
"Mas Rais!" teriak sebuah suara dari belakang Rais yang sedang menjagang motornya di area parkir masjid.
Jantung Rais serasa mau copot. Ia benar-benar tidak menyangka, jika wanita itu akan mendatanginya. Lelaki itu membuang tatapannya, dengan cekatan ia mencoba untuk menstarter motor maticnya kembali. Namun, si wanita telah menghadang Rais di depan kendaraannya.
"Ada apa lagi, May? Jangan ganggu aku. Aku mau jualan." Ucap Rais setengah meradang.
"Ijinin May ngomong, benter aja, Mas. Mbak Ara nggak ikut kan?" Pinta Mayra sembari clingukan mencari sosok Ara.
"Mau ngomong apa lagi? Kan udah jelas, aku ini udah nikah sama Ara. Kamu mau ngomongin apa lagi? Nggak etis seorang laki-laki ngobrol lama berdua sama bukan mahromnya."
"Lima menit, Mas."
"Nggak bisa, May. Aku mau jualan. Kalau memang kamu mau ngobrol, mending kamu ngobrol sama istri aku aja." Kali ini Rais semakin meradang.
"Mas Rais kok jahat? Kamu berubah, Mas. Nggak seperti Mas Rais yang May kenal dulu!" Ucap Mayra lirih.
"Jahat? Jahat dalam hal apa, May? Aku akan lebih jahat jika mempersilahkan setan masuk dalam pembicaraan kita. Maaf May, tolong minggir, aku mau keluar."
"Nggak mau! Pokoknya Mas Rais harus mau May ajak ngobrol. Bentar Mas. Nggak lama."
"Astagfirullah, Mayra! Dengan cara apalagi aku bilang sama kamu. Aku sibuk, nggak ada waktu buat nemenin kamu ngobrol."
"Apa Mas Rais benar-benar melupakan Mayra? Dulu Mas Rais meminta agar May bersabar demi dapat restu dari Ayah dan Ibuku."
Rais pun mematikan motornya. Lelaki itu mengembuskan napasnya dengan kasar.
"Denger ya May. Itu masalalu kita. Sekarang, aku udah punya masadepan. Mungkin kita memang nggak berjodoh. Tolong kamu pahami itu. Lagian, dulu yang nyuruh aku untuk lupain kamu, itu dari keluarga kamu. Mereka bìlang kamu udah dijodohin sama anak dari orang kaya. Jadi, bukan salahku jika aku sekarang sudah menemukan tambatan hati. Lebih baik, sekarang kamu doakan semoga pernikahanku langgeng hingga ke jannah. Begitu pun sebaliknya, aku akan mendoakanmu agar kamu mendapatkan jodoh yang baik dunia akhirat." aucap Rais panjang lebar. Membuat air mata Mayra bercucuran. Hingga sebagian orang yang melintas dihadapan mereka melihat.
"Tapi Mas. Mayra mencintai Mas Rais."
"Aku nggak bisa larang kamu untuk tidak jatuh cinta sama aku. Tapi harus kamu tahu. Cintaku hanya untuk istriku, May."
"Mas Rais bohong!" pekik Mayra.
"Untuk apa berbohong. Aku tidak mungkin menikahinya jika aku tidak mencintainya."
"Mas Rais jahat. Aku udah menunggu kamu lebih dari lima tahun, Mas."
__ADS_1
"Sudah aku katakan padamu. Itu bukan salahku, May. Andai dulu keluargamu mengijinkanku untuk menikahimu. Tapi itu mustahil, karena kita memang tidak berjodoh. Pulanglah. Aku sedang sibuk." Ucap Rais meminta kepada Mayra.
Wanita itu terus saja menangis dihadapan Rais. Hingga membuat Rais bingung harus berbuat apa.
"Aku tanya sama kamu. Apa yang kamu mau dariku, May?"
"Apa Mas Rais akan mengabulkan permintaanku?"
"Entahlah. Jika aku mampu, aku akan mengabulkannya. Asal, jangan kamu usik lagi kehidupanku dengan Ara."
"Aku ingin Mas Rais menikahiku!"
"Gila kamu, May! Aku ini suami orang!" Jelas Rais dengan wajah merah padam.
"Tapi lelaki bisa menikah dengan lebih dari satu wanita, Mas."
"Maksud kamu?"
"Sunnah Rhasul saja boleh menikahi 2 wanita sekaligus. Kenapa kamu tidak?"
