JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
MAUMU APA?


__ADS_3

Sesampai di kota Klaten, Ara langsung cuap-cuap minta kepada sang suami, jika dirinya ingin makan gudangan dan beberapa makanan yang sudah berjubel dalam otaknya. Seperti orang yang tidak pernah ketenggol makan selama seminggu, Ara nampak lahap memakan makanan yang sudah ia pesan kepada Rais. Namun, lagi-lagi kejadian mual plus munta selalu terjadi di akhir makan. Semua isi perut keluar.


"Yaudah nggak apa-apa, yang penting Ummi udah makan apa pun yang Ummi pengen." Ucap Rais sembari memijit-mijit leher sang istri dengan lembut.


Berbeda dengan kemaren, kali ini Ara nampak ingin menempel terus di pelukan sang suami, membuat Rais bingung dengan silap sang istri. Mungkin memang begitu kali ya? Kalau orang tengah hamil. Hormonnya tidak bisa di prediksi akan seperti apa.


Sesampai di pelataran rumah, Ara nampak tertidur dalam mobil. Rais pun segera membangunkan dengan begitu lembut.


"Ayo bangun dulu, bobonya di dalem, Mi?" Ucap Rais. Membuat mata Ara terbuka seketika.


Baru saja mereka berdua keluar dari dalam mobil, sebuah mobil lain masuk dalam pelataran rumah itu. Rais dan Ara nampak saling melempar pandang, saling bertanya siapa yang datang.


Seorang perempuan berjilabab lebar berwarna gelab turun dari mobil, membuat mata Rais tertugun melihatnya. Bagaimana tidak, perempuan itu menggunakan sebuah tongkat untuk membantu menyangga badannya yang terlihat begitu ringkih.


"Mayra." Ucap Rais.


Ara menatap dalam kepada Rais, lalu ia mengembuskan napasnya. "Temuin aja, Bi. Ummi mau istirahat." Ucap Ara jutek, wanita itu berlalu membuka pintu rumahnya lalu menuju kamar.


Rais mengekori Ara, "Ummi? Ummi cemburu ya? Ayo kita temui sama-sama. Nggak mungkin Abi nemuin dia sendiri." Pinta Rais kepada sang istri.


Sedang di luar rumah, nampak Mayra masih berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Seselali ia mengucap salam dengan suara serak.


Akhirnya, mai tidak mau, Rais pun segera keluar dari dalam kamar dengan rasa malas.


"Waalaikumsalam, ada apa lagi, May?" Ucap Rais tanpa mempersilahkan Mayra masuk rumah.


"May ingin ketemu Mas Rais. May kangen sama Mas Rais." Ucapnya lorih.


Kata-kata Mayra membuat Ara yang sedang di dalam kamar meradang.


"Mau kamu apa! Mantan kamu sudah berumah tangga? Nggak mau kamu nyamperin orang yang udah berumah tangga kaya gitu!" Ucap Ara berteriak dari dalam kamar. Membuat Rais berlari menujunya.


"Ummi nggak boleh gitu." Ucap Rais menenangkan hati sang istri.


"Terus aja bela dia! Ummi kan emang cuma pelarian Abi!" Tutur Ara ketus.


"Bukan gitu, Mi. Abi nggak mungkin ngeduain Ummi. Kita ngomong baik-baik sama Mayra, ya."


"Nggak mau! Ngapain, Bi? Dia kesini dengan keadaannya yang ringkih gitu mau ngapain? Mau bikin Abi iba?"


"Ummi? Jangan gitu ah. Kasihan ama dedenya, nanti stres kalau Umminya marah-marah gini. Ayo sekarang kita keluar, temui dia berdua." Bujuk Rais.

__ADS_1


Dengan malas, Ara keluar kamar menemui Mayra. Memang benar, Ara seperti bukan Ara sebelumnya yang penuh dengan lemah lembut, yang selalu memcoba untuk tenang dan menjaga tutur katanya. Kali ini, wanita cantik itu terlihat jutek bahkan enggan menyalami Mayra.


"Mau ngapain kamu!" Ucap Ara ketika berhadapan dengan Mayra di beranda rumah.


Mayra nampak geram melihat ke jutekan yang Ara nampakkan.


"Kenapa nggak jawab? Ada urusan apa kesini!" Lanjut Ara.


"Maaf May, sebenarnya kamu kesini ada masalah apa?" Timpal Rais.


"May pengen ngomong empat mata sama Mas Rais." Jawab Mayra tanpa memedulikan siapa yang sedang berdiri di samping Rais.


"Hai! Kamu nggak ada sopan-sopannya, ya! Saya ini istri sah Rais, lho?" Jawab Ara kesal.


"Maaf, May. Kita ini nggak ada hubungan apa-apa. Jika memang kamu mau bicar, bicara saja dihadapanku dan istriku." Timpal Rais.


"Mbak Ara? Bisa nggak Mbak bersìkap sopan sama saya? Saya ini tamu." Ucap Mayra.


"Tamu? Tapi sayangnya, kamu tamu yang nggak pernah kami undang." Jawab Ara semakin ketus. "Abi? Ummi nggak mau lihat dia disini. Bikin calon anak kita makin pengen muntah lihatin dia." Lanjut Ara, lalu masuk ke dalam rumah.


"Calon anak? Masudnya___?"


