
Siang ini matahari nampak malu-malu sembunyi di balik tirai awan yang kecoklatan. Sepertinya gerimis akan segera turun membasahi debu-debu jalanan kota Klaten dan sekitarnya. Rais baru saja pulang dari jualan susu. Ara nampak menyunggingkan senyum dikala melihat sang suami tengah memarkir motor di beranda rumahnya.
"Gimana jualannya, Bi?" Tanya Ara ketika sudah saling mengucap salam.
"Alhamdulillah, ada pesanan untuk besok pagi 48 botol, Mi."
"Wah, alhamdulillah banget, Bi. Oh, ya. Ummi dah masak untuk Abi. Mau langsung makan, atau Abi mau mandi dulu." Tanya Ara.
"Emh, mandi dulu aja kali, Mi. Udah bau apek."
***
Dalam waktu bersamaan, di kediaman Mayra tepatnya di kota Solo, nampak perempuan cantik itu tengah melamun didepan cermin berbentuk oval didalam kamar. Tatapannya kosong, disertai lelehan air mata yang tak kunjung berhenti. Bibirnya masih saja merapal nama lelaki yang kini sudah sah menjadi milik orang lain.
__ADS_1
Mayra terlihat membuka laci meja rias tersebut, diambilnya sebuah bolpoin dan buku harian. Mayra mulai menuang sebuah kaliamat yang terlintas dalam pikirannya.
Teruntuk Mas Rais.
Maafin Mayra, yang dengan sengaja masih ingin memiliki Mas Rais. Betapa jahatnya May, memiliki pikiran untuk merusak rumah tangga Mas Rais dan Mbak Ara. May mohon maaf atas segala kekacauan yang telah May lakukan sama keluarga kecil Mas Rais. Salam untuk Mbak Ara. Semoga rumah tangga kalian Samara. aamiin.
Mayra menyeka buliran airmata yang mengalir deras di kedua pipinya. Lalu, ia kembali tertegun, pandangannya fokus pada cermin yang memantulkan gambar atasnya. Kemudia Mayra membalik buku hariannya. Ia mulai menulis kembali.
Abu, Ummi. Kalian adalah orang tua terbaik Mayra. Mayra bangga sebab telah menjadi bagian dari kalian berdua. Maafkan putrimu ini, karena tidak bisa menjadi anak yang bisa mengemban amanah dan menjadi anak yang berbakti. May harap, Abu dan Ummi tidak akan menanggung rasa malu, setelah ini. Tersebab oleh kelakuan Mayra. Mayra memilih jalan ini, sebab Mayra tidak sanggup lagi menjalani hidup. Mungkin benar, jika ilmu yang Mayra dapatkan selama ini tidak May serap. Mohon ampun May pada kalian berdua. Janga kesehatan. Mayra sayang Abu dan Ummi.
Salam sayang. Mayra.
Mayra menutup buku harian yang covernya berwarna hijau tersebut dengan menyelipkan bolpoin.
__ADS_1
Airmatanya sudah mulai mengering. Bibirnya nampak ikut mengering juga. Ditatapnya dengan nanar kedua kelopak matanya yang sudah mulai menghitam. Sakit? Itulah yang Mayra rasakan dalam ulu hatinya. Tersebab oleh cintanya yang begitu besar kepada makhluk ciptaan.Nya.
Mayra salah, amat salah. Ia terlalu percaya kepada makhluk ciptaan Tuhan. Ia lupa, jika sebaik-baik tempat menitipkan hati; hanyalah Rabbul 'ula, buka yang lain. la bahkan lupa, jika setiap ciptaan.Nya memiliki keterbatasan yang ujungnya hanya akan menui kecewa. Entah itu disengaka atau pun tidak. Seharusnya Mayra sadar itu.
Gadis berjubah dan berkerudung lebar itu nampak berdiri dari duduknya. Ternyata ia sudah menyiapkan sesuatu. Sesuatu yang bahkan hingga saat ini belum ada penjelasannya untuk membenarkan tindakannya, dalam agama mana pun juga.
Mayra mengambil sebuah tas selempang panjang. Lalu, ia menggunting talinya. Lumayan panjang, cukup untuk membuat tenggorokannya menjerit kesakitan. Membiru lalu pasi.
Mayra menggantungka sebuah tali yang ia buat dari tali tas slempang di pintu kamar mandi, yang memang terletak di dalam kamarnya. Gadis yang sudah tidak waras itu mengunci pintu kamar. Mengambil sebuah kursi berbentuk bulat. Lalu, ia mengambil posisi berdiri ditengah tali yang sudah menjuntai. Memasukkan kepalanya pada tali berbentuk ring. Goyang sedikit saja kakinya. Makà Malaikat maut akan datang menyeretnya.
Benar saja. Hitungan detik, Mayra memejamkan matanya, lalu menendang kursi bulat sebagai tumpuan kakinya. la nampak kesakitan, kejang, dengan napas terengah-engah. Tetesan darah nampak keluar dari hidungnya, matanya mulai sayu lalu melotot keatas.Mulutnya menganga dengan lidah menjulur keluar. Mayra tewas dengan cara gantung diri.
Wanita cantik, yang kesehariannya dikenal sebagai gadis alim dan tawadhuk, saat ini mati mengenaskan. Bahkan, bisa jadi keputusannya kali ini akan menorehkan luka serta malu yang tak berkesudahan untuk kedua orang tuanya. Bahkan, Mayra tidak pernah berfikir hingga sejauh itu. Baginya, cinta adalah segalanya. la dibutakan oleh cinta hingga membuatnya mati gantung diri.
__ADS_1