JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
KEPUTUSAN ARA


__ADS_3

Pagi telah menyapa kembali. Terdengar kebingaran dari dalam rumah Rais. Hari ini adalah hari dimana Ara akan kembali berdinas, sedangkan Rais pun akan kembali beraktifitas seperti sedia kala; yakni menjajakan susu dagangannya. Sebelum Rais menjajakan susu, pemuda itu berinisiatif akan mengantar sang istri bekerja.


"Mi ... maafkan Abi, ya?" tutur Rais, sehinggam membuat Ara mengernyitkan jidat.


"Maaf kenapa, Bi?"


"Karena Ummi kerja. Sedangkan Abi hanya menjual susu keliling saja. Abi takut, Ummi malu."


"Abi ... kalau Ummi malu, kenapa Ummi menerima Abi sebagai pasangan hidup Ummi?"


Rais tertunduk. Ia begitu malu kepada Ara. Bagaimana tidak. Ara adalah seorang dokter, sedangkan dia hanya seorang penjual susu keliling.


"Kalau memang Abi merasa malu. Ummi akan berhenti bekerja." Tutur Ara tersenyum.


Wanita cantik itu tidak ingin membebani batin sang suami. Bagaimana pun juga, Rais adalah kepala rumah tangga. Jika sampai ia menyinggung hati Rais, maka; gagal lah ia menjadi seorang istri yang baik. Itu pikiran Ara.


"Jangan, Mi! Papa sama Mama menyekolahkan Ummi supaya bisa jadi seseorang yang berguna bagi sesama."


"Nggak apa-apa, Bi. Menjadi seorang dokter tidak harus bekerja di rumah sakit." Lagi-lagi Ara menguatkan hati Rais.


"Maksud Ummi?"

__ADS_1


"Umii akan segera berhenti bekerja. Mungkin, kalau kita sudah punya cukup tabungan. Nanti kita buka praktek saja dirumah. Gimana, Bi?"


"Ini semua harus di musyawarahkan dulu dengan keluarga besar Ummi. Abi tidak mau nanti Ummi malah menyesal."


"Abi? Abi adalah kepala rumah tangga. Abi sebagai nahkodanya. Ummi suda berjanji kepada diri Ummi sendiri. Jika Ummi tidak ingin membuat Abi tidak enak kepad Ummi."


Seketika suasanaenjadi senyap. Ara kembali merapikan pakaiannya yang telah melekat di badannya. Menautkan hijab berwarna abu, menambah raut wajahnya semakin ayu.


Rais kembali ke dapur. Lelaki itu masih berfikir tentang obrolannya dengan sang istri barusan dikamar. Apa kata-katanya benar-benar tidak menyinggung Aram? Rais masig menerka.


"Abi? Anterin Ummi kerja dulu. Setelah itu, Abi jemput Mila, ya?" pinta Ara dari balik pintu kamar.


"Astagfirullah ... iya, kan hari ini jadwal Abi jemput Mila."


****


Sesampai di Rumah sakit tempat berdinas Ara. Wanita dengan balutan jas putih dengan hijab berwarna abu itu terlihat menuju sebuah ruangan. Rupanya Ara sudah mengambil keputusan untuk regsign dari tempat kerjanya. Namun, untuk sementara ia hanya mengajukan pengunduran dirinya melalui lisan. Jika memang di Acc, maka Ara berinisiatif untuk mengajukan surat resminya.


"dokter Ara kenapa mendadak mau regsign? Nggak sayang-sayang?" Tanya seseorang kepada Ara.


"Emh ... nggak kok! Soalnya udah berkeluarga. Mau fokus sama suami."

__ADS_1


"Emang suami ngijinin berhenti kerja, dok?"


"Iya."


****


Senja sore terilhat begitu ayu dengan pancaran panorama yang megah kuning ke emasan. Ara sudah waktunya pulang kerja dengan dijemput oleh Rais. Wanita itu nampak sumringah di gerbang masuk rumah sakit.


"Assalamualaikum ... seneng banget istri Abi?" tanya Rais ketika sampai didepan Ara.


Lelaki itu mengendari motor bebek warna merah, lengkap dengan sebuah helm yang melekat diatas kepalanya.


"Waalaikumsalam ... kok Abi tahu kalau Umi lagi seneng?"


"Kelihatan dari rautnya."


"Iya ... Ummi udah mutusin buat regsign, Bi."


"Apa?"


"Nanti saja ya ceritanya dirumah. Kuta pulang dulu sekarang."

__ADS_1


"Tapi, Mi?"


"Ssssttt ... ayo pulang dulu. Umi udah kangen sama Mila."


__ADS_2