
Setelah seharian mereka bersenda guarau akibat dari tragedi susu tumpah. Saat ini kedua anak adam tersebut tengah menikmati senja sore di tepian pantai. Sengaja Rais mengajak Ara mengelilingi kota Klaten. Bagi lelaki tersebut. Memuliakan dan menyenangkan hati istri itu adalah kewajiban yang mutlak.
Senja semakin menampakkan kegagahannya dengan warna merah saga yang sedikit dibalut dengan awan. Sungguh indah ciptaan Allah yang satu itu. Hingga membuat para penikmat sore semakin enggan melenggangkan langkahnya menuju dalam rumah.
"Mi, kita sholat magrib di masjid Al-Aqso, ya?" ajak Rais.
Lelaki itu sepetinya ingin mengenang pertemuan pertamanya dengan sang istri tercinta.
"Ehm ... boleh, Bi. Tapi ada syaratnya!" ucap Ara, yang tiba-tiba membuat kerutan halus di dahi sang suami.
"Syarat? Syarat apa, Mi?" tanya Rais penasaran.
"Ummi nggak mau disuruh dorong motor sampai bengkel gegara ban bocor." tuturnya dengan disertai gelak tawa yang begitu renyah.
"Astagfirullah. Ummi masih ingat saja kejadian itu."
"Ya, pasti ingat dong, Bi. Apa pun yang telah Ummi lewati dengan Abi, semua masih terbungkus rapih dalam memori otak Ummi."
"Makasih ya, Mi." ucap Rais. Jemari tangan kanannya tiba-tiba meremas lembut jemari sang istri.
*****
Setiba di masjid Al-Aqsho. Kedua sejoli itu tidak langsung masuk dalam masjid. Sebab kumandang adzan magrib masih sekitar lima belas menit lagi. Hingga menjadikan Ara dan Rais sedikit menghabiskan waktu untuk mengobrol di pelataran masjid.
__ADS_1
"Ingat nggak Bi? Dulu waktu kita pertama bertemu itu disana." tutur Ara sembari menunjuk tempat dimana ia berjumpa dengan sang suami untuk pertama kalinya. "Abi menawarkan dagangannya dengan antusias sama Ummi." sambung Ara.
Mata Rais menerawang jauh kemasa dimana ia berjumpa dengan sang pujaan hati. "Iya, ingat Mi. Ummi waktu itu beli tiga liter susu murni. uangnya gede nggak ada kembaliannya. Sampai-sampai Abi harus punya hutang sama Umi," tutur Rais panjang lebar.
"Mungkin kalau uangnya nggak gede. Kita nggak ketemu lagi, Bi." tukas Ara tersenyum.
"Ya, nggak lah, Mi. Allah itu sudah mengatur semua dengan sedemikian rupa. Nggak ada kata pertemuan itu yang kebetulan. Semua sudah direncanakan sama Allah." Ucap Rais. "Mungkin kalau misal kita waktu itu nggak bertemu disini atau uang Ummi kecil. Abi yakin, Allah masih tetap akan mempertemukan kita dengan cara lain." Sambung pemuda berjenggot tipis tersebut dengan lembut.
Ara terlihat mengangguk, "Allah itu Maha baik ya, Bi?"
"Ya-iyalah, Mi. Kalau Allah nggak baik, mungkin nggak akan diciptakan bumi beserta isinya."
Ditengah keasyikan mereka mengobrol. Kumandang adzan pun terdengar dari masjid Al-Aqsho.
"Ayo masuk mesjid, ceritanya di potong dulu." Ajak Rais menggandeng jemari sang istri.
*****
Setelah selesai sholat magrib berjamaah, Rais dan Ara tidak lantas pulang kerumah. Mereka masih ingin menyusur kenangan yang pernah singgah diantara mereka berdua ditempat yang suci itu.
Menikmati temaramnya malam di pelataran masjid ditemani oleh semangkuk wedang ronde. Membuat suasana semakin hangat dan romantis.
"Abi ... boleh Ummi tanya?" ucap Ara sembari memasukkan suapan wedang ronde kedalam mulutnya.
__ADS_1
Rais menggaguk, korneanya menelisik jauh kedalam mata sang istri.
"Apa ... Abi punya mantan?" tanya Ara.
Pertanyaan wanita itu membuat jantung Rais bergetar hebat, bahkan sempat sedikit tersedak akibat dari rasa kaget. "Mantan apa, Mi?"
"Ya ... mantan pacar, Bi. Masa iya mantan rentenir." goda Ara dengan tawa gelak-gelak.
"Ada ... cuma, kita dulu hubungannya nggak lama, Mi." Jawab Rais serius.
Rona Ara seketika berubah menjadi sedikit masam, "oh, gitu? Kenapa kalian putus?"
"Karena Allah nggak Ridho."
"Kenapa nggak nikah saja, biar Allah Ridho."
"Mi, udah malam. Kita pulang, yuk."
"Abi belum jawab pertanyaan, Ummi." Ucap Ara ketus.
Rais tersenyum, telapak tangannya mulai diayunkan kedepan Ara untuk mengajaknya pulang.
"Nggak semua pertanyaan harus di jawab kan, Mi."
__ADS_1
"Tapi Ummi pengen tahu, Bi."
"Mi ... kita ini sudah menikah, nggak baik mengulik kenangan satu sama lain. Yang berlalu biarlah berlalu. Kita hidup untuk masa sekarang dan masa depan."