JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
JIKA BOLEH MEMILIH


__ADS_3

Mayra pergi tanpa pamit, gadis itu merasa dirinya begitu direndahkan oleh Rais dan Ara. Sepanjang jalan ia nampak beruraian air mata. Tubuhnya yang ringkih, sesekali mengeluarkan batuk yang begitu dalam. Nampak begitu sakit. Mayra tetap saja berjalan dengan ditemani sebuah tongkat besi di tangan kanannya, sebagai penopang tubuhnya yang nampak lunglai.


Mayra terhenti di depan sebuah masjid tak jauh dari kediaman Rais. Wanita itu lagi-lagi menangis, sesekali ia menyeka buliran bening yang jatuh di kedua pipinya. Bahkan ia nampak sedang menggigit bibir bawahnya. Ada yang menghangat dalam hati Mayra, ketika ia mendengar seruan adzan ashar dari towa masjid tersebut.


Perempuan berparas cantik, lulusan Kairo itu, nampak melesatkan langkahnya menuju pelataran masjid, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam masjid. Hatinya sedikit tenang, ketika sudah membasuh wajahnya dengan air wudhu.


Ya Allah, aku rindu pada Mu. runtuknya dalam hati.


Mayra berjalan menuju ruang masjid khusus wanita. Memakai mukena, lalu duduk di shaf untuk menunggu sang imam masjid memimpin sholat ashar. Gadis ayu itu nampak duduk sendiri, sebelum pada akhirnya ada seorang perempuan baya yang nampak memakai mukena dan duduk disamping kanannya. Tak ada percakapan, mereka berdua saling fokus kepada apa yang sedang di pikirkan.


Lima menit berlalu, Imam masjid sudah memberi aba-aba untuk jamaah agar segera merapatkan shafnya sebelum dimulai sholat ashar. Pun dengan shaf perempuan, meskipun Mayra hanya berdua dengan perempuan baya. Ia segera merapatlan shafnya.


Setelah usai melaksankan sholat ashar berjamaah. Kini waktunya Mayra membuka mukena lalu menaruh kembali di lemari yang telah di sediakan masjid. Namun, perempuan itu tak serta merta keluar dari masjid. Terlihat, ia bersimpuh kembali. Menatap nanar sajadah yang telah nampak lusuh yang tergelar di hàdapannya. Tak terasa, buliran bening itu jatuh lagi.


Mbak Ara benar ... kenap aku menjadi wanita tak ada harga diri? Gumam Mayra lirih.


Pikirannya menerawang jauh ke awang-awang hingga tak ada sekat. Gadis itu lupa, jika dirinya sedang tak sendiri. Perempuan baya yang kebetulan satu jamaah dengannya tadi, nampak masih khusuk memanjatkan doa kepada Rabb.Nya. Mendengar tangisan Mayra yang sepertinya sangat penuh arti, perempuan baya itu segera menyelesaikan doa-doanya.


"Kamu kenapa?" Tanya perempuan baya kepada Mayra yang masih nampak memangis.


Mayra menyeka airmata. Ia menggeleng berlahan.


"Semoga kamu menangis karena dosa-dosamu. Bukan karena suatu kebodohan hingga membuatmu menangis seperti ini." ucap perempuan baya kembali.


Mayra tercekat, air matanya seketika berhenti menerobos dinding pertahanannya. "Apa maksud Ibu?" Tanya Mayra dengan bibir gemetar.


Perempuan baya itu nàmpak memoles senyum, "Allah tidak pernah suka kepada hambanya yang terlalu mengagung-agungkan isi dunia."

__ADS_1


Mayra beegeming, kali ini air matanya kembali membasahi kedua pipinya.


"Lebih baik menangisi dosa-dosa yang telah lalu, daripada menangisi masadepan yang belum tentu kita gengam."


Seolah-olah perempuan baya itu tahu apa gerangan yang tengah Mayra alami.


"Sekali pun itu tentang perasaan?" Ucap Mayra membuat peremouan itu tersenyum.


"Kamu sepertinya terlalu mencintai makhluk Allah, Mbak." Ucapnya.


Mayra menatap wajah perempuan tersebut. "Saya hanya menitipkan hati pada seseorang. Namun, ternyata orang tersebut malah merusaknya. Hingga membuat saya jadi seperti ini." Timpal Mayra.


