pangkuannya.
"Nggak sih, Tan..Cuma Mas Rais yang katanya ada sodara yang kembar. Iya nggak Bi?" Ucap Ara yang di jawab dengan anggukan serta senyuman oleh Rais.
Ditengah-tengah mereka sedang asik berbincang, Zaki keluar dari pintu kamar.
"Hei ... apakabaf?" ucap pemuda tampan itu sembari berjalan menuju Rais yang tengah duduk.
"Alhamdulillah, baik, Mas. Mas Zaki apa kabar?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, sehat juga."
Kini dua keluarga itu tengah berbincang hangat, sembari mengingat masa-masa kecil Zaki dan Ara yang saling mengisi.
Tatapan Zaki tak lepas dari gadis ayu berbaju ungu yang tengah sibuk mengajak keponakannya bermain boneka kecil. Hati Zaki seakan berdesir ketika melihat betapa ayu dan kalemnya gadis yang duduk dihadapannya itu. Ingin menyapa, tapi ada rasa gugup yang mengintainya. Zaki hanya bisa mencuri pandang dikala Mila menundukkan pandangannya.
"Oh, ya? Mila masih sekolah? atau udah kuliah?" Tanya ibu Zaki.
"Sekolah, Bu." Jawab Mila tersenyum.
"Kelas berapa?"
"Kelas tiga SMA."
"Wah, bentar lagi udah lulus, ya? Mau lanjutin kemana?"
Mila terdiam, kini pandangannya ia lempar ke arah Rais, berharap sang kakak lah yang akan menjawab pertanyaan ibu Zaki.
"Pengennya UGM, Bu. Tapi, belum tahu juga, doakan saja semoga diterima di UGM nanti." tutur Rais.
"Seperti Mbak Ara." Jawab Mila.
Tanpa sadar, padangan Mila dan Zaki bertemu. Membuat keduanya salah tingkah sendiri. Namun, hitungan detik Mila nampak mencebikkan bibirnya.
lh dasar, buaya. Belum kenal aja udah berani-beraninya natap aku kaya gitu! Runtuk Mila dalam hati.
"Kamu mau jadi dokter?" Tanya Zaki tersenyum, tatapannya lekat melihat ke arah Mila.
Mila nampak risih akibat tatapan yang begitu tajam tersebut, hingga membuatnya hanya menganggukkan kepala serta menundukkan pandangannya.
Jemari ibu Zaki nampak mencubit lengan sang putra, berharap jika Zaki tidak lagi memandang sang dara dengan begitu lekat.
"Au ... sakit, Ma!" ucap Zaki spontan. Membuat suara tertawaa saling bersahutan.
__ADS_1
Mila semakin memicingkan bibirnya, dara cantik itu nampaknya sudah tidak nyaman berlama-lama di kediaman Zaki. Hibngga membuatnya berdiri dan berjalan menuju luar pintu dengan menggendong Zulvi.
"Tuh, gara-gara kamu, Mila jadi keluar." Tukas sang ibu geleng-geleng kepala.
"Maafin adik saya, Bu. Dia anaknya memang gitu, kalau sama lawan jenis. Apalagi yang tidak dikenalnya." Ucap Rais.
"Bagus itu Mas Rais, lbu suka wanita seperti itu. Zaki aja yang jelalatan." Tukas ibu Zaki, membuat wajah pemuda itu merah jambu.
****
Sepulang dari rumah orang Zaki, Ara dan Rais memutuskan untuk keliling kota Klaten terlebih dulu, berburu kuliner sebelum pada kahirnya mereka berlima pulang kerumah.
"Nduk, Mila. Kamu tuh harusnya jangan terlalu menampakkan wajah jutek gitu kalau didepan orang, apalagi kita lagi bertamu kerumah orang tersebut. Nggak pantes," ucap Rais sembari fokus dengan kemudinya.
Mila mengembuskan napas panjang, "habisnya, dia duluan. Kalau mandang kaya orang yang lagi mau interogasi aja. Kan Mila jadinya risih, Mas." Tukas Mila kesal.
"Sebenernya Zaki tuh orangnya nggak gitu lho. Tapi nggak tahu kenapa kok sama kamu kaya gitu, Dek." Timpal Ara sembari ngelirik ke arah Rais, seperti memberi kode tentang rencana yang telah mereka rundingkan sebelumnya.
"Ya ... tetep aja Mila nggak suka, Mbak!"
"Jangan jutek-jutek, ntar malah jadi kelepek-kelepek," tutur Rais terkekeh.
"Kelepek-kelepek gimana maksud, Mas Rais?"
"Ya ... cinta. Biasanya kalau orang yang awlanya jutek gitu, ntar ujung-ujungnya jatuh cinta," jawab Rais.
"lh ... amit-amit suka ama Om-Om." Tukas Mila menggidikkan badan.
"Kok Om-Om?" Tanya Ara tersenyum.
"Iya Mbak. Wong dia seumuran sama Mbak Ara. Mila kan masih delapan belas."
"Tapi, kalau jodoh mah nggak mandang bulu, Dek. Mau dia udah om-om atau gimana."
__ADS_1
"Tetep aja Mila nggak mau. Mila maunya tuh cowo yang keren. Sekelas sama oppa-oppa Korea, Mbak." Jawab Mila sembari menghayal.
"Wealah, hayalanmu tingkat dewa, urep neng Klaten minta jodoh dari Korea." Timpal Rais membuat suasana riuh dalam mobil.