
Senja sudah pergi dan berganti dengan malam, Rais tak kunjung pulang, hingga membuat Ara dan Mila was-was dibuatnya. Apalagi Rais tidak membawa ponsel. Terlihat pegawai berjalan menuju rumah Ara dan berpamitan.
"Mas Makruf? Tadi suami saya pamitnya mau jualan susu kemana?"Tanya Ara kepada salah satu pegawainya. Nampakanya wanita cantik itu panik dan gelisah.
"Lho emangnya Mas Rais belum pulang, Mbak? Tadi sih pamit jualan ke area perumahan sama Al-Aqsha, Mbak, kata Handoko. Ya, toh Han?"
"Enggeh Mbak, wong tadi siang saya yang natain botol-botol susunya."
"Gitu ya? Kemana sih kamu, Bi."
"Apa perlu saya susulin Mbak?" Tawar Handoko salah satu pegawainya.
"Ngerepotin nggak Mas Han?"
"Enggeh mboten. Saya susulin dulu ya, Mbak."
"Aku sekalian melu, Han." timpal Makruf.
"Yaudah kalian hati-hati, ya?"
Dari dalam kamar, nampak bayi Zulva dan Zulvi rewel, nangis tidak mau diam. Hingga membuat Mila yang menjaganya juga ikutan bingung.
"Bocil kenapa nangis terus ya, Mbak? Apa mereka laper?" Tanya Mila ketika Ara sampai dalam kamar.
"Nggak tahu, Dek. Orang dari tadi udah *****." Jawab Ara galau.
"Mas Raia belum pulang Mbak?"
"Belum, makanya Handoko sama Makruf mau cari Mas kamu."
"Ya Allah kemana toh Mas Rais. Bikin orang panik aja." Gerutu Mila kesal.
"Assalamualaikum.." sebuah suara mengucap salam dari luar pintu rumah.
"Abi? Waalaikumsalam," Ucap Ara sembari berhambur ke depan.
"Abi? Astagfirullah ... Abi kenapa?" Ucap Ara ketika mendapati sang suami memakai egrang.
Peremouan cantik itu langsung memeluk sang suami dengan derai air mata yang tak berkesudahan. " Abi kenapa? Apa yang terjadi dengan Abi?" Ara terus saja meracau.
"Ssttt ... jangan nangis, Mi. Abi nggak apa-apa, cuma sedikit terkilir."
__ADS_1
"Terkilir kenapa? Abi kenapa?"
"Ayo masuk dulu, nanti Abi ceritain."
"Astagfirullah ... Mas Rais! Mas kenapa, Mas?" Seru Mila dari pintu kamar.
"Dek, tolong ambilin minum buat Mas mu." Pinta Ara kepada Mila.
"Iya Mbak, bentar." Ucap Mila berhambur kedalam dapur.
"Abi kenapa sampe pakai egrang?"
"Abi kecelakaan Mi."
Mendengar kata kecelakaan, batin Ara semakin hancur. Ia ingat kejadian beberapa tahun lalu yang mengakibatkan sang suami meninggal dunia. Airmatanya nampak tidak bisa dibendung lagi, wanita cantik itu langsung memeluk tubuh sang suami.
"Ummi mohon, jangan lagi jualan, Bi. Ummi nggak mau Abi kenapa-napa?" Ucapnya lirih terisak.
"Sstt ... Abi nggak apa-apa, cuma terkilir, Mi."
Ara terus saja menggeleng, "Ummi nggak mau kehilangan lagi."
"Kehilangan apa? Abi nggak apa-apa. Tuh lihat masih bisa senyum, kan?"
Ummi dengerin Abi. Semua itu udah kehendak Allah, setiap kerjaan itu mengandung resiko. Ummi ngga usah takut. Jodoh, rejeki dan mati, itu rahasia Allah. Mau gimana pun kita, kita nggak akan pernah lepas dari perkara itu semua."
Ara masih terisak, perempuan itu benar-benar takut kejadian yang menimpa suaminya dulu akan terulang lagi. Betapa hancurnya ia jika semua itu menimpa keluarga kecilnya.
"Diminum dulu, Mas." pinta Mila kepada Rais, "Mas Rais kok bisa jatuh, coba ceritain." lanjutnya.
"Iya, tadi tuh Mas mau nyebrang, kasih susu untuk anak yang sedang ngemis. Nggak pake motor sih, wong motornya Mas parkir dibawah pohon. Pas nyebrang, tiba-tiba ada sekawanan anak-anak bawa motor kenceng banget, sampe Mas di srempet."
"Terus yang luka apanya mas, selain kaki terlikir." Tanya Mila penasaran.
"Ini sama lengan, luka kena aspal."
Ara terlihat berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju P3K yang terletak di samping pintu kamar.
"Buka bajunya," pinta Ara masih dengan derai air mata.
"Ummi mau ngapain?"
__ADS_1
"Mau lihat luka di lengan Abi," ucap Ara sembari membuka kancing baju Rais.
Mila yang melihat adegan itu, memilih untuk beranjak dan masuk dalam kamar menemani Zulva dan Zulvi.
"Pantesan daritadi Ummi kepikiran sama Abi, bahkan Zulva sama Zulvi nangis mulu."
"Ya, maafin Abi ya Mi. Tadi emang nggak pamit sama Ummi kalau Abi mau ngider."
"Abi nggak pamit, udah gitu nggak bawa Hp. Gimana Ummi nggak makin panik, Bi?" Ucap Ara kembali menangis ketika melihat luka berdarah di lengan kanan sang suami.
"Maafin Abi, bukannya Abi nggak mau bawa Hp, tapi Abi lupa, Sayang."
Ara melihat lekat dua mata Rais, seakan memohon kepada sang suami untuk tidak lagi menjajakam susu. "Untuk apa Abi memperkerjakan mereka, kalau Abi masih turun tangan jualan sendiri!"
"Ummi?"
"Ummi lagi marah, Bi. Ummi nggak mau ada hal-hal yang terjadi sama Abi."
"Iya Sayang, maafin Abi. Jangan marah lagi. Toh Abi pulang masih sehat."
Ara memeluk Rais, "Abi ngerti nggak gimana rasanga jadi Ummi yang oernah kehilangan orang yang berarti dalam hidup?"
Kini Rais mengerti, betapa sayang dan cintanya Ara kepadanya, hingga tak ingin sesuatu terjadi padanya.
"Assalamualaikum," sebuah suara memberi salam terdengar dari balik pintu rumah.
"Waalikumsalam," jawab Ara dan Rais serempak.
"Pasti Makruf dan Handoko." Ucap Ara sembari berjalan menuju pintu.
"Ngapunten Mbak Ara, Mas Raisnya udah sampai rumah?"
"Alhamdulillah udah, Mas. Itu orangnya,"
"Astagfirullah, Mas Rais kenapa?" Ucap Handoko dan Makruf sembari berjalan menuju Rais.
"Dicium aspal." Jawab Rais tertawa.
"Tadi kan sudah saya bilang sama Mas Rais untuk nggak ikut jualan. Ngeyel." Ucap Handoko.
"Besok-besok kalau suami saya mau jualan, jangan boleh lagi ya Mas. Kalau masih ngeyel, lapor saya." Tutur Ara.
__ADS_1
"Enggeh Mbak. Tuh, Mas. Dengerin istrinya ngomong. Inget, Ridho istri itu sama aja dengan Ridho Allah." Ucap Makruf cengengesan.