
Seminggu telah berlalu, kini Rais serta Ara telah kembali pulang ke Klaten. Semenjak menerima panggilan masuk dari Mayra, Rais nampak seperti diselimuti rasa bersalah yang mendalam kepada Ara. Terlebih ia telah mendapat wejangan dari sang kakak, hingga membuatnya benar-benar berada di sitiasi yang keliru.
Rais seperti ingin mengutarakan kegelisahannya tersebut kepada sang istri. Namun ia bingung, harus berawal darimana ia mulai cerita. Sebab, lelaki itu sudah menebak jika Ara akan marah padanya. Mungkin akan lebih marah dari awal dia telah membohonginya.
Hari ini Rais sengaja membuat susu lebih banyak, sebab sejak ia dan Ara menghabiskan waktu liburan di Solo selama seminggu kemaren, banyak pesanan yang membludak. Hingga membuatnya harus lebih banyak menyediakan susu.
"Bi ... biar nanti Ummi bantuin Abi antar susunya. Kan ada motor nganggur, jadi Abi ke daerah Tempur, Ummi ke daerah masjid Al-aqsho. Karena Ummi tahunya daerah situ aja." Ucap Ara sembari mengaduk-aduk susu diatas kompor.
"Nggak usah, Mi. Ummi dirumah aja. Biar Abi yang nganter-nganter susunya."
"Nggak apa-apa, Bi. Toh Tempur sama Al-aqsho kan beda jalur. Akan memakan waktu kalau harus kesana-kesini. Jadi, kita bagi tugas gitu, Bi." Sanggah Ara dengan senyuman manis.
"Emh ... tapi? Apa Abi nggak ngerepotin Ummi?"
Ara tersipu, "sejak kapan dalam rumah tangga ada kata ngerepotin, Bi? Bagi Ummi, kerjaan suami ya kerjaan istri, begitu juga sebaliknya. Ara pengennya kita kompak dan selalu kerjasama. Toh dirumah juga nggak ada kerjaan kan?"
"Iya, Mi. Maafin Abi, ya?"
"Abi ini tiap hari kerjaannya minta maaf terus. Ummi aja kayanya belum pernah minta maaf." gelak Ara.
Suasana didalam rumah tersebut nampak riang dan hangat.
****
Sore telah menyapa pelataran daerah Klaten. Di dalam rumah bernuansa jawa tersebut, nampak dua insan sedang sibuk bersiap untuk menjajakan susunya masing-masing. Sebagaimana yang telah di diskusikan siang tadi, Ara ke daerah Al-aqsho, sedang Rais ke daerah Tempur.
Setelah semua siap dengan dagangan masing-masing, kini keduanya telah berada diatas motor masing-masing.
"Mi? Kok Abi khawatir, Ummi bawa motor sendiri?"
"Abi lebay. Asal Abi tahu, dulu waktu Ummi masih gadis, setiap kali pergi dinas. Ummi bawa motor sendiri, dari Bintaro ke Jatinegara, tiap hari."
"Iya, tetep aja Abi khawatir. Ummi hati-hati, ya?"
"Insha Allah, Bi. Abi juga hati-hati."
__ADS_1
Sesampai di area Al-aqsho, kini Ara berjalan menuju teras masjid, dimana ia dan beberapa konsumen telah berjanjian untuk bertemu di depan masjid.
Sepuluh menit Ara menunggu kedatangan para pelanggannya. Kini, para pelanggan tersebut telah mengerumuni Ara yang membawa keranjang berisi botol-botol susu pesanan mereka.
Susu tinggal 5 botol. Kini waktunya Ara berjalan disekitaran masjid untuk menjajakan sisa susu tersebut.
"Mbak! Susu." seorang wanita meneriaki Ara yang sedang berjalan. Sontak wanita cantik itu menoleh kearah datangnya suara.
Ara tercekat, ia mengingat-ngingat siapa gerangan yang memanggilnya barusan. Sebab, wajahnya begitu tidak asing bagi Ara.
"Mbak Ara? Iya ... mbak Ara, kan?" tanya wanita dihadapan Ara.
"Iya? Siapa ya? Kok spertinya kita pernah ketemu?" ucap Ara sembari mengingat-ingat gerangan yang berada dihadapannya.
"Mayra, Mbak. Masa lupa? Kapan hari kita ketemu di restoran kota Solo." jawab wanita yang mengaku dirinya Mayra.
Ara terperanga. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan wanita yang pernah mengisi hati suaminya tersebut.
"Astagfirullah. Maaf Mbak May, saya lupa kalau kita pernah bertemu. Gimana kabar Mbak May? Kesini sama siapa?"
