
"Abi... sebelum kita pulang ke Klaten, mau nggak Abi nemenin Ummi ke makam mas Ali?" sebuah pertanyaan di layangkan oleh Ara kepada suami tercintanya.
Dengan senyuman penuh kehangatan Rais bilang, "lho, ya boleh dong, Mi... Abi juga pengen tahu dimana makam mas Ali..." jawabnya dengan suara begitu lembut.
Setelah mereka berbincang-bincang sejenak di meja makan, kini kedua anak Adam yang telah sah menjadi sepasang suami istri tersebut beranjak menuju kamar. Membersihkan badan masing-masing, untuk selanjutnya bersiap-siap menuju ke makam Ali.
"Oh, ya, Mi... Ummi langsung ambil wudhu dari rumah saja. Takutnya, di area makam susah nyari air bersihnya." Rais mengingatkan Ara.
Ara hanya mengangguk disertai senyum manis.
******
Sesampainya di pemakaman Ali. Ara nampak tak bisa membendung air matanya. Ia menangis di dalam pelukan Rais sang suami. Entah apa yang tengah ada dalam pikiran Ara. Ia terus saja membasahi kedua pipinya dengan air mata.
"Sssstt... sudah sayang, jangan nangis. Nanti almarhum malah ikutan sedih kalau lihat kamu nangis gini..." Ucap Rais, tangannya membelai lembut mahkota Ara yang tertutup oleh hijab berwarna gelap.
__ADS_1
"Ummi hanya sedih Bi..." jawab Ara dengan suara parau. Sesekali terdengar sesenggukan.
"Iya... Abi ngerti. Udah, kita kirim doa dulu aja buat mas Ali. Semoga mas Ali tenang di alam sana, di lapangkan kuburnya, dan bahagia melihat kita saat ini sudah bersama..." tukas Rais.
Setelah berlama-lama di makam Ali. Kali ini Ara berniat mengajak Rasyid ke rumah ke dua orang tua Ali. Sebab, bagi Ara kedua orang tua Ali adalah orang tuanya juga.
"Kita kerumah mas Ali ya, Bi?" ajaknya dengan suara pelan.
"Iya... Ummi mau ngajak Abi kemana aja, Abi siap nganter." tukasnya, kedua tangannya memegang erat jemari Ara.
"Iya sama-sama, Mi... Lagian itu juga sudah jadi tanggung jawab Abi. Membahagiakan Ummi lahir batin, dengan cara Abi dan sebisa Abi..."
******
Sesampainya di kediaman almarhum Ali, nampak keduanya sedang duduk di atas sofa bermotif bunga-bunga kecil dengan corak pink kombinasi hitam. Terlihat elegan.
__ADS_1
Kedua orang tua Ali menyambut mereka berdua dengan begitu antusiasnya.
"Kalian kapan balik ke Klaten?" tanya ibu Ali dengan memoles senyum di kedua sudut bibirnya. Binar kebahagiaan begitu nampak di kedua manik mantan mertua Ara tersebut.
"Insha Allah sore ini, Bu..." Jawab Rais mewakili Ara.
"Lho kok cepet bener? Baru juga beberapa hari ini, kan?" sahut ayah Ali.
"Iya, Pak. Soalnya dek Ara harus kerja lagi. Cutinya hanya sembilan hari." Lanjut Rais.
"Ara sayang, disini Umma dan Abi selalu doain kamu, semoga kamu selalu bahagia dengan suamimu sekarang. Dan untuk almarhum Ali, Umma tidak pernah meminta kamu untuk melupakannya. Sebab, bagaimana pun juga almarhum juga suami kamu yang dipisahkan oleh kematian. Bukan begitu Nak Rais?" seloroh ibu Ali.
Rais tersenyum, "betul, Bu... Saya juga sependapat dengan Ibu, kalau dek Ara jangan pernah melupakan mas Ali. Jangan melupakan yang artinya selalu sediakan waktu luang untuk mengirimkan doa khusus untuk mas Ali... pun dengan saya, saya akan selalu mendoakan untuk almarhum putra Bapak dan Ibu..." kata Rais panjang lebar.
"Kamu nggak salah pilih, sayang. Suami kamu benar-benar orang terdidik dan ngerti agama. Umma beserta Abi sangat bahagia, Ara bisa bersanding dengan laki-laki yang bisa membimbing seperti ini. Semoga Allah senantiasa menjaga kalian berdua." tukas ibu Ali.
__ADS_1
Sejenak suasan ruangan tersebut hening. Mereka ber empat sedang menyesap tea yang di suguhkan oleh asisten rumah tangga orang tua almarhum Ali.