"Iya, Ara hamil." Jawab Rais. "Kamu pulanglah, aku tidak ada waktu buat kamu May. Istriku sedang membutuhkan perhatian lebih. Aku harap, kamu nggak akan emngganggu kami lagi."


"Tapi, Mas?"


"Mayra nggak bisa lupain Mas Rais!" Tukas Mayra, membuat Rais terkekeh.


"Mayra ... Mayra. Aku ini suami orang. Bahkan, sebentar lagi kami akan mempunyai anak. Nggak sepantasnya kamu bicara seperti itu kepada laki-laki yang sudah punya istri."


"Tapi May yakin, Mas Rais juga masih cinta sama Mayra."


"Astagfirullah, May. Istigfar, kamu ngerti agama kan, May? Dalam agama kita, jangan sekali-kali kita merusak kebahagiaan otang lain, hanya demi kepentingan kita semata."


"Tapi, Mas?"


"Pulang lah. Aku doakan semoga kamu menemukan lelaki yang tepat untukmu. Maaf May, hatiku hanya untuk istriku. Terlebih hidupkua, ingin aku abdikan hanya untuk keluarga kecilku. Aku harap kamu ngerti dengan apa yang aku ungkapakan padamu."


Mayra tertunduk, tongkat penopang badannya seakan rapuh. Dadanya sesak seketika, pandangannya semakin redup. Dunia seakan berputar tidak pada porosnya.


Bruuk.

__ADS_1


Mayra pingsan, ia terjatuh di teras rumah Rais. Hingga mau tidak mau Rais harus menolongnya. Membopong Mayra ke sofa di dalam rumahnya. Pun dengan Ara, wanita yang kini menjelma seperti singa tersebut tidak serta merta membiarkan Mayra terkulai do atas sofa. Ia mengecek keadaan gadia cantik yang kini terlihat pucat pasi.


"Abi ambilin air hangat." Ucap Ara kepada Rais. "Sama kayu putih di atas nakas ya, Bi?" Teriak Ara kepada Rais yang sudah di dalam ruang dapur..


Ara nampak memijat-mijat kelingking kakinya, sembari mengolisanya minyak kayu putih. Air hangat yang ia minta kepada Rais, ia buat untuk mengkompres kening Mayra yang nampak begitu panas.


Rais terharu melihat pemandangan ini, ia begitu tidak menyangka, jika Ara akan berbuat demikian kepada Mayra. Seperti sedang tidak terjadi apa-apa, Ara dengan telatennya mengkompres Mayra.


"Bawa baskomnya masuk, Bi. Kita tunggu Mayra siuman."


Selang beberapa menit kemudian, Mayra nampak membuka matanya secara berlahan, tubuhnya yang begitu lemas. Mengharuskan gadis itu tetap pada posisinya.


"Kamu udah siuman?" Ucap Ara tersenyum.


"Mbak Ara?" Ucap Mayra lirih.


"Ehm ... kamu tadi pingsan di depan. Jadi, Mas Rais membawamu masuk rumah."


"Mas Rais mana, Mbak?" Tanya Mayra.


"Sholat. Gimana keadaan kamu? Udah enakan belum? Minum tea hangat dulu, biar asam lambungnya nggak naik." Tutur Ara sembari menyodorkan tea hangat kepada Mayra, tak lupa ia tersenyum pada Mayra.


"Nggak Mbak. Makasih." Tolak Mayra.


Ara mengembuskan napasnya, "May ... sebenarnya apa yang kamu mau dari keluargaku? Bukankah Mas Rais udah bilang berkali-kali sama kamu, kalau dia sudah tidak ingin berhubungan lagi denganmu? Tapi ... kenapa kamu masih kekeuh ngejar dia?" Ucap panjang lebar Ara.


Mayra enggan menjawab pertanyaan Ara. Gadis itu membuang pandangannya ke ubin.


"Aku nggak kenal siapa kamu, tapi aku yakin, kamu wanita baik, May. Apa kamu mikir, andai kejadian ini menimpa rumah tanggamu. Coba kamu pikir? Andai kata suami kamu mau direbut oleh wanita lain. Bagaimana perasaanmu?" Tutur Ara lirih. "Pasti kamu akan merasa sakit hati 'kan? Apalagi ditambah kamu mengandung anak dari suamimu."


"Kita itu beda, Mbak. Mbak Ara nggak bisa membandingkan siapa aku dan Mabak!" Jawab May.


"Ya, tentu saja berbeda. Mungkin bisa saja ujianmu ketika menikah lebih luar biasa lagi."


"May sama Mas Rais itu masih saling mencintai."


Rupanya percakapan mereka berdua didengar oleh Rais dari balik pintu kamar. Ada rasa geram menyelimuti hati Rais. Namun, laki-laki itu mencoba untuk meredamnya. Baginya, kelembutan Ara sudah bisa mewakili hatinya yang hanya ingin hidup bersamanya.


"Kenapa kamu bisa bilang kalau suamiku mencintai kamu? Apa alasan dia mau mencintai kamu?"


Mayra terdiam, gadis itu verusaha bangun dari tempatnya berbaring.

__ADS_1


"Oh, ya, May. Gimana kamu nggak mau sakit. Lah kamu aja nggak makan, belum lagi pikiranmu semrawut." Tambah Ara tersenyum.


__ADS_2