
Setelah pertemuan Rais dan Ara dengan keluarga kecil Hafid, kini kedua anak Adam itu berlenggang menyusuri Pantai Parang Tritis. Menikmati indahnya panorama suasana di kala senja. Begitu indah. Riak-riak pantai saling berkejaran hingga menghujam koral yang berada di tepian pantai.
"Sepertinya, Abi harus punya pegawai satu, Mi. Buat bantuin dagang susu fan memnuatnya." Ucap Rais sembari menikmati kelapa muda di bibir pantai.
"Kalau Ummi, sih, terserah Abi aja. Apalagi kan Abi mau kerja sama sama si Mas Hafid tadi." Ucap Ara.
"lya, Mi. Oh ya, malam ini Ummi mau makan apa?"
"Nggak Bi. Ummi lagi nggak pengen makan, tadi aja Ummi nggak habis makannya, sampe Abi yang kudu ngabisin." Ucap Ara.
Benar, Rais memang selalu menghabis makanan yang Ara makan jika sang istri tersebut tidak menghabiskannya. Bagi Rais, membantu sang istri adalah kewajiban mutlak, terlebih jika Ara pun tidak menghabiskan makannya. Dia juga wajib membantu untuk menghabiskannya.
"Yaudah, pokoknya kalau Ummi lagi pengen makan kita nyari ya."
"Terus, ini kita mau nginep dimana, Bi?"
"Emh, hotel deket sini aja, Mi. Deket ama pantai enak kayanya, apalagi kalau malem."
"Yaudah kita cari sekarang, Bi?"
"Kenapa? Ummi nggak suka pantai?"
"Suka Bi. Suka banget malah. Tapi, nggak tahu, kenapa kok saat ini Ummi nggak mau di pantai. Pusing kalau lihatin ombak lama-lama."
"Ehm, yaudah kita nyari hotel."
Sesampainya mereka di hotel, Rais pun segera memesan kamar untuk segera mereka tempati. Benar saja, sesampai dalam kamar hotel, Ara langsung merebahkan tubuhnya yang sintal di atas kasur.
"Ummi nggak mamdi dulu, sayang?" ucap Rais seeambari membuka kaos.
Ara bergeming, ternyata wanita itu sudah lelap dalam tidurnya. Mungkin dia lelah dalam perjalanan tadi.
Setelah Rais membersihkan badannya, kini ia nampak membangunkan sang istri dengan lembut.
"Sayang, ayo bangun udah adzan isya', sholat dulu."
Seperti sedang membangun benteng perlawanan. Ara menindih kepalanya demgan sebuah bantal.
"Eh Ummi. Ayo bangun dulu mandi terus sholat isya'. Abi udah nunggu nih dari tadi."
Dengan wajah masih nampak malas, Ara mencoba bangkit dari peraduannya.
"Ih Abi! Kusem banget, mandi gih." Celoteh Ara masih dengan wajah bantal.
"Kusem gimana? Abi udah mandi, udah wangi ini kok!" seloroh Rais sembari mencium keteknya.
"Nggak mau ah. Abi kusem, mandi lagi."
"Ya Allah Ummi. Abi udah mandi, emang dari sananya Abi jelek, Mi." Rais masih terus mengotot.
Waha Ara nampak kesal, sebab titahnya tidak di gubris oleh sang siami. Wanita itu nampak cemberut sembari berjalan menuju kamar mandi.
Usai mandi, Ara nampak keluar kamar mandi dengan mengenakan handuk yang di lilitin di atas dadanya. Membuat Rais seperti ingin menyambarnya untuk segera melahab habis tubuh sang istri.
"Ayo ganti, Mi. Sholat dulu, habis itu kita ngerodi."
"Ngerodi apaan!" Jawab Ara jutek.
__ADS_1
"Bikin dedek bayi." Ucap Rais kegelian.
"Jepitin pintu kamar mandi, noh. Ummi sih ogah bikin dedek ama orang yang belum mandi!" Ucap Ara jutek.
"Ummi kenapa sih? Abi udah mandi Mi."
"Nggak tahu, nggak suka aja lihatin Abi saat ini."
Perbincangan mereka usai ketika mereka akan melaksanakan sholat isya'. Namun, setelah usah dengan ritual keagamaannya. Omelan Ara masih saja berlanjut. Bahkan perempuan itu memberi garis pemisah di atas kasur yang hendak di tidurinya.
"Abi nggak boleh sentuh-sentuh Ummi. Sekali Abi melanggar dan keluar dari garis ini, Abi tidur diluar."
Rais bengong, lelaki itu nampak keheranan, ada apa gerangan dengan sang istri? Tadi sebelum berangkat ke Parang Tritis ia nampak biasa-biasa sajja, bahkan mereka sempat bersenggama.
