JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
MUNGKINKAH JATUH CINTA?


__ADS_3

Zaki berulang kali mencoba untuk memejamkan matanya. Pemuda tampan itu seakan sedang memikirkan sesuatu yang begitu membuat dadanya sesak untuk sekedar bernapas. Sesekali lelaki itu mencoba untuk mengganti posisinya yang tengah rebahan diatas kasur. Korneanya menari-nari di atas langit-langit rumah yang telah nampak sedikit kusam akibat tergerus masa.


Kenapa pikiranku bisa semrawut begini? Apa aku sudah gila? Memikirkan gadis jutek itu! Runtuk Zaki dalam hatinya.


Pemuda itu nampak semakin kesal, manakala wajah imut Mila semakin menjejali pikirannya.


Aaarg ... kayanya nggak mungkin! Untuk apa aku mikirin dia, gadis tengil! Mana masih bocah! Lagi-lagi Zaki berinteraksi dengan pikirannya sendiri, seakan enggan menerima apa yang memang sedang ia pikirkan.


Malam semakin larut, temaramnya lampu kamar Zaki seakan menjadi saksi bahwa; ia benar-benar tidak bisa lepas untuk tidak sekedar memikirkan gadis kecil yang usianya jauh dibawahnya. Kali ini Zaki seakan lelah dengan segudang pikirannya, kelopaknya semakin sayu, bahkan tak menunggu waktu lama, pemuda berkarisma itu akhirnya lelap dalam tidur.


*****


Untuk kesekian kalinya, pagi menyeruak di pelataran kota Kelaten, sejuk, bahkan tetesan embun masih nampak berkilauan di pucuk-pucuk dedaunan serta rerumputan liar.


Pagi ini, terlihat Ara beserta Rais dan duo Zul tengah menikmati embusan udara segar, sinar sang surya yang membuai lembut di bagian-bagian kulit yang tak tertutup, seakan menambah dua sejoli itu semakin giat dalam melakukan aktivitas pagi ini. Sesekali netra Ara melihat ke arah bangunan megah yang proses pembangunannya hanya tinggal lima persen saja.


"Ummy bahagia banget, Bi. Bentar lagi, bakalan buka praktek." Tukasnya kepada Rais, tak lupa ibu muda itu mengembangkan senyum begitu menawan di kedua sudut bibirnya.


"Iya, My, Abi juga ikut bahagia, semoga ... nanti usaha Ummy berjalan sebagaimana mestinya, dan semoga saja niat baik kita bisa diterima oleh masyarakat, apalagi yang ekonominya dibawah kita," tutur Rais sembari menatap tegas bangunan yang berdiri kokoh tepat disamping kediamannya.


"Aamiin," jawab Ara menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Ditengah mereka sedang asik mengobrol tentang rencana kedepan, sebuah mobil masuk kedalam pelataran rumah. Masih terlalu pagi, namun mobil dengan plat AD itu menerobos masuk dan berlahan berhenti dan terparkir tepat di,hadapan kediaman Ara dan Rais.


"Zaki! Tumben pagi-pagi banget kesini? Ada apa?" Seloroh Ara, ia beserta Rais nampak berjalan menuju Zaki yang tengah mematikan mesin mobilnya.


Zaki nampak tersenyum, pemuda itu masih memikirkan jawaban apa yamg pas ia lontarkan kepada pasangan muda yang kini berdiri tepat di samping pintu mobilnya.


"Ada apa, Mas?" Kali ini Rais mencoba membuka suara dengan tersenyum.


Netra Zaki nampak berputar-putar, nampaknya ia lupa, jika ini masih pukul tujuh pagi, tidak seharusnya ia bertamu kerumah orang sepagi ini tanpa ada alasan yang membuatnya bertamu.


"Mas Zaki? Ayo masuk kerumah, Mas." Rais memecah lamunan Zaki, bapak dari dua anak kembar itu mengajak Zaki turun dari kendaraannya untuk masuk dalam rumah.

__ADS_1


"Eh ... i-iya, Mas. Saya kesini ... saya kesini karena kangen sama Zulva dan Zulvi, iya ... begitu." Ucap Zaki nampak gugup, hingga membuat kedua alis Ara dan Rais saling bertautan.


