
"Bocah ora ana unggah ungguhe, langsung dimatiin aja." Ucap ibu Rais.
"Mungkin Mbak Mayra kecewa atau malu, Um." Ucap Ara sembari tersenyum.
"Mbak Ara?" panggil mertuanya.
"Iya, Um."
"Makasih ya, Nak. Udah mau memaafkan kesalahan putra Umma. Umma nggak nyangka jika hatimu begitu lembut dan mudah memaafkan."
Kedua alis Ara nampak menaut lagi, wanita itu bingung dengan pernyataan sang mertua. "Kenapa Umma bilang begitu?"
"Nduk? Umma udah tahu masalah kamu dengan Mas Rais. Makanya wakfu itu Umma sengaja kerumah kalian buat memberi nasehat kepada Mas Rais."
"Umma tahu dari mana?"
"Dari mana Umma tahu, itu tidak penting, sayang. Umma hanya nggak mau kamu dengan Mas Rais ada masalah apalagi lagi masalahnya datang dari orang ketiga yang nggak kalian undang."
Ara tidak menjawab, ia hanya melayangkan sebuah pelukan kepada sang mertua.
Rais nampak keluar dari kamar sang nenek.
"Mbah udah tidur, Bi?" Tanya Ara sembari melepas pelukannya dari sang mertua.
"Udah, Mi." Jawab Rais lalu duduk disebelah sang istri yang masih nampak duduk bersama mertuanya.
"Ada apa lagi, May telpon tadi?" Tanpa basa-basi, Rais melayangkan pertanyaan kepada mereka berdua.
__ADS_1
"Cuma kasih tahu kalau dia lagi sakit," jawab sang Ibu.
"... dan meminta agar Abi datang kerumahnya." timpa Ara.
"Abi nggak mau mengulang kebodohan, Mi. Kita cukup mendoakannya dari sini untuk kesembuhannya. Itu sudah cukup, kita bukan siapa-siapa Mayra. Bahkan, masalalu dengan Mayra sudah Abi kubur dalam-dalam. Jika kemarin kita bersitegang karena dia. Mungkin itu memang bumbu dalam rumah tangga. Tapi, sungguh, Abi nggak mau mengulang kesalahan itu lagi. Abi sangat berdosa kepada Allah." Ucap Rais, pandangannya menerawang ke masa-masa ketika dirinya membohongi Ara.
"Terutama sama istrimu. Kalau kamu punya kesalahan sama Allah, gampang Mas. Allah sudah pasti memaafkanmu. Tapi, kalau kamu menyakiti hati istrimu, itu yang sulit untuk dimaafkan. Untungnya istrimu ini Mbak Ara, dia ini penyabar dan pemaaf. Coba kalau wanita lain? Umma nggak tahu bakal seperti apa." timpal ibu Rais.
***
Dirumah Mayra, gadis cantik itu nampak sesenggukan ketika memutus panggilan keluarga. Membuat sang ibu bingung kenapa gerangan sang putri bisa nangis hingga sesenggukan.
"Ada apa toh, Nduk?" tanya sang ibu.
"Mereka jahat, Mi?" Jawab May lirih. la nampak memeluk lututnya.
"Keluarga Mas Rais." ucapnya, kali ini tangisannya pecah menjadi aatu ruangan.
"Astagfirullah Mayra? Kamu masih menghubungi keluarga itu? Untuk apa? Menjatuhkan harga diri kamu?"
"May cinta sama Mas Rais, Mi. Cinta..."
"Kamu sudah dibutakan cinta, Nduk. Mencintai itu tidak dengan menjatuhkan harga diri kamu. Apalagi Rais itu suami orang."
"Ini semua karena Abu, Mi. Coba dulu Abu menerima lamaran Mas Rais, semua nggak akan seperti ini, dan May pasti hidup bahagia dengan Mas Rais."
"Mayra? Denger Umi, segala sesuatu yang terjadi sama kita. Itu sudah menjadi ketentuan Allah. Jika pun Abu mu menyetujui hubungan kalian dulu. Umi yakin, Allah punya cara untuk tetap memisahkan kalian. Kalian ini memang di takdirkan nggak berjodoh, sayang. Dan kamu harus menerima itu. Kuatkan diri kamu dengan iman dan taqwa. Banyak-banyak istigfar. Jangan pernah menggantungkan harap pada makhluk Allah. Agar kamu nggak merasa sakit hati dan merugi." Tutur sang ibu panjang lebar.
__ADS_1
Mayra semakin tenggelam dalam tangisannya. Gadis itu sakit sebab memikirkan sang mantan. Bahkan diaknosa dokter ia tidak sakit apa-apa.
"Umi? May boleh tanya?"
"Tanya apa, Nduk?"
"Misal May menginginkan Mas Rais menjadi suami May, apa May salah, Um?"
"Hus! Jangan ngawur kamu! Dia itu suami orang. Nggak boleh kamu ounya pemikiran mau ngerebut suami orang. Haram hukumnya merebut yang bukan hak kita."
"May nggak mau ngerebut mas Rais dari tangan istrinya. May hanya ingin menjadi bagian dari mereka berdua."
"Poligami?"
Mayra mengangguk.
Sang ibu menganjur napas lalu mengumbuskannnya," dengerin Umi, Nduk. Poligami itu bukan hal yang mudah. Dan itu hanya untuk orang-orang yang memang sudah mantab lahir dan bathin. Bukan perkara mudah bagi mereka yang menjalankan sunnah Nabi yang satu itu. Berat, Nduk? Kalau nggak kuat dan nggak bisa, bukan syurga jaminannya. Tapi asab neraka lah yang akan mereka terima."
"Tapi Mayra cinta sama Mas Rais, Mi."
"Yakin kalau itu cinta? Bukan karena dendam dan hanya ingin merusak rumah tangga orang lain? Umi nyekolahin kamu sampai ke Mesir sana bukan buat bangga-banggahan, Sayang. Tapi biar kamu ngerti mana yang hak dan yang bathil. Bukan untuk menegaskan jika apa pun yang Allah tulis dalam ayatnya untuk kamu ikuti tanpa mengerti apa sebenarnya isi dari tafsirnya. Apalagi tentang poligami. Dalam ayat tersebut Allah sudah menjabarkan secara gamblang. Apa saja syarat sah seseorang untuk berpoligami. Nggak asal ber piligami, dengan alasan daripada selingkuh, daripada dosa, daripada-daripada yang justru itu akan menambah dosa bagi yang melakukan poligami." Tutur sang Ibu panjang lebar.
"Terus bagaimana dengan perasaan Mayra, Mi? Mayra sungguh mencintai Mas Rais."
"Tanyakan pada hatimu terdalam, kenapa kamu sampai ingin merebut kebahagiaan orang lain. Posisikan diri kamu menjadi istri Rais. Bagaimana jika itu semua terjadi sama kamu. Apa kamu terima suami kamu diajak poligami oleh perempuan lain? Apa kamu siap membagi hati dengan perempuan lain? Apa kamu siap menelan kepahitan ketika melihat suami kamu tersenyum dan masuj kamar dengan istrinya yang lain? Pikirkan itu. Kamu sudah dewasa. Pasti tahu, mana yang baik dan mana yang tidak."
Mayra kembali menangis, hatinya seakan porak poranda ketika sang ibu tidak berpihak padanya.
__ADS_1