
Memasuki kehamilan Ara ke tujuh bulan, Ara dan Rais berencana akan mengadakan syukuran tujuh bulanan besok malam. Semua persiapan telah matang mereka rencanakan. Begitu juga dengan keduà orang tua mereka. Ara telah menelpon orang tuanya agar kiranya bisa berkunjung ke tempat tinggalnya untuk memanjatkan doa bersama.
Keluarga Rais telah berkumpul di rumah bernuansa jawa tersebut. Ada yang sedang membuat rujak serut, ada juga yang sedang membuat kue‐kue basah, seperti kue cucur, pisang goreng, naga sari, dan masih banyak lagi.
Kali ini Ara nampak bugar, tidak seperti waktu kehamilannnya yang masih usia tiga bulan. Saat ini dia bebas mau melahap makanan apa saja. Tanpa mual tanpa adegan telenovela.
"Nduk, kamu harus ngulek bumbu rujaknya, bentar juga nggak apa-apa." Ucap salah satu tetangganya yanf sedang membantu acara mitoni tersebut.
Alis Ara nampak bertautan, sebab, ia belum pernah menemui tradisi ngulek bumbu rujak.
"Ayo, bentar aja. Pokoknya ngulek aja, buat syarat." Tutur sang tetangga kembali, yang langsung Ara iyakan.
Entah kenapa, semenjak kehamilannya, Ara paling malas menyentuh perabotan dapur. Jangankan perabotan dapur, untuk mandi saja, Ara harus melalui beberapa ritual agar ia bisa menepis rasa malasnya yang menggelayuti dirinya. Namun, tak ayal ide-ide agar dirinya tidak malas mandi banyak yang gagal. Kecuali ide bercinta dengan sang suami, mau tidak mau, di saat malas pun ia harus wajib mandi.
"Kok nggak semangat banget tho nguleknya?" Serga seorang tetangga lain.
"Lah gimana? Wong anaknya kayanya cowok kok." timpal yang lain. Hingga membuat suasana rius gempita.
"Apa iya, Budhe? Kata siapa kalau males anaknya cowok?" Tutur Ara penasaran.
"Udah bukan rahasia umum lagi, Nduk. Kalau orang hamil bawaannya males itu biasangya jabang bayinya cowok. Sini, biar Budhe yang ngulek."
"Udah biarin Budhe ... biar Ara yang ngulek. ltung-itung menepis kata males." Ucapnya sembari tertawa.
"Ora usah, wong cuma buat syarat. Eman-eman Budhe kalau kamu nguleknya terlaly lama, Nduk." Ucap sang tetangga sembari memegang dagu Ara.
"Kenapa gitu, Budhe?"
"Lah gimana nggak eman. Wong istrinya Mas Rais cantiknya Masya Allah."
Suara gelak-gelak saling bersahutan. Rupanya para tetangga memang banyak yang mengagumi kecantikan Ara yang di klaim mirip dengan salah satu artis lndonesia.
__ADS_1
Ara pun ikut larut dalam tawa mereka.
"Mbak Ara ... Mama Mbak Ara udah sampe di depan." Ucap Mila yang nampam tergesa-gesa berjalan dari arah luar.
"Wah kaya apa ya cantiknya ibu Mbak Ara. Dulu pas nikah kan aku nggak ikutan ke Jakarta." Ucap salah satu tetangga.
Mereka yang belum pernah bertemu langsung dengan orang tua Ara langaung menghentikan pekerjaannya, lalu mengekor di belakang Ara.
Debuah mobil Alpard warna hitam legam nampak terparkir dihalaman rumah Rais. Membuat para tetangga yang belum pernah tahu keluarga Ara terperangah melihat kedatangan keluarga tersebut.
"Walah Sugeh ya? (Walah, kaya ya?)" Bisik salah seorang tetangga kepada tetangga lain.
"Lah kamu dulu nggak ikut kerumah bu dokter ini. Yen ikut, pasti kamu kena sawan."
"Kok bisa?"
"Lah bisa, wong lawang omahe wae akeh. aku wae bingung yor arep metu lewat lawang sing endi. ( orang pintu rumàhnya aja banyak. Aku aja bingung mau keluar lewqt pintu yang mana.)"