Bukan Rais namanya, jika ia tak menaruh curiga akan sikap Zaki sahabat sang istri. Nampaknya, lelaki itu lagi-lagi menaruh cemburu terhadap Zaki.


"My, tolong bikinin tea buat mas Zaki, ya? Biar anak-anak sama Abi dan mas Zaki disini." Pinta Rais kepada Ara, yang langsung di iyakan olehnya.


Sesampai Ara di dapur, rupanya wanita cantik itu tidak lantas menyalakan kompor gasnya. la masih nampak berfikir, apa gerangan yang membuat sang sahabat sepagi ini berkunjung kerumahnya.


Semoga aja Abi nggak cemburu lagi! Runtuk Ara dalam hati. lbu muda itu kini nampak merais sebuah teko untuk segera diisi air dan memasaknya diatas perapian.


Di beranda rumah, nampak Zaki dan Rais saling terdiam duduk berhadapan, sedangkan duo Zul nampak bermain diatas kereta dorong dengan sebuah mainan kecil di kedua tangan mereka maisng-masing.


"Sebenarnya ada apa, Mas? Kok sepertinya mas Zaki panik gini?" Rais membuka percakapan. Memang benar, raut panik nampak jelas di wajah Zaki.


"Ng ... nggak apa-apa, Mas. Oh, ya? Sepertinya bangunannya udah mau selesai ya?"Zaki bingung harus berbicara apa kepada kakak Mila tersebut.


"Oh, iya. Doakan ya, Mas, sebentar lagi istri saya buka praktek." Jawab Rais.


Sejenak suasana hening, Ara dan Rais saling melempar pandang kepada arah Zaki yang tertunduk. Pemuda itu nampak menganjur napas, sebelum pada akhirnya memutuskan untuk bertanya sesuatu kepada sejoli dihadapannya.


"Mila kemana?"


Pertanyaan yang membuat Ara serta Rais melongo, bahkan, mereka berdua sempat saling bertatap muka dengan tercengang.


"Eh ... m-maaf, maksud saya___"


"Mila di pondok, Mas. Dia pulang kalau hari jumat saja." Rais memotong perkataan Zaki yang terlihat gugup.


"Ada apa? Kok tiba-tiba kamu tanya perihal, Mila, Zak?" timpal Ara.


Zaki tertunduk, hatinya berdetak kencang. Pemuda itu bingung dengan jawaban yang pas untuk ia lontarkan kepada Ara dan Rais.


"Jangan bilang kalau kamu?" Ara menggantung pertanyaannya.

__ADS_1


Rais memberi kode kepada Ara, agar tidak melanjutkan pertanyaannya yang mungkin akan membuat Zaki semakin malu.


"Monggo di minum, Mas, tea nya. Keburu dingin," ucap Rais mencairkan suasana, nampaknya ia tahu kemana arah pertanyaan Zaki tentang adiknya tersebut.


Zaki mengangguk, dengan gemetar ia nampak menyesap tea yang mengebul didalam cangkir.


"Mila itu masih mau kuliah, Mas." Ucap Rais pelan.


Zaki nampak tersenyum, menaruh kembali cangkir diatas meja.


"Memang ada apa? Mas Zaki mencari Mila?" lanjut Rais.


"Nggak apa-apa, Mas. Cuma saya lihat kok dia nggak ada," jawab Zaki masih berusaha menenangkan hatinya sendiri.


"Dia nggak tinggal disini, Mas. Tinggal sama Ibu di kampung sebelah,"jawab Rais.


Sejenak Suasana nampak hening, hanya terdengar celotehan duo Zul diatas stoller.


"Saya balik dulu, Mas." Tetiba Zaki memutuskan untuk pulang dari kediaman Rais.


"Kok keburu-buru?"


"lya, soalnya juga mau siap-siap kerja."


Ara dan Rais masih nampak bingung dengan tingkah Zaki yang aneh.


****


Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Rais, nampak Zaki seperti orang tidak waras. Bahkan sesekali ia bergumam pada dirinya sendiri.


Ngapain aku kerumah Rais sepagi ini? Gumam Zaki kesal.


Pasti mereka berdua nyangka kalau aku suka ama Mila! Suka? Ah ... nggak mungkin, iya ... nggak mungkin. Zaki masih saja menepis rasa yang memang hadir begitu saja di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2