JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
PESAN DARI AHMAD UNTUK RAIS


__ADS_3

"Salah sambung kok sampe panik gitu, Bi?" Tanya Ara ketika Rais sudah memutus sambungan telponnya.


"Nggak Mi, Abi nggak apa-apa. Mungkin karena Abi laper." Bisik Rais di telinga Ara.


"Astgfitullah, Bi. Tadi disuruh makan nggak mau, nunggu mas Ahmad."


Rais nyengir, "maaf Mi." Ucapnya.


Lelaki itu tengah berdusta. Kali ini ia benar-benar diselimuti rasa bersalah kepada sang istri. Rasa laparnya terlempar jadi rasa was-was, takut jika suatu saat nanti sang istri tahu, jika orang yang telpon tadi adalah Mayra.


Beberapa saat suasana hening. Ara terlihat sedang memainkan ponsel canggihnya. Wanita itu tengah berseleancar di dunia maya.


"Bi, sepertinya minggu depan kita pulang Jakarta." Ucap Ara, matanya masih lekat memandang layar ponsel.


"Emang ada apa, Mi?"


"Kawan sejawan Ummi ada yang mau nikah."


"Owh, iya, boleh, sekalian kita tengok Papa sama Mama, sekaligus ke makam Mas Ali." Jawab Rais disertai seruan.


Ditengah obrolan ringan mereka, sebuah motor terlihat masuk ke pelataran rumah. Seorang lelaki tengah memarkir motor tersebut, lalu ia melangkah krdalam rumah.


"Assalamualaikum, wah ... kapan datang?"


Lelaki tersebut adalah Ahmad sang kakak. Setiap hari dia menjajakan jamu bikinan sang istri. Bahkan jamu-jamu itu sudah punya pelanggan tetap.


"Waalaikumsalam. Hampir satu jam, Mas." Ucap Rais sembari mencium punggung tangan sang kakak.


"Mabk mu kemana?"

__ADS_1


"Mandiin Albi."


"Oh. Kalian udah pada makan?"


"Belum Mas. Tadi disuruh makan sama Mbak. tapi Abi maunya nunggu mas Ahmad." Sahut Ara.


"Oh gitu? Yaudah, Mas beresin ini dulu. Baru kita makan, ya?" Ucap Ahmad yang terlihat membawa beberapa botol bekas jamu.


"Sini biar aku bantuin Mas." pinta Rais.


"Lho yo monggo toh Le."


Sesampainya di dalam dapur, kakak beradik itu terlihat aedang mengobrol santai, hingga akhirnya Rais pun memberi tahu sesuatu kepada sang kakak.


"Mas ... kapan hari itu aku dan Ara ketemu Mayra, Mas."


"Mayra?" Tanya Ahmad. Lelaki itu seperti asing mendengar nama tersebut.


"Masha Allah, anak itu? Ketemu dimana? Apa dia sudah berkeluarga."


"Kami ketemu di resto, Mas. Dia belum menikah. Dan tadi___"


"Belum menikah? Dan tadi apa, Le?" cecar Ahmad.


"Dia telpon Rais, Mas."


Ahmad menyimpulkan senyum diujung bibirnya.


"Lalu? Kalau dia belum menikah? Kamu mau menikahi dia juga?"

__ADS_1


"Ah, Mas Ahmad ngawur. Ya nggak lah Mas."


"Terus? Untuk apa tadi dia telpon kamu? Apa istrimu tahu tentang dia?"


"Tahu Mas. Tapi... sewaktu Mayra tadi telpon, Rais udah berbohong pada Ara."


"Berbohong? Berbohong gimana?"


"Rais bilang salah sambung, Mas."


"Is ... Is. Kenapa mesti berbohong, jika kamu emang sudah tidak ada rasa sama si Mayra. Jangan menyulut api jika kamu tidak mampu untuk memadamkannya. Harus kamu ingat. Kejujuran itu adalah hal utama dalam rumah tangga."


"Rais takut, Mas. Kalau Ara akan marah."


"Lebih takut istri marah? Atau Allah tifak Ridho? Ara marah kan ada sebabnya. Mungkin karena kamu sudah tidak jujur."


"Betul Mas. Rais memang sudah membohongi Ara. Rais bilang sama Ara, jika Rais baru mengenal cinta ya dengan dia."


"Hem... Kamu mau dikenal romantis? Nggak dengan cara seperti itu, Le? Wanita akan sakit hati, jika seseorang yang benar-benar dicintainya dengan tulus, malah berbohong padanya. Mas harap, setelah ini kamu akan lebih jujur apa adanya kepada Ara. Kalian baru menikah."


"Lagi pada ngobrolin apa sih? Serius banget!" Ucap istri Ahmad yang datang tiba-tiba.


"Biasa, urusan laki-laki." Jawab Ahmad tersenyum, "Bu, ajak Ara suruh makan. Ayah udah laper." lanjutnya.


"Iya, Yah."


Sepeninggal istri Ahmad yang memanggil Ara keruang tamu. Ahmad melanjutkan obrolannya yang sempat terpotong.


"Ingat pesan Mas. Jangan sekali-kali kamu membohongi istrimu, batin istri lebih sensitif. Takutnya, kamu bohong sama dia, terus dia tahu. Dan akan menyakitkan jika dia tahu dari pihak ketiga tentang kebohonganmu. Jika kamu mengatas namakan menikah demi se surga dengannya. Maka, jangan pernah membohonginya. Jujurlah walau sesakit apapun itu."

__ADS_1


"Iya Mas."


"Kamu kepala keluarga. Jadilah kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab."


__ADS_2