JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
CEMBURU


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang dari masjid Al-Aqsho, nampak Ara mengerucutkan bibirnya tanpa sepatah kata pun. Bahkan kedua pergelangan tangannya enggan mendekap dan menempel di punggung sang suami. Sepertinya ia tengah dilanda cemburu. Cemburu yang tak beralasan.


Rais yang merasa sang istri seperti berubah semenjak percakapannya di depan masjid tadi. Akhirnya memilih untuk menepikan motor bebeknya dibahu jalan. Ia ingin mematiskan jika perasaannya telah salah menilai sang istri sedang cemburu buta.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rais sembari mematikan mesin motor berwarna merah.


Ara enggan menjawab pertanyaan Rais. Baginya, Rais harusnya menjawab pertanyaannya ketika di area masjid Al-Aqsho tadi.


"Ummi marah sama Abi? kali ini pemuda berkarismatik itu nampak menjagang sepeda motornya, lalu turun dan menatap wajah sang bidadarinya yang masih duduk diataa motor.


Ara semakin menenggelamkan wajahnya, pandangannya nampak jatuh diatas jog motor yang masih ditungganginya.


"Hei ... istri Abi kenapa?"


"Ayo pulang. Udah malem." Ajak Ara tanpa mempedulikan pertanyaan sang suami.


"Nggak! Abi nggak mau pulang, sebelum istri cantik Abi ini bilang, ada masalah apa?"


Ara terlihat tengah menganjur napas, lalu mengembuskannya secara berlahan.


Seharusnya aku nggak terbakar cemburu kaya gini! Lagian, bukan Rais saja yang punya mantan. Astagfirullah. Runtuk Ara dalam hati kecilnya. Hingga membuat kedua pipinya merona akibat rasa malu kepada sang suami.


"Hei ... apa Abi ada salah?" Tanya Rais semakin penasaran.


"Astagfirullah, nggak, Bi. Abi nggak salah. Ummi aja yang kelewatan." Jawab Ara malu-malu.


Rais terlihat menautkan kedua alisnya, "kelewatan apa? Kenapa?" Tanyanya semakin penasaran.


"Tentang masalalu, Abi. Abi benar ... nggak seharusnya Ummi mengulik masalalu Abi." Jawabnya parau.


Sontak Rais terkekeh dengan pernyataan sang pujaan hati. "Owalah gara-gara yang tadi, tho? Iya-iya, nanti Abi bakal cerita semua."


Ara mengerutkan keningnya. Ia bingung, sebab tadi sang suami sendiri yang berkata; bahwa tidak baik mengulik masalalu. Tapi? Kenapa sekarang malah dia mau menceritakan semua secara detail?


"Nggak usah, Bi."


"Nggak apa-apa ... dari pada Ummi terbakar cemburu dan menebak-nebak."


Rais benar. Ia tak ingin Ara menebak-nebak siapa sang mantan dan sejauh mana mereka berhubungan selama ini.


"Tapi, Bi."


"Ayo pulang dulu. Nanti sampai dirumah, setelah sholat isya' Abi Insya Allah bakal cerita sama Ummi."


Ara mengembuskan napasnya dengan kasar. Sedangkan Rais memilih untuk menyalakan kembali mesin motor bebeknya. Lalu, dua sejoli tersebut memutuskan untuk melanjutkan perjalan pulang.


Sesampai dirumah, kumandang adzan isya' mulai terdengar dari mushollah dekat rumah Rais. Seperti biasa, lelaki tampan itu memilih untuk sholat berjamaah di mushollah. Sedangkan Ara sholat dirumah sendiri.


Selepas menunaikan sholat isya'. Nampak Ara tak langsung beringsut dari atas sajadahnya. Ia menengadahkan kedua telapak tangannya cukup lama. Memohon pengampunan kepada Sang Khaliq dan memohon agar segera di beri kepercayaan untuk memiliki seorang bayi.

__ADS_1


Lalu, setelah usai dengan ritual keagamaannya. Ara terlihat melanglahkan kakinya menuju dapur. Sedangkan Rais belum nampak pulang dari mushollah.


Menyalakan kompor, lalu meletakkan teko diatasnya. Ara mulai mengambil toples berisi gula, lalu ia mengambil toples yang lain yang berisi tea tubruk asli kota Tegal.


Pandangan perempuan berparas tersebut terlihat sedang kalut. Bahkan ia tak sadar jika dirinya telah menuangkan air kedalam gelas hingga meluber. Hingga akhirnya spontan membuatnya kaget akibat luberan air panas mengenai telapak tangan kirinya.