"Alhamdulillah baik, Mbak. Saya sendiri. Kebetulan dua hari yang lalu saya Klaten. Kerumah Kakak saya. Mbak Ara apa kabar? Mas Rais mana?" ucap Mayra sembari menoleh kanan kiri mencari sosok Rais.
"Owh gitu? Jadi ini Mbak Ara jualan susu juga? Sebelum menikah dengan Mas Rais, Mbak kegiatannya apa?" Tanya Mayra penasaran.
"Mbak Mayra mau susu berapa botol?" ucap Ara tanpa menjawab pertanyaan Mayra.
"Ya allah... iya sampai lupa. 2 botol aja Mbak."
Ara sengaja tidak mau menjawab pertanyaan Mayra. Baginya, cukuplah wanita yang tengah berdiri dihadapannya hanya mengenal namanya tidak dengan profesinya sebagai apa.
"Mbak May, saya duluan ya?" ucap Ara tersenyum.
"Mbak Ara... Bisa kita ngobrol bentar?" tanya Mayra. Wanita itu seakan menghalangi langkah Ara yang hendak menuju parkiran.
"Ngobrol apa Mbak?"
__ADS_1
"Mas Rais." ucapnya singkat.
Kata-kata Mayra sontak membuat Ara mengernyitkan dahinya. Bagaimana tidak, sepertinya Mayra memang dengan sengaja ingin tahu tentang sang suami .
Ara mengembuskan napasnya berlahan.
"Bukannya Mbak May udah kenal suami saya, jauh sebelum kami menikah?"
"Iya memang benar. Tapi, saya pengen tahu kenapa kalian bisa menikah."
Ara tersenyum, wanita itu mencoba untuk tidak tersulut emosinya. "Jodoh yang telah mempersatukan kami, Mbak."
"Mbak Ara bisa aja. Saya serius Mbak? Mungkin Mbak Ara udah tahu saya dan Mas Rais dulu sedekat apa."
"Iya Mbak. Mas Rais bilang sama saya, kalau Mbak May adalah cinta pertamanya yang sempat ingin dinikahi tapi tidak mendapat restu. Benar begitu, Mbak?"
"Iya Mbak. Kami memang saling mencintai."
"Terus?"
"Ya seperti yang Mbak Ara bilang tadi. Itu benar., dan sekarang ini, saya hanya ingin menjalin silaturahmi dengan Mbak. Saya nggak ada maksud apa-apa Mbak sama kalian berdua. Bahkan kapan hari saya telpon Mas Rais mau minta nomor Mbak Ara. Tapi mas Rais malah bilang salah sambung. Ya sudah, saya langsung nggak hubungi dia lagi. Takutnya Mbak juga salah paham. Tapi sungguh, saya tidak ada niatan untuk merusak kebahagiaan kalian."
Mendengar kata telpon dan Rais mengatakan jika salah sambung. Membuat Ara benar-benar kaget. Wanita itu merasa jika dirinya telah dibohongi lagi oleh Rais. Namun dia tetap bersikap seperti biasa saja dihadapan Mayra.
"Oh mungkin Mas Rais lagi nggak konsen Mbak. Makanya dikira salah sambung." Ucapnya dengan senyum. "Mbak May tenang saja, saya bukan type pencemburu yang sifatnya cemburu buta. Asal keduanya jujur sama saya, saya tidak akan marah apalagi cemburu." lanjut Ara.
"Kalau gitu, boleh saya minta nomor Mbak Ara? Saya tidak enak jika minta sama Mas Rais. Nanti dikira saya sengaja gangguin dia."
"Sebelum saya kasih nomor saya sama Mbak May. Boleh saya tanya satu hal?"
"Tanya? Tanya apa Mbak?"
"Selain menjaga silaturahmi, untuk apa Mbak minta nomor saya? Kita kan baru kenal, apalagi Mbak adalah masalalu suami saya."
Mayra terdiam. Wanita itu tidak bisa menjawab pertanyaan Ara.
__ADS_1
Memang benar, tidak wajar bagi masalalu pasangan kita meminta nomor kontak kita hanya sebatas mengatas namakan 'silaturahmi'. Sebab dari kata tersebut, akan ada masa-masa yang pasti tidak kita inginkan. Salah satunya menceritakan masalalunya, barangkali ke kita.
"Saya tidak apa-apa Mbak May minta nomor saya. Tapi, alangkah baiknya jika saya tahu apa motivasi Mbak May hingga mau berkomunikasi dengan saya. Saya duluan Mbak, udah mau magrib. Takutnya Mas Rais udah sampai rumah duluan, saya belum. Makasih ya Mbak. Assalamualaikum." tutur Ara, lalu pergi dari hadapan Mayra yang nampak masih malu karena ucapan Ara.