
Lima hari sudah Ara bersama dengan Rais menghabiskan waktunya di kota Solo. Tak banyak hal yang wah terjadi di antara mereka berdua. Bahkan bisa dibilang suasana sedikit berbeda, tidak seperti saat Mayra tidak datang ditengah-tengah kehangatan Rais dan Ara.
Hari ini, rencana Ara mengajak Rais untuk bermalam di kediaman sang ipar, Ahmad. Masih sisa dua hari bagi dua sejoli itu untuk sekedar menikmati panorama kota yang dikenal dengan jamu tersebut.
"Bi ... kita nginep dirumah mas Ahmad aja." Pinta Ara tanpa basa-basi.
"Abi udah bayar kamar hotel full satu minggu, Mi."
"Tapi Ummi pengen nginep disana."
"Ummi masih marah sama Abi? Abi kan udah jelasin, Mi."
Ara tersenyum manis. "Siapa bilang masih marah. Nggak ada yang marah."
Rais tertunduk, lelaki itu benar-benar merasa bersalah kepada sang istri karena sudah membohonginya. Apalagi, ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Mayra, masalalunya.
Untuk menyenangkan hati Ara, Rais pun segera berkemas untuk menuruti keinginan sang istri, bermalam dirumah Ahmad. Walau sebenanrnya masih ingin menikmati hari-hari berdua dengan sang istri.
"Abi mandi dulu, ya, Mi."
"Iya." jawab Ara singkat.
Didalam kamar mandi, Rais masih bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Bagaimana caranya ia mengembalikan kepercayaan sang istri tersebut, yang sudah terlanjur ia bohongi.
"Abi mandi apa tidur!" Seru ara dari luar pintu kamar mandi.
"Iya, Mi. Bentar." Jawab Rais. Seruan Ara membuat lamunannya berserakan.
Rais terlihat tengah berganti baju didepan cermin.
"Bi ... maafin Ummi."
"Ummi nggak salah. Abi yang salah karena udah berbohong kepada Ummi."
"Tapi nggak seharusnya juga Ummi berubah sama Abi." Jawab Ara.
"Abi tahu, gimana perasaan Ummi karena Abi udah bohong."
Ara tertunduk. Wanita itu menenggelamkan pandangannya pada ubin kamar hotel.
"Maafin Abi, Mi. Karena udah bikin Ummi marah."
__ADS_1
"Jujur Bi, Ummi nggak marah sama Abi. Tapi, lebih pada kata kecewa. Sebab, Ummi merasa dibohongi. Awalnya Ummi bahagia banget, ketika Abi bilang, Ummi satu-satunya wanita yang bisa membuat Abi jatuh cinta, nggak ada wanita lain sebelum Ummi datang. Abi tahu? gimana perasaan Ummi. Sangat bahagia Bi, Ternyata di jaman saat ini masih ada lelaki seperti itu. Bukan Ummi tidak berkaca, siapa diri Ummi. Ummi sadar, Ummi juga hanya seorang janda. Tapi, apa janda layak untuk dibohongi?" Tutur Ara panjang lebar, hingga membuat mata Rais berembun. "Bukan ummi nggak bahagia, seandainya Abi jujur, nggak Bi. Ummi akan lebih bahagia, jika Abi jujur tentang masalalu Abi. Jadi, Ummi nggak akan kaget saat bertemu dengan masalalu Abi." Lanjut Ara. Kata-katanya benar-benar membuat Rais menjatuhkan airmata.
"Jadi, Ummi nggak maafin Abi?"
"Siapa bilang nggak maafin. Ummi maafin Abi. Ummi harap masalalu Abi dengan Mayra, tidak akan mengganggu masadepan rumah tangga kita."
"Abi yakinkan, jika kita akan hidup bahagia, Mi. Tanpa ada bayang-bayang Mayra." Tegas Rais kepada Ara.
"Aamiin." ucap Ara singkat.
Perjalanan yang tidak memakan waktu lama. Hanya butuh tiga puluh menit, Ara dan Rais sudah sampai depan pelataran rumah Ahmad sang kakak. Cuaca yang cerah, dengan sambutan hangat istri Ahmad. Ternyata, Ara sudah menghubungi kakak iparnya itu sebelum dirinya keluar kamar hotel tadi.
