JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
POSITIF


__ADS_3

Setelah kejadian yang membuat Rais pusing tujuh keliling akibat perubahan sikap Ara. Akhirnya, pagi ini lelaki itu memutuskan untuk mengajak Ara ke rumah sakit terdekat. Untuk memeriksakan keadaannya.


"Bi nanti pulang dari rumah sakit, mampir makam Mas Ali, ya?" Tutur Ara. Wanita itu memang tidak pernah lupa mampir ke makam sang suami jika bertandang ke Jakarta.


"Iya, sayang."


Memilih rumah sakit terdekat, Rumah sakit Premier Bintaro adalah tempat Ara akan memeriksakan keadaanya. Mungkinkah ia benar-benar hamil, atau hanya perubahan hormon yang tidak jelas.


"Shamira!" Sebuah suara terdengar sedikit lantang memanggil Ara dari koridor rumah sakit. Membuat langkah Ara dan Rais segera berhenti.


"Hei, Ndre? Apa kabar?" Ucap Ara ketika melihat seseorang yang memanggilnya.


"Tumben kesini?"


"Iya, sengaja mau ketemu kamu."Ucap Ara. "Oh, ya, kenalin Ndre, ini suamiku, Abi kenalin ini Andre, dokter kandungan di rumah sakit ini." lanjutnya.


Mata Rais seketika melotot, ketika Ara memperkenalkan lelaki di hadapannya sebagai seorang dokter kandungan.


"Wah, topcer nih kayanya Mas nya." Canda lelaki yang bernama Andre dan berstatus sebagai dokter tersebut. "Ayo Mas, Ra, langsung ke ruangan. Mumpung belum ada pasien."


Rais menarik tangan Ara sedikit kebelakang. "Ummi serius mau di periksa teman Ummi?"


"Maksud Abi?"


"Nggak ada dokter cewe?"


"Ayo mari masuk!" Ucap Andre.


Sesampai di ruangan tersebut, nampak Rais seperti tidak nyaman.


"Udah telat berapa minggu, Ra."


"Nggak ngitung." Ucap Ara tertawa.


"Mas Rais kenapa?" Tanya Andre.


Rais bingung harus menyampaikan rasa tidak nyamannya, jika sang istri harus di periksa olehnya.

__ADS_1


"Abi nggak mau ya, Ummi di periksa sama Andre?" Tanya Ara, membuat Rais malu.


"Owalah, iya-iya. Faham aku, Ra. Udah kamu nunggu dr.Yuni aja, kami prakteknya barengan kok. Paling bentar lagi sampe."


"Maaf ya, Ndre ... suamiku emang kaya gini. Nggak mau istrinya ini di sentuh oleh orang lain." Ucap Ara sembari tersenyum.


"Maaf ