JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
DEPRESI


__ADS_3

Kilat petir menyambar apa saja yang terlihat di hadapannya. Desau angin kian menyapu suasana senja kala petang. Gumpalan-gumpalan awan nampak begitu kacau karena terbalut mendung yang mencekam. Seakan mengisyaratkan, jika setelah ini hujan akan turun membasahi bumi.


Terlihat suasanya nampak mencekam disebuah rumah megah yang terletak di salah satu kota Solo. Rumah siapa lagi, jika bukan kediaman dari kedua orang tua Mayra.


Semenjak ķepulangannya dari rumah Rais beberapa bulan yang lalu, gadis ayu itu memutuskan untuk pulang kerumahnya. Membawa seonggok luka yang ditorehkan oleh Ara, tak terkecuali dengan cintanya, Rais. Mayra membawa segenap kepiluan yang mendera. Otaknya seakan dihimpit bebatuan karang yang menjulang di pinggir pantai. Mayra nampak sedang sakit hati.


Sesekali ia menetesakn airmata di kedua sisi sudut matanya, namun tak jarang Mayra pun menyunggingkan senyum. Tatapannya nananr dan hampa. Bahkan identik dengan tatapan kekecewaan.


"Nduk, udahlah. Jangan menyiksa diri kamu seperti ini." Ibu Mayra berucap, dikala melihat air bening menetes di kedua pipi sang gadis.


Mayra tertegun. Bibirnya seakan sedang merapalkan sebuah nama yang hamoir tidak terdengar oleh telinga.


"Anak Umi memang keterlaluan! Hanya karena masalah laki-laki penjual susu itu, harus sampai seperti ini." Timpal sang ayah dengan raut wajah kesal.


"Stop, Abu. Sudah cukup Abu selama ini menyalahkan anak gadis kita!" Tukas sang Ibu dengan deraian air mata.


"Lalu? Siapa yang harus kita persalahkan! Laki-laki yang sudah ber istri itu!"


lbu Mayra nampak diam, sorot matanya menatap tajam sang suami. Sesekali ia melihat ke arah Mayra yang masih tak bersuara, namun tetap terlihat meraplkan sebuah nama.


"Jika harus ada yang dipersalahkan dalam hal ini, itu semua Abu." Ucap sang Ibu geram.


"Lho ... kok jadi Abu yang salah? Dimana letak kesalahan Abu, Mi?"


"Abu masih menyangkal ... jika selama ini Abu lah dalang dari semua ini! Andai waktu itu Abu menerima pinangan Rais, gadis sematang wayang kita tidak akan jadi seperti ini! Mayra depresi disebabkan oleh apa? Dia seperti ini karena Rais sudah menikah dengan orang lain. Abu tahu? Kenapa Rais bisa menijah dengan orang lain? Sebab Abu sudah menolaknya dan menghina keluadganya!" Seloroh sang ibu panjang lebar. Ia ingin menampar suaminya dengan ingatan-ingatan lalu. Bagaimana ia mempermalukan keluarga Rais di hadapan para tetangganya.


Ayah Mayra nampak terdiam, memikirkan segala apa yang telah istrinya ucapkan barusan. Semua memang kesalahannya, yang mementingkan harta ketika sang putri ingin dipersunting oleh lelaki pilihannya sendiri. Nasi sudah menjadi bubur. Ingin memperbaiki semua? Hanya akan mendatangkan kesia-siaan saja. Ayah Mayra menutupi kesalahannya dengan menampakkan wajah yang masih terlihat beringas tak sudi meminta maaf kepada calon menantu yang gagal.


"Kenapa Abu diam? Lihat putri kita saat inj? dia deprisi gegara siapa? Masalah apa? Apa Abu tidak kasihan dengan anak kita? Apa Abu siap menjawab pertanyaan-pertanyaan tetangga yang mungkin akan menggunjing keluarga kita?"


"Sudahlah. Kita bawa Mayra berobat ke Jakarta saja. Siapa tahu, disana ada peskiater yang bisa meringankan beban pikirannya."


"Jadi? Abu mau membawa Mayra pergi?"


"Bukan membawa pergi, Mi. Kita akan pergi untuk mencarikannya obat."


"!Obat Mayra hanya satu, Abu. Dan itu Abu tahu àpa jawabannya."


Ayah Mayra terdiam, lantas lelaki paruh baya itu melangkah mendekati Mayra yang terbaring di atas ranjang. Sesekali lelaki dengan wajah yang penuh dengan guratan teraebut menyapu nanar di kedua mata sang putri.

__ADS_1


"Apa yang kamu mau, Nak?" Tanyanya lirih kepada Mayra.


Mayra yang terlihat begitu kacau dengan bibir yang sedikit mengering menjawab lirih, "Mas Rais." Ucapnya singkat. Ia menyebut nama itu dengan begitu lirih, sehingga tidak begitu jelas di dengar.


Ayah Mayra terlihat mengepal buku-buku tangannya. Mengeratkan rahangnya hingga gemeretak. Tatapannya seakan ingin menonjok sesuatu. Entah apa itu, yang jelas ia lalu memeluk sang putri.


"Tolong lah, Nak. Lupakan dia, Abu akan mencarikan pengganti pemuda itu. Yang lebih baik tentunya." Ucap sang ayah, kali ini kedua mata dengan dua sisi sudutnya yang keriput itu terlihat mengembun. Ada yang mencuat hangat dari dasar hatinya.


Mayra bergeming, matanya yang sembab mulai berair lagi. Bibir yang nampak mengeri g tersebut ia gigit rapat-rapat sebelum pada akhirnya, Mayra mengamuk.


"Abu jahat. Abu adalah orang yang benar-benar jahat!" Ucap Mayra geram.


Gadis itu depresi, ia akan selalu berlaku demikian ketika ingat siapa yang menyebabkan dirinya tidak bersanding dengan aang pujaan.


Sang lbu menghampirinya, tatapan nelangsa penuh nestapa begitu nampak dari dua pasang mata wanita paruh baya tersebut.


"Nduk ... jangan gitu, Nak? Malu di dengar tetangga."


"Mas Rais mana?" Sebuah pertanyaan yang bahkan tidak nyambung dengan kata-kata sang ibu.


Ayah Mayra nampak keluar kamar, ibu nya mengekor di belakang, "kenapa ninggalin Mayra? Abu mau kemana?"


"Jangan paksa dia, Bu. Bagaimana pun kita juga salah jika menyuruhnya kesini demi anak kita."


"Umi tahu apa? Dia harus bisa menyadarkan Mayra."


"Umi mohon kepada Abu. Jangan egois, jangan mementingkan hak Abu sendiri. Sudah cukup putri kita terkatung-katung. Umi nggak mau lihat yang lebih dari ini."


"Justru itu Abu mau menyuruh Rais kesini, untuk menyadarkan Mayra."


"Kalau Mayra sadar, lalu menginginkan Rais untuk tetap tinggal dengannya, apa yang akan Abu lakukan selanjutnya?"


"Entahlah. Yang terpenting saat ini Abu akan menemui Rais dulu."


****


Tiga jam ayah Mayra menemouh perjalanan Solo-Klaten. Mengingat malam ini malam sabtu, tidak begitu banyak lalu-lalang kendaraan yang saling berkejar-kejaran di jalanan.


"Untuk apa lagi Paman kesini?" Ucap Rais diberanda rumah. Sedangkan Ara membuatkan tea hangat untuk sang tamu.

__ADS_1


Ada sedikit perasaan gusar, namun Ara masih tetap pada posisinya. la laham bet sekarang bagaimana hati Rais. Sembari mengaduk tea hangat yang terletak dihadapnnya. Calon ibu muda itu nampak mengelus lembut perutnya yang terlihat begitu membuncit.


Ara melangkah ke beranda, membawa nampan yang berisi dua cangkir tea poci.


Rupanya ayah Mayra tidak serta merta msnjawab pertanyaan Rais, lelaki baya itu menunggu istri Rais datang juga.


"Begini, entah Paman harus berbicara dari mana dulu. Yang jelas, saat ini Paman butuh bantuan kalian. Terlebih kamu, Is. Paman sebelumnya minta maaf karena sikap Paman yang tidam baik padamu."


"Paman tenang saja, saya sudah memaafkab Paman. Paman butuh bantuan apa dari kami berdua?" Ucap Rais sesekali melempar pandang kepada sang istri.


Ara nampak tertunduk, jemari tangannya hanya mengelus perut yang buncit.


"Mayra depresi." Ucap ayah Mayra lirih.


"Depresi?" timpal Ara kaget. Sedangkan Rais nampak menautkan kedua alisnya.


"Iya, sudah beberapa bulan ini dia mengurung diri di kamar. Hanya nama Rais yang selalu ia panggil." Ucapnya dengan menanggalkan rasa malu.


Kata-kata ayah Mayra sudah membuat Ara iba.


"Lalu? apa yang bisa kami lakukan untuk putri, Bapak?" ucal Ara iba.


"Saya minta tolong, Rais, tolong kamu jenguk anak Paman. Mungkin dengan kedatanganmu kerumah Paman, Mayra akan lebih baik." Ucapnya mengiba, "Paman mohon pada kalian. Hanya kalian yang bisa membangkitkan mental putri saya."


"Abi? Apa tidak sebaiknya Abi menjenguk Mayra?" Ucap Ara sembari memegang jemari Rais.


"Maaf Paman. Saya tidak bisa menjenguk Mayra. Tapi, tenang saja, saya akan mendoakan untuk kesembuhan Mayra." Ucap Rais tanpa peduli dengan ucapan sang istri.


"Abi? lkutlah bersama bapak ini. Ummi percaya Abi tidak akan mengecewakan Ummi."


Ayah Mayra nampak tertunduk lesu, sepertinya ia tahu, jika kedatangannya kali ini sama seperti kedatangan sebelum-sebelumnya, gagal membawa Rais ikut serta dengannya.


"Tapi Abi yang kecewa sama Ummi. Nggak sepatutnya Ummi nyuruh suami untuk menemui wanita lain." Tukas Rais sedikit nampak kesal kepada Ara.


"Ummi nggak bermaksud kaya gitu, Bi. Ummi hanya iba sama Mayra."


"Kita boleh iba, tapi tidak harus juga Ummi berkata seperti itu."


"Apa salahnya kita sesama manusia saling menolong, Bi?"

__ADS_1


"Istrimu benar, ls. Saya kesini hanya minta tolong agar kamu bisa membujuk Mayra supaya lebih baik lagi. Tidak depresi." Timpal ayah Mayra.


__ADS_2