JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
MULES


__ADS_3

Semenjak kabar kematian Mayra, kini tak ada lagi kabar tentang bagaimana keadaan keluarganya. Bulan sudah berganti, saat ini Ara sedang menikmati hari-harinya mengandung sembilan bulan. Menunggu hari dimana ia akan segera menjadi seorang ibu. Jika di tilik dari hari perkiraan lahir, Ara akan melahirkan sekitar lima hari lagi. Rasa was-was mulai menyelimuti dirinya. Ia takut tidak bisa melahirkan dengan sempurna. Namun, rasa was-was itu segera di tepisnya, manakala Rais datang menghampiri sang istri yang tengah termangu di beranda rumah.


"Ummi kenapa ngelamun?" tanya Rais pelan.


Lamunan Ara buyar, tatkala Rais memegang oundaknya. "Nggak apa-apa, Bi. Ummi hanya memikirkan hari kelahiran anak kita. Entah kenapa? Ummi kok ngerasa was-was."


"Sstt... ayo kita masuk, Abi bakal bikin hati Ummi tenang." Ajak Rais.


"Caranya?"


"Ikut Abi dulu."


Sesampài dikamar, Ara digiring oleh Rais untuk duduk dibibir kasur, sedangkan dirinya melangkah keluar kamar dengan memingkis lengan bajunya.


"Abi mau kemana?" tanya Ara ketika sang suami menuju pintu keluar.


"Ke kamar mandi, bentar."


Sesampai di kamar mandi, Rais nampak membasuh wajah dan bebedapmra bagian pada tubuhnya. Hanya berkisar lima menit, Rais berjalan menuju ke kamarmya kembali. Lelaki itu berjalan menuju nakas, disana ada sebuah alquran. Ya, Rais ingin melantunkan ayat-ayat suci Alquran di samping sang istri.


"Ummi mau Abi bacain surah apa, Sayang? Biar anak kita juga merasa tenang." Tanya Rais sembari mengelus perut buncit Ara.


"Terserah Abi. Ummi manut aja, Ummi rindu suara ngaji Abi." Tukasnya tersenyum.


Tanpa menunģgu lama, Rais pun segera membuka lembar demi lembar Alquran yang berada di kedua tangannya. Jemarinya tercekat tatkala kornea Rais menemukan sebuah surah yang pas untuk sang istri.


"Ummi? Mau dibacain surah Yusuf atau Mariam?"


Ara kembali tersenyum, "Mariam, Bi."

__ADS_1


Rais mengembuskan napasnya, lalu segera membaca tà'awuz di lanjutkan dengan basmallah. Bacaan Alquran yang membuat kedua mata Ara mengembun, Rais membaca dengan sangat merdu dipadu dengan maqham nahawand, alunannya yang melandai membuat Ara makin menikmati lantunan ayat suci alquran yang dibacakan oleh sang suami. Rais fokus membaca, dengan tangan kanannya mengelus perut sang istri.


Setelah merapal surah Mariam seperti permintaan sang istri, Rais terlihat mencium kening Ara, meniup beberapa kali kepalanya disertai doa. Lalu, setelahnya Rais memeluk hangat tubuh sang istri.


"Maafin Abi, Mi. Gafa-gara mengandung buah hati Abi. Ummi jadi was-was." Ucap Rais lirih. Matanya berkaca-kaca, tak tega melihat Ara yang tadi sedang melamun dan was-was.


Ara tersenyum, buku-buku tangannya menyentuh lembut wajah sang suami, "Abi nggak salah, ini adalah impian kita berdua. Memiliki anak yang sholeh dan tampan, serta sholihah dan cantik. Betul kan?" Ucap Ara.


Rais membalas senyuman Ara, Ummi masih ingat kata-kata Abi itu? Padahal Abi dulu ngucapinnya sebelum kita nikah. Kalau nggak salah, pas di Al-Aqsho, pas Ummi tanya kalau nanti Abi punya istri pengennya kaya apa!"


"Ya jelas ingat, Bi. Dari pertemua pertama kita. Entah kenapa, Ummi merapal nama Abi di sepertiga malam Ummi. Bahkan Ummi mengemis pada Allah, agar kelak di pertemukan dengan laki-laki yang mengutamakan iman daripada yang lain. Sebetulnya Ummi tidak mau menyebut nama Abi, tapi tiap kali berdoa, yang terlintas dipikiran Ummi hanya Abi."


"Wah, ini Ummi bafu ngomong mih sama Abi. Kirain Abi, itu semua hanya Abi yang lakuin. Ternyata, istri Abi juga, toh?"