"Iyo bener. Nggak salah blas emang pilihane mas pedagang susu keliling siji kwi."
Kedatangan orang tua Ara di sambut dengan antusias oleh para tetangga yang membantu pelaksanaan tujuh bulanan tersebut. Pun dengan kedua orang tua Rais. Mereka berdua lah orang paling sibuk menyiapkan segala sesuatu sebelum kedatangan sang besan.
Senyum sumringah tersungging di kedua sudut bibir mama dan papa Ara. Sekonyong-konyong perempuan dengan perut buncit itu berhambur dan memeluk mama serta sang papa. Meluapkan kerinduan satu dengan yang lain.
"Kirain Ara, Papa sama Mama naik pesawat." Ucap Ara yang masih tenggelam dalam pelukan sang mama.
"Tadinya mau naik pesawat. Tapi, nggak jadi."
"Kenapa, Ma?"
"Soalnya Umi Mas Ali ikut." Jawab sang mama membuaf kedua mata Ara berhambur ke arah luar.
__ADS_1
"Mana Umi?"
"Paling bentar lagi sampai, bawa kendaraan sendiri sama adik Mas Ali dan sopir."
"Gimana perjalanannya Bu. Pasti lelah. Monggo ngaso dulu (Mari istirahat dulu)." Ucap Ibu Rais sembari memeluk Mama Ara.
"Alhamdulillah sangat menikmati, Bu. Iya bentar, nunggu ibu dari almarhum Mas Ali dulu, ya?" Ucap mama Ara lembut.
Tak berapa lama, sebuah mobil pajero silver memasuki pelataran rumah tersebut. Seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam mobil, memakai gamis berwarna maroon di padukan dengan hijab hitam lebar. Ya, keluarga almarhum Ali tak jauh berbeda dengan keluarga Rais. Sama-sama religi.
"Owh itu ibunya suami yang dulu. Cantik ya?" Bisik kembali tetangga Ara.
"Iya, pasti suami bu dokter yang dulu juga ganteng. Wong ibunya aja cantik."
"Eh tapi mereka kayanya lebih kaya daripada keluarga Mas Rais."
Begitulah tetangga kanan-kiri kediaman Rais dan Ara. Mereka baik jadi omongan, jelek apa lagi. Semua sepertinya menjadi bahan omongan.
****
Malam telah menyapa, kumandang adzan isya' terdengar sayup-sayup dari masjid dekat rumah Rais. Riuh-riuh terdengar dari rumah tersebut. Para tetangga dan saudara sertanorang tua Ara dn Rais, nampam pada sibuk mentiapkan acara yang sebentar lagi akan di helat. Ba'da isya' ritual keagamaan itu akan segera dimulai.
Terlihat seorang wanita paruh baya duduk termangu di pojok rumah dengan menselonjorkan kakinya yang dibalut dengan kaus kaki berwarna coklat muda. Sesekali pandangannya menyapu lantai yang tertutup oleh tikar ayaman. Ara yang melihat pemandangan itu segera menghampiri wanita tersebut, yang tak lain ibunda dari almarhum Ali.
"Umi kenapa?" Tanya Ara lembut.
"Nggak apa-apa. Umi cuma capek saja, Nak." Ucapnya tersenyum. "Ara, pasti Ali bangga sama kamu, Nak. Sebab saat ini kamu sudah bersanding dengan ornag yang tepat dan tengah mengandung benihnya." Lanjutnya.
"Aamiin, Um. Semoga Mas Ali bahagia disana." Jawab Ara sembari memeluk mantan mertuanya.
Tak lama, acara mitoni atau biasa disebut dengan kata tujuh bulanan siap digelar. Para tamu undangan telah berkumpul memenuhi isi serta pelataran rumah.
__ADS_1
tepat pukul sembilan malam, acara tersebut usai di helat. Semua para undangan pulang dengan membawa besek atau brekat masing-masing. Mereka menyalami Rais sebagai tuan rumah yang mempunyai hajat. Banyak dari tetangga yang bilang kepada Rais jika rasa rujak serutnya hambar bahkan identik tidak ada rasanya. Menandakan jika anak yang tengah di kandung Ara berjenis kelamin laki-laki.