JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
DOAKAN SAJA DARI SINI


__ADS_3

Tepat pukul delapan malam, Rais dan Ara baru sampai di kediaman Ahmad sang kakak. Mereka tak serta merta pergi takzia kerumah Mayra. Memang, jarak rumah Mayra tak begitu jauh dari kediaman Ahmad. Namun, tentu saja Rais meminta ijin terlebih dulu kepada Ahmad untuk takziah kerumah almarhum Mayra.


"Mending kalian istirahat saja, toh Mayra juga sudah dimakamin tadi sore," pinta Ahmad kepada Rais dan Ara.


"Lho Mas Ahmad udah dari rumahnya?" tanya Rais penasaran.


"Sudah tadi sama tetangga." Jawab Ahmad, lelaki itu terlihat menyesap kopi yang dibuatkan oleh sang istri, "Mas harap kalian nggak usah kesana!"


"Maksudnya?" Tanya Rais penasaran.


"Iya, nggak kesana, Dek. Wong kita aja tadi kesana di usir, dimaki sama Bapaknya Mayra," timpal istri Rais, maniknya menerawang mengingat kejadian yang tak mengenakkan.


"Lho? Di usir gimana, Mbak Yu?"


"Lah iya, masa Mayra meninggal nyalahin kelurga kita. Terutama nyalahin kamu, wong tuwo kok aneh. Anaknya meninggal gantung diri kok nyalahin orang!" Celetuk istri Ahmad kesal.


"Sudah-sudah, jangan di perbanjang, mending sekarang kita cukup doain almarhum Mayra dari sini saja. Biar nggak nambahin dosa bapaknya. Kalau kamu kesana sama istrimu, Is. Nanti yang ada bakal ruwet___" belum sempat Ahmad melanjutkan kalimatnya, sang istri sudah menimpalinya.


"___dan bisa jadi kamu malah dimaki-maki dan dipermalukan di depan orang banyak, Dek!"


Rais tersenyum, pemuda itu menggenggam erat jemari sang istri yang nampak mendengarkan dengan seksama cerita Ahmad dan sang istri.


"Yawis, tadinya Rais dan Dek Ara mau kesana mau ikut ngucapin bela sungkawa. Tapi ... karena Mas dan Mbak ceritanya seperti itu. Lebih baik kami istirahat saja. Mendokan yang terbaik untuk almarhumah 'kan nggak harus kerumahnya, sebenarnya sih lebih afdhol ke rumahnya. Namun, demi menjaga ketentraman, kami cukup mendoakan dari jauh, bukan begitu Ummi?" ucap Rais panjang lebar.


Ara nampak mengelus punggung tangan Rais yang memegang jemari kanannya, mengangguk dan tersenyum.


"Yasudah kalian istirhat saja. Kasihan istrimu capek kayanya, Klaten-Solo itu jauh."


"Kita sebenarnya tadi lagi jalan-jalan menikmati suasana sore, Mas. Jadi, emang tadi kami nggak sempat pulang langsung kesini," ucap Rais.

__ADS_1


"Dek Ara, jenis kelaminnya apa si jabang bayi?" Tanya istri Ahmad.


"Nggak tahu Mbak, kami sengaja merahasiakannya. Nggak kami USG, yang penting janin sehat, doain ya, Mbak? Apapun jenis kelaminnya, semoga sehat dan menjadi sosok yang bersahaja kelak." Ucap Ara sembari mengelus perutnya yang terlihat semakin membuncit.


"Aamiin. Kami pasti doain yang terbaik buat calon ponakan kita, iya nggak, Yah!"


"Iya, pasti itu. Yasudah, kalian masuk kekamar. Udah malem, udah pada sholat dan makan malam 'kan?" Tanya Ahmad.


"Udah." Jawab mereka serempak.


*****


Pagi kembali mengitari kota penghasil jamu terbesar di seluruh tanah air tersebut. Bisik angin pagi sejuk meniup daun telinga serta diri. Embusan oksigen masih nampak asri. Embun pagi pun menyerinai menyentuh kaki yang terlihat sedikit bengkak.


"Kaki Ummi bengkak, sayang?" Ucap Rais ketika melihat sang istri tengah menikmati udara pagi di pelataran rumah Ahmad.


"Iya, Bi. Maklum, semalam kan Ummi duduk dalam mobil lumayan lama,Bi."


"Ntar aja, Bi. Ummi lagi pengen jalan-jalan mengitari kampung. Sayang-sayang udaranya sejuk gini main tinggal aja," ucap Ara tersenyum.