"Ngerti nggak Bi!"
"Iya ngerti, tapi kenapa, Mi? Apa Abi ada salah?"
"Nggak!"
"Lalu kenapa?"
"Ih jangan banyak protes, Ummi lagi nggak suka sama Abi."
"Lah kok gitu?"
Ara tidak menjawab, ia langsung menutupi dirinya dengan selimut tebal berwarna putih.
"Hah ... kok ngorok?" Ucap Rais lirih.
Benar, tidak seperti biasanya, kali ini Ara tidur dengan mendengkur. Hingga membuat Rais heran dibuatnya. Sudah tujuh bulan lebih mereka berumah tangga. Baru kali ini Rais mendengar irama musik dari bibir ara ketika ia tidur.
Belum sempat ia membuka selimut Ara. Tiba-tiba Ara keluar dari dalam selimutnya, "Bi ..."
"Emh, ada apa, Sayang?"
"Peluk." Ucapnya manja.
Sungguh, Rais heran dibuatnya.
"Katanya tadi Abi kusem, nggak mau sama Abi? Kok?"
"Abi?"Ucap Ara memelas.
Rais pun segera memeluk Ara dengan lembut. "Ummi kenapa? Ada apa? Apa hari ini Abi bersikap kurang nyaman terhadap Ummi?"
Ara menggeleng.
"Terus kenapa Ummi bersikap aneh?"
Tak ada jawaban dari wanita cantik tersebut. Ia sudah lelap dalam buaian alam mimpinya.
"Lah ... tidur lagi? duh, ngorok lagi." Gumam Rais lirih.
Mungkin malam ini Rais tidak akan bisa tidur gegara dengkuran yang Ara buat. Tapi, bagi Rais apapu yang dilakukan sang istri, ia ikut bahagia. Sekali pun harus membuang jauh rasa kantuknya.
Adzan subuh berkumandang. Rais pun segera membangunkan Ara dari tidurnya dengan lembut. Lalu Ara pun bergegas tanpa protes.
__ADS_1
"Mi, kita nyari sarapan di dekat hotel yuk."
"Ummi pengen makan mie rebus."
"Mie rebus? Tumben? Biasanya Ummi nggak suka makan mie?" ucap Rais.
"Pokoknya mau, Bi. Harus!"
"Ummi kenapa kok jutek banget, sih!"
"Nggak tahu, pokoknya Ummi nggak suka ama Abi. Nggak mau di atur sama Abi."
Rais tercengan, kenapa gerangan dengan sang istri. Ara yang dikenalnya cukup lembut, saat ini berubah total. Jutek, judes, bahkan tidak mau sama sekali omongannya di bantah.
"Iya Mi. Maafin Abi, mungkin Ummi bosen sama Abi yang kaya gini."
"Nggak tahu, pokoknya bawaannya pengen jauh-jauh dari Abi."
"Ummi? Ummi pasti lagi nge prank Abi kan?"
"Ngapain nge prank. Udah ayo cariin Ummi mie rebus."
Astagfirullah ... ada apa dengan istriku, Ya Allah. Runtuk Rais dalam hati.
Setelah mendapatkan warung makan yang menyediakan mie rebus. Ara pun segera melahap mie yang sudah di pesannya. Baru dapat tiga suapan. Mie yang sudah di dalam perut berdemo ngajak keluar.
"Mau kemana, Mie?" Tanya Rais ketika milhat Ara berdiri dari duduk dan berlari menuju toilet.
Ara tidak menjawab.
"Ummi kenapa?"
"Kita pulang, Bi. Ummi kangen rumah."
"Pulang ke Klaten, gitu?" Tanya Rais masih tidak mengerti.
"Ke Jakarta. Ummi pengen dimasakin sama Mama."
"Hah! Apa?"
"Ayo Bi."
"Tapi, Mi? Kita belum pesen tiket. Lagian Ummi juga belum telpon Mama kan kalau pengen pulang."
Ara menatap tajam Rais, perempuan itu seolah menegaskan jika dirinya tidak ingin di bantah.
"Ummi kenapa sih? Ada apa? Kenapa Ummi bersikap aneh!"
Ara beranjak dari duduknya lalu keluar warung.
Di dalam mobil Ara menangis.
"Ummi kenapa nangis?"
"Nggak tahu, pengen nangis aja."
Rais pun semakin bingung dan pusing sebab tingkah sang istri.
__ADS_1
"Yaudah Abi pesen tiket dulu. Ummi telpon Mama, bilang Mama kalau kita mau pulang, ya?"
Begitu girangnya Ara ketika permintaannya dikabulkan oleh sang suami.