Kedua anak adam itu larut dalam kebahagiaan. Rona was-was yang menghampiri Ara, kini sirna bersama bahagia yang tercipta.


***


Semenjak Rais memutuskan untuk menikahi Ara. Usaha pemuda itu melambung pesat, Bahkan kini sudah ada beberapa kawan Rais yang audah kerja sama dengannya. Tak pelak, Rais pun saat ini sudah mempekerjakan tujuh orang di rumahnya. Rencana kedepan, setelah sang istri melahirkan. Rais ingin menyewa sebuah rumah, khusus untul produksi susu segarnya. Dan niat baiknya itu disambut baik oleh sang istri.


Saat ini, Rais tengah menanti hari dimana Ara akan melahirkan sang buah hati, ya dua hari lagi, hari perkiraan kelahiran buah hati Ara akan tiba. Peremouan cantik itu pun sudah menghubungi kedua orang tuanya di Jakarta, untuk bersiap-siap menjenguknya, jika dirinya telah melahirkan. Pun dengan orang tua Rais. Mereka memutuskan untuk bermalam di rumah Rais sejak dari kemarin malam.


Siapa sangka, hari perkiraan Ara melahirkan meleset dari tanggal yang sudah di tentukan oleh dokter. Saat ini H-2 Ara tengah merasakan nyeri pada bagian perutnya. Namun, perempuan cantik itu nampak belum mau ambil pusing. Sebab, dia hanya merasakan nyeri yang timbul tenggelam.


Saat Ara tengah mengepel lantai beranda rumahnya, ibu mertuanya menegur Ara, "Nduk? Cah Ayu? Apa kamu habis jatuh?"


"Jatuh? Nggak kok Um? Kenapa?" Tanya Ara, perempuan itu menghentikan aktivitasnya.


"Kok gamis kamu basah?"

__ADS_1


Ara segera memutar kepalanya. Melihat gamis yang basah dibagian bokongnya.


"Astagfirullah, ketuban Ara rembes, Um." Ucap Ara tersenyum.


"Yasudah kita kerumah sakit sekarang. Mungkin kamu akan melahirkan hari ini." Ajak mertunya sedikit panik. "Rais! Le, istrimu mau lahiran, ayo kita ke rumah sakit!" lanjutnya sembari berteriak.


"Umma nggak usah panik, Ara hanya ngerasain nyeri. Ini juga masih pembukaan dua kok, Um?" Ucap Ara.


"Darimana kamu tahu, Nduk?"


"Ya mungkin saja Um, coba Ara ke kamar dulu, biar Ara VT." Ucap Ara sembari menaruh alat pelnya disudut pintu, lalu melangkah pergi ke dalam kamar.


"Ummi mau lahiran? Ayo kita ke rumah sakit, sayang?" Pinta Rais ketika mendapati Ara di dalam kamar.


"Baru pembukaan dua, Bi. Masih lama. Tapi, yaudah kita siap-siap. Semoga proses pembukaannya nggak terlalu lama." Ucap Ara.


Rais segera membopong sang istri masuk dalam mobil, membuat Ara tsrsenyum melihat kepanikan Rais. Sedangkan sang mertua nampak menyeret sebuah koper berukuran sedang. Yang memang sudah di sediakan jauh-jauh hari untuk di bawa ke rumah sakit, jika Ara sudah mengalami mules.


Dalam perjalan ke rumah sakit, nampak Rais merapal ayat-ayat suci Alquran, jemari tangan kirinya mengelus-elua perut ara. Ara tersenyum melihat betapa sigapnya sang suami. Sedangkan sang mertua yang duduk di jog belakang, juga tak lupa merapal ayat-ayat kalam.


"Mbak Ara sabar ya, Nak. Bentar lagi sampe rumah sakif." Ucap mertua dari balik punggungnya.


"Umma tenang aja, Ara nggak apa-apa. Cuma pinggang aja yang rada mau copot."


Hampir lima belas menit perjalanan, kini ketiga anak adam beda generasi tersebut tengah memarkir mobil di area rumah sakit.


"Ummi tetep di dalam mobil, Abi mau minta tolong sama susternya." Ucap Rais panik. "Umma, tolong jagain Ara dulu." Pintanya pada sang ibu.


Tak berselang, Rais datang membawa sebuah kursi roda beserta dua orang suster dengan dibalut baju berwarna biru.

__ADS_1


Ara segera keluar dari dalam mobil dibantu oleh Rais untuk duduk di kursi roda.


__ADS_2