Wanita baya itu sontak terkekeh, "apa? Menitipkan hati sama seseorang?" Ucapnya terbahak, membuat suasana ruang masjid sedikit riuh. "Jangan pernah menaruh harap pada selain Allah, Mbak. Biar nggak sakit hati. Sebaik-baik manusia, se sempurna apa pun ia, pasti punya titik lemah dan lupa. Jadi, sudah pasti kamu akan merasakan sakit jika titik lemah dan lupanya yang cenderung menyelimuti seseorang itu." Ucapnya panjang lebar.


"Tapi saya mencintainya!!" Ucap Mayra penuh dengan penekannan.


"Lantas apa yang harus saya lakukan,Bu?"


"Lakok tanya saya? Coba tanyakan sama hati kamu terdalam, maunya apaan!"


"Saya ingin menjadi bagian dari hidupnya!"


"Menikah?"


"Heem."


"Maaf, apa lelaki itu masih sendiri?" Telisik perempuan baya tersebut.

__ADS_1


Mayra menggeleng kuat-kuat. "Bahkan dia akan menjadi seorang ayah, dalam beberapa bulan lagi." Ucapnya.


Perempuan itu nampak terkekeh kembali. "Jika kau diberi kesempatan memilih, apa yang akan kamu pilih?"


Mayra menggeleng, ia bahkan bingung apa sebenarnya motivasinya mengejar Rais, selain kata cinta.


"Mbak, pesan saya. Jangan mengganggu orang yang telah berkeluarga. Jika itu semua kamu yang ngalamin, mungkin kamu akan lebih dari sesakit saat ini. Belajarlah ikhlas, doakan terbaik. Jika memang kalian masih ada garis jodoh, nggak bakal kemana. Pasti suatu saat juga akan menujumu. Jangan sia-siakan hidupmu dengan meratap seperti ini. Allah tidak suka dengan hambanya ya g suka meratap, apalagi meratapnya hanya karena alasan laki-laki."


Mayra tertunduk, ia mencoba untuk mencerna kata-demi-kata yang di tuturkan oleh perempuan baya tersebut.


"Ikhlaskan atau tinggalkan. Itu saat ini pilihan terbaik buat kamu. Itu pun kalau kamu mau mendengar kata-kata saya. Kalau tidak, ya terserah. Tapi pesan saya, jangan sampai kejadian seperti ini kelak akan menghantui kamu."


Suasa hening, terlihat penguhi masjid sudah tidak ada kecuali mereka berdua.


"Apa kamu merasa dirugikan oleh laki-laki itu? Maaf jika pertanyaan saya tidak sopan."


Mayra menggeleng. Memang tidak pernah baginya seorang Rais merugikan dirinya. Kecuali perasaan, itu pun Mayra seharusnya bersikap biasa saja, sebab yang tidak menyetujui hubungannya dengan Rais adalah pihak keluarganya.


"Lantas? Apa motivasimu yang membuatmu terpuruk seperti ini? Adakah alasan untuk laki-laki itu agar menerimamu kembali?"


Mayra kembali menggeleng.


"Ah, kamu terlalu bertele-tele. Sudah, mending kamu ikhlaskan kalau nggak kamu tinggalkan. Laki-laki bukan hanya dia seorang." ucap wanita baya itu rersenyum, "saya duluan, rumah saya jauh. Coba kamu pikir kembali kata-kata saya. Jika semua kejadian itu menimpamu. Apa yang akan kamu lakukan."


Perempuan baya itu terlihat melangkah menjauhi Mayra. Baru tiga langkah. Mayra berucap padanya. "Apa cinta butuh alasan!" Ucap Mayra setengah berteriak.


"Jangan berdalih atas nama cinta! Jika kamu saja tidak bisa mencintai dirimu sendiri. Cobalah untuk menghargai dirimu dulu, cintai dirimu. Baru kamu mencintai orang lain." ucapnya, lalu perempuan itu melangkah keluar masjid denga tersenyum.

__ADS_1


Mayra terdiam, ia berfikir keras. Apa sebenarnya inti dari kata-kata perempuan baya barusan. Kali ini, Mayra harus berjibaku lagi dengan logikanya.


__ADS_2