"Jangan mengatas manakan Sunnah. Masih banyak sunnah lainnya daripada poligami. Bagiku, tidak ada yang mampu menikahi wanita lebih dari satu secara adil, kecuali Rasulullah. Jadi, aku mohon jangan pernah mengatakan 'poligami karena sunnah'. Rasulullah saja menikahi wanita-wanita yang memang hamba sahaya, demi menolong mereka dari fitnah. Bukan untuk pameran atau sebuah senang-senang. Maaf May, aku nggak bisa membagi hatiku untuk wanita lain. Bagiku, satu istri sudah cukup. Kini, yang aku pikirkan bagaimana caranya aku membawa istriku hingga ke jannah.Nya."
"Tapi aku mencintai kamu, Mas!" Mayra masih beruapaya myakinkan Rais.
"Cintai diri kamu sendiri dulu. Jika sudah, pasti hatimu akan tenang, dan aku yakin, Allah pasti sudah menyediakan jodoh terbaik untukmu. Maaf May, bisa pergi dari hadapanku? Motorku mau keluar."
Mayra masih nampak sesenggukan, perempuan itu kehabisan cara untuk meyakinkan Rais, betapa dirinya sangat mencintainya, pun dengan hatinya yang saat ini luluh lantak, Mayra benar-benar ingin diperhatikan lebih oleh Rais.
Tanpa peduli dengan tangisan Mayra, Rais berlalu dari hadapan wanita yang pernah mengisi hatinya tersenbut. Di sepanjang jalan, Rais berfikir, apakah kata-katanya tadi kelewat batas kepada Mayra? Tapi, jika tidak begitu, maka Mayra akan tetap bersikukuh untuk mengganggu hidupnya dan Ara.
"Ya Allah. Lindungilah keluarga kecil hamba. Hamba hanya ingin membahagiakan istri." Runtuk Rais.
Rais segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, menyusur jalan hingga sampai di perumahan tempat ia menjajakan susu-susunya.
Para pelanggan sudah menunggu ditempat biasa Rais memarkir motornya. Kali ini susu yang ia bawa nampak banyak dari yang biasanya. Sebab, susu yang harusnya ia jual di area masjid tadi, tidak sempat ia juali belikan kepada pelanggan. Baginya, menghindar lebih baik daripada Allah murka.
"Tumben, Mas, dagangannya banyak banget?" tanya salah satu pembeli.
__ADS_1
"Iya, Bu. Kalau Ibu mau borong saya tidak kebratan." Canda Rais.
"Mas Rais bisa aja."
Lelah dengan menjajakan susu di perumahan. Kini Rais mulai menjajakan susu di pinggir jalan. Tak ada pilihan lain baginya. Jika susu-susu itu dibawa pulang, pasti sang istri akan menanyakan kenapa tidak laku. Kali ini bukan maksud Rais untuk membohongi Ara. Karena baginya, cukup dia yang tahu isi hati Mayra saat ini. Dia tidak ingin membuat sang istri syok. Mungkin, suatu saat nanti dia akan cerita kepada Ara, tentang kejadian hari ini.
Setelah susu tersebut tinggal dua botol, Rais baru menyalan motor untuk pulang kerumah.
Seperti janji Ara terhadap Rais, perempuan cantik itu sedang menunggu kepulangan sang suami di teras rumah. Senyumnya mengembang, manakala melihat sosok lelaki yang dinanti-nanti telah pulang.
"Assalamualaikum." ucap Rais dari pelataran rumah. Yang disambut girang serta balasan salam oleh Ara.
"Waalikumsalam ... Abi capek?" tanya Ara sembari menurunkan keranjang berisi dua botol susu.
"Tadinya capek. Tapi pas lihat istri Abi senyum, hilang rasa capeknya, Mi."
"Gombal." ucap Ara.
Dua sejoli itu melangkah masuk kedalam rumah. Aroma masakan menguar dari dalam ruang makan. Hingga membuat saliva Rais ingin menerobos keluar bibir.
"Emh ... aroma semur ayam ama tempe nih." Ucap Rais.
"Abi? Mandi dulu, baru makan. Abi udah sholah Ashar belum?"
"Abi udah sholat tadi di mesjid Tempur. Kalau mandi?" Ucap Rais sembari mencium keteknya. "Kayanya belum Mi. Minta dimandiin sama Ummi." lanjutnya sembari tertawa.
"Apaan sih, Bi."
"Abi nggak mau mandi kalau nggak dimandiin."
"Udah tua masa minta dimandiin."
"Mi, itu salah satu sunnah lho. Mandi berdua."
"Kan Ummi udah mandi, Bi."
Tanpa basa basi, Rais langsung menggendong Ara menuju kamar mandi untuk mandi berdua.
__ADS_1