"Owh, yaudah kita jalan-jalan. Tapi nggak lama ya, Mi. Abi takut kaki Ummi makin bengkak, sayang."


Ara tersenyum mengangguk. Mereka bergandengan menyusur jalanan perkamoungan rumah Ahmad.


Sepertinya Rais memang lùmayan banyak dikenal disekitar kampung Ahmad. Tak sedikit dari tetangga menyapa bahkan tak sengan mengagumi paras sang istri yang memang begitu jelita.


"Bojomu ayu tenan toh, Le?" Seorang nenek dengan tersenyum melempar kalomat menohok kepada dua sejoli tersebut.


"Si Mbah bisa aja. Maturnuwun, Mbah," ucap Rais sembari bersalaman dan mencium punggung tangan si renta.

__ADS_1


"Ayo mampir kerumah, Mbah. Ibumu ra melu?"


"Matursuwun sanget, Mbah. Nggak usah, kami masih mau jalan-jalan keliling kampung. Ibu saya lagi sibuk, mboten saget ikut." Ucap Rais dengan sopan, sedangkan Ara yang memang todak bisa bahasa jawa, hanya tersenyum mengangguk.


Ternyata, almarhum ayah Rais dulunya memang aseli orang Solo. Terkenal dengan andap ashor, serta pengusaha batu bata. Setelah resmi menikah dengan ibu Rais, almarhum ayahnya memutuskan untuk mengikuti dimana sang istri tinggal.


"Oh, yowis. Salam kanggo ibumu, sehat kabeh sekeluarga. Jaga baik-baik istrimu, Le." Ucap sang nenek sembari mengelus perut Ara. "Mugo-mugo persalinannya lancar, dan anakmu seger sehat waras. Aamiin." Lanjutnya sebelum pada akhirnya nenek tersebut melangkah menjauh dari hadapan Rais dan Ara.


****


Matahari mulai menyingsing, karena pinta Ahmad kepada Rais dan Ara untuk tidak kerumah Mayra. Akhirnya dua aejoli itu memutuskan untuk pulang ke Klaten.


Sedangkan di kediaman Mayra masih nampam para kerabat serta tetangga berdatangan kerumah megah tersebut, mengucap belasungkawa dan turut prihatin atas apa yang menimpa putri semata wayang itu.


Tak sedikit dari para tetangga Mayra amat menyayangkan kejadian yang menimpa gadis malang itu. Apalagi, gadis berjubah dan berkerudung lebar itu, terkenal sangat baik, santun, ramah dan religi. Bahkan, kerap para tetangga mengundnag Mayra untuk mengisi pengajian Dawis.


"Eh, denger-denger katanya Neng Mayra gantung diri gara-gara patah hati, ya?" bisik salah seorang tetangga yang sedang membantu memasak untuk tahlil hari ke tiga di kediaman orang tua Mayra.


"Iya, kok bisa ya? Padahal kan Neng Mayra ini anaknya kurang taat gimana lagi coba sama agama, di bandingin kita yang hampir tiap hari, hobinya ghibahin para artis!" timpal tetangga lain sembari memarut kelapa.


"Udah-udah, jangan ngomongin orang yang udah meninggal, nggak baik. Nambah-nambahin catatan dosa kita makin tinggi."


"Lah terus ghibahin apa? Kita kan ghibahinnya yang emang bener terjadi, Mbak Yu. Menyayangkan saja kalau Neng Mayra yang kita kenal taat agama malah melenceng. Memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri."


"Sssttt.... nanti kalau denger keluarga Mayra, kamu bisa di kek!" timpal tetangga lain sembari memberi isyarat tangannya mencekek leher. Membuat suasana yang tadinya senyap, langsung riuh.


"Udah, mending kita ghibahin sinetron lkatan Cinta. Semalem tuh si Elsa nyebelin banget, rasanya kalau saat ini ada disini, pengen tak parut sama cabe kriting ini. Biar sekalian dia jadi serundeng."


"Tapi Andinnya sweet banget ya, apalagi pas diajak Aldebaran masuk ke pasar buat beli ikan lele, Andin yang takut kepleset gara-gara pasarnya becek, langsung di gendong sama Mas Al sampe tempat tukang lele. Emh, Mas Al emang nggak ada duanya. lni ya, kalau suamiku seganteng Mas Al. Udah aku kekepin, nggak bakal aku keluarin dari rumah."

__ADS_1


Susana riuh di samping rumah Mayra. Mereka memilih untuk bercerita sinetron kesayangan para ibu-ibu saat ini.


__ADS_2