"Ayo masuk, udah diamasakin." Ucap sang kakak ipar dengan senyum tersungging.
"Mas Ahmad kemana, Mbak?" Tanya Rais.
"Biasa, masih ngider belum pulang. Paling bentar lagi sampe rumah." Jawab sang Kakak ipar.
Tiga anak Adam tersebut langsung masuk kedalam rumah dengan gembira.
"Oh, ya? Kapan terakhir liburan, nih?" Tanya istri Ahmad.
"Insya Allah besok kami udah balik ke Klaten, Mbak." Jawab Ara, membuat Rais menautkan kedua alisnya.
"Bukan___" Rais memotong kalimatnya.
Ara tersenyum manis. " Bukan karena hal lain Abi. Ummi emang pengen pulang. Kasihan rumah kalau ditinggal lama."
"Dek Ara bener Dek. Toh kalian dirumah juga hidup berdua." Sahut sang kakak ipar, "Ohya, ayo kita makan dulu, udah Mbak masakin tadi."
"Nunggu mas Ahmad pulang dulu, Mbak. Biar kità rame-rame makannya." Jawab Ara.
"Oh yaudah kalau gitu, Mbak mau mandiin Albi dulu ya?"
"Iya, Mbak."
****
Sepeninggal istri Ahmad yang hendak memandikan sang buah hati. Kini tinggal Ara dan Rais diruang tamu. Terlihat dua sejoli ngobrol ringan.
"Ummi, nanti kalau punya anak, mau pakai jasa baby sister atau___"
__ADS_1
Belum sempat Rais menuntaskan kalimatnya, buru-buru Ara memotongnya.
"Ya sendiri lah Bi. Masa Ummi yang hamil, orang lain yang jagain? Lagian Ummi kan nggak ada kerjaan."
"Emh, gitu? Abi juga setuju Mi."
Ditengah-tengah obrolan mereka yang penuh degan kehangatan. Tiba-tiba ponsel Raia melengking dari dalam saku celana bahannya.
Sebuah nomor tanpa nama terlihat memanggil dilayar ponsel Rais.
"Siapa Bi?"
"Nggak tahu, nggak ada namanya."
"Angkat aja Bi, siapa tahu rejeki."
"Rejeki?" Tanya Rais sebelum mengangkat panggilan tersebut
"Iya, siapa tahu konsumen Abi mau pesen susu. Bisa jadi, kan?"
"Masha allah bener juga, Mi."
Tanpa panjang lebar akhirnya Raia mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamuamaikum." Ucap sebuag suara dari balik ponsel.
"Waaikumsalam, maaf dengan siapa?" jawab Rais disertai pertaanyaan.
"Mayra, Mas."
Raia tercekat. Bibirnya bergeming, pandangannya lekat kepada Ara yang melihatnya dengan senyuman menawan.
Kali ini Rais tidak boleh berbohong lagi kepada Ara. Ia benar-banar takut jika kebongan dirinya akan diendus lagi oleh sang istri.
"Kenapa diam, Mas? Siapa yang telpon?" Tanya Ara. Senyumnya seketika pudar bersama curiga.
Rais mencoba untuk menata kata, agar tidak salah ucap lagi kepada Ara.
"Salah sambung, Mi." Baru saja ia akan jujur. Namun, lagi-lagi bibirnya seakan di setir oleh setan jahanam. Hingga membuatnya berdusta kembali lepada sang istri.
"Halo Mas Rais, ini aku Mayra. Kok malah bilang salah sambung?" dari ujung telpon, wanita yang mengaku dirinya Mayra tersebut masih bersikukuh jika dirinya tidak salah sambung.
__ADS_1
Cepat-cepat Rais mematikan panggilan masuk dari Mayra. Kini, pikirannya diselimuti rasa bersalah kepada Ara. Bagaimana bisa dia berbohong kembali? Padahal ia sudah berjanji tidak akan mengulangi kebohongannya lagi kepada Ara.