"Astagfirullah, aku lagi mikir apa, sih!" gerutunya.


Sungguh pikirannya tengah melayang entah kemana.


Ih, padahal aku kira mas Rais nggak pernah jatuh cinta sebelumnya. Nggak tahunya udah punya mantan. Runtuk Ara dalam hatinya. Bibirnya terlihat mengerucut kedepan.


"Assalamualaikum." Ucap Raia dari balik pintu depan rumah, yang tak didengar oleh sang istri.


Pemuda itu memilih untuk nyelonong masuk, pandangannya mengedar mencari keberadaan sang istri.


"Eh, Abi, udah pulang?" ucap Ara kaget. Ketika melihat Rais tengah berdiri di pintu dapur.


"Sudah sayang. Bakhan Abi ngucap salam aja nggak di jawab. Ummi kenapa? Banyak pikiran bangef kayanya?"


Lagi-lagi Ara mengembuskan napasnya dengan berat. "Siapa nama mantan Abi?"


Rais menggeser kursi di ruang makan. Ia menaruh kopiyah yang dipakaunya ke mushollah tadi.


"Sayang? Benar Ummu mau tahu siapa mantan Abi?"


"Abi mencintainya."


Seketika kata-kata Rais barusan membuat hati Ara porak poranda. Apa yang ia yakini selama ini, jika dirinya adalah wanita satu-satunya sepertinya sirna sudah.


"Kenapa kalian putus?" tanya Ara dengan suara parau.


"Ya ... karena Allah nggak Ridho jika Abi pacaran."


"Kenapa nggak nikah aja!" kali ini suara Ara terdengar sedikit ketus. Bahkan tea tubruk yang hendak di sesapnya, ia letakkan kembali.


"Sebab itu___"


Belum sempat Rais melanjutkan kata-katanya. Ara memotong kata-kata Rais, "sebab itu Abi selama kenal Ummi nggak pernah lihatin mata Ummi ... iya kan?"


"Lho ... kok sampai-sampai kesitu sayang?"


"Terus apa dong?"


Rais tersenyum melihat tingkah Ara yang kelewat cemburu.


"Awal Abi mengenal wanita cantik itu sebelum kita menikah."


"Apa! Wanita cantik!"

__ADS_1


"Tenang dulu. Kan Abi belum selesai ceritanya."


Ara membuang napas dengan kasar, kepalanya terlihat mengangguk beberapa kali.


"Entah kenapa, sewaktu awal Abi berjumpa dengan gadis itu. Abi selalu memohon kepada Allah agar kiranya dipertemukan kembali."


"Lalu?" telisik Ara penasaran. "Kalian jadian, dan karena kenal Ummi, jadi Abi berpaling! Gitu?"


Kali ini Rais benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tertawanya.


"Kenapa malah ketawa? Ummi serius, Bi?"


"Abi lebih serius, Mi."


"Siapa nama gadis itu? Orang mana?"


"Orang Jakarta."


Ara menautkan kedua alisnya, "Jakarta?"


Rais mengangguk.


"Siapa namanya?"


"Ayo kekamar. Nanti Abi tunjukan siapa orangnya."


Apa! Jangan bilang kamu nyimpen foto perempuan itu Rais! Runtuk Ara dalam hati.


Kali ini Ara menyetujui ajakan sang suami. Ia benar-benar dibuat penasaran oleh Rais.


"Coba Ummi lihat? Siapa orang dalam cermin itu."


"Ummi sama Abi." Ucap Ara, kali ini ia benar-benar kebingungan.


"Sudah tahu kan? Siapa mantan Abi?"


"Maksud Abi???"


"Iya ... Ummi mantan Abi. Abi baru merasakan yang namanya jatuh cinta, itu hanya sama Ummi. Sebab itu Abi memberanikan diri untuk mengajak Ummi menikah."


"Tapi ... kita kan nggak pacaran, Bi?"


"Memang nggak. Tapi harus Ummi ingat, kalau Ummi yang udah ngajarin Abi ciuman."


Kali ini Ara mati kutu dibuat Rais. dokter muda itu sangat ingat betul siapa orang pertama yang melayangkan ciuman tepat di bibir Rais.


"Masih cemburu?" goda Rais. "Kalau masih cemburu. Ummi marahin aja tuh cermin. Biar orang yang didalam cermin itu sadar kalau dirinya yang telah merebut hati suamimu ini."


Ara menenggelamkan wajahnya disela-sela jemarinya. Ia sadar, jika saat ini pasti kedua pipinya merona merah akibat malu kepada Rais.

__ADS_1


__ADS_2