JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
LAHIRAN


__ADS_3

Saat ini Ara berada diruang bersalin. Namun, wanita cantik itu nampak tersenyum, entah senyumnya itu sebagai tanda jika dia sedang menahan rasa sakit atau yang lain. Yang jelas, Ara saat inu jauh lebih tenang dibanding sebelum-sebelumnya. la berjalan mondar-mandir di dalam ruang bersalin, katanya, agar cepat proses pembukaannya.


"Masih pembukaan tiga, sakit nggak dok?" Tanya seorang bidan yang memang bertugas untuk menjaga Ara. Ara memilih melahirkan di rumah sakit tempatnya dulu mengabdikan diri.


"Sakitlah, cuma ya harus strong," ucapnya sembari menggigit bibir bawahnya. "Pinggangku rasanya maj copot, di pegang sakit, dibiarin sakit. Kok jadi serba salah ya?" lanjutnya.


"dokter Ara mau saya panggilkan suami dokter untuk menemani?"


"Jangan, saya tidak mau dia tahu, kalau saya sedang menahan rasa sakit."


"Lho kok gitu, dok? Bukannya malah enak kalau suami dokter ada disamping dokter Ara ketika mau melahirkan begini."


"Nggak usah, biarkan dia berjuang dengan doa-doanya, dan biarkan saya juga berjuang melahirkan anak kami."


Sang bidan tersenyum, "gimana kalau dengan ibu dokter?"


"Nanti saja, ketika saya memang sudah tidak sanggup untuk berjuang sendiri. Kamu boleh panggil suami atau ibu saya." Pinta Ara.


Bidan yang menjaga Ara nampak terenyuh, jaman seperti ini, masih ada wanita yang peduli dengan hati orang tua serta suaminya, ketika ia hendak berjuang mempertaruhkan hidup dan matinya, demi anak yang dikandung.


Byuur

__ADS_1


Kali ini air ketuban itu pecah keluar, itu menandakan jika pembukaan Ara sudah mencapai tujuh ke atas. Ara menjerit kesakitan.


"Tolong bantu saya untuk berbaring diatas kasur," pinta Ara kepada sang bidan.


Dengan cekatan bidan tersebut langsung merangkul Ara untuk segera naik keatas kasur lahiran.


"Bentar ya, dok. Saya panggil dokter Ike dulu." Ucap bidan tersebut.


"Gimana Mbak istri saya? Apa sudah melahirkan!" tanya Rais ketika sang bidan keluar dari kamar dimana Ara berada.


"dokter Ara sudah pembukaan delapan, doakan ya Pak, semoga proses persalinannya lancar."


Tanpa basa-basi, Rais melesat masuk kedalam kamar tersebut. Matanya berair manakala melihat sang istri terngah berjuang melahirkan buah hatinya. Wanita itu nampak mengedan dengan semua kemampuannya. Membuat Rais kalang kabut berlari ke arah Ara berbaring.


"Ummi harus kuat sayang, demi anak kita. Abi yakin, Ummi pasti bisa!" Ucap Rais menguatkan sang istri, sesekali ia menciumi kening Ara.


dokter yang menangani proses lahiran telah datang, seorang dokter wanita yang sudah cukup berumur. Dengan cekatan sang dokter meminta kepada si bidan untuk segera mempersiapakan alat untuk membantu proses persalinan.


"Ayo dok, kepalanya udah kelihatan, ngedan lebih kuat lagi!" seru sang dokter kepada Ara.


Napas Ara tengerah-engah, sesekali mencoba mengambil napas panjang, keringat membanjiri tubuhnya yang kini sudah tak memakai sehelai benang pun.

__ADS_1


"Lagi dok, sedikit lagi! Ayo, dokter Ara pasti bisa!"


"Ummi lihat mata Abi, sayang. Ummi pasti kuat," ucap Rais sembari menangis.


"Bi, Ummi nggak kuat, sakit, Bi." Ucap Ara gagap, napasnya seakan kehabisan oksigen.


"Ayo dok, bentar lagi kok. Kalau dokter Ara berhenti, nanti malah kita vacum," ucap dokter yang menanganinya.


Dengan sisa-sisa tenaga Ara mengedan dengan penuh semangat, hanya hitungan berapa detik, bayi yang ada dalam perut Ara keluar, menangis memecah ruang bersalin.


"Alhamdulillah, udah lahir." Ucap Rais.


"dokter Ara tinggal satu, ayo ngedan lagi."


Wajah Rais nampak bingung, ia tak paham apa yang dimaksud sang dokter.


Benar saja, setelah keluar bayi pertama, bayi satu lagi keluar sekitar satu menit setelahnya.


"Masya Allah! Kembar? Anak kita lahir krmbar, Mi?" ucap Rais begitu bahagia.


Ara yang sudah kehabisan tenaga hanya tersenyum lemah, "Alhamdulillah, Bi. Ummi lelah, pengen tidur." Ucap Ara lirih.

__ADS_1


"Pak Rais, tolong ajak dokter Ara ngobrol ya, jangan sampai tertidur. Kami masih mau memjahit bekas lahirannya."


Memakan waktu dua jam proses persalinan Ara, lelah dan rasa sakit seakan hilang bersama bulir-bulir bahagia di raut keduanya. Sebelum dua bayi yang berjenis kelamin perempuan itu dimandikan, Rais segera meng adzaninya. Betapa bahagianya ia, mendapatkan karunia yang cukup berharga dalam hidupnya. Dua bayi kembar sekaligus, cantik, mirip dengan sang istri.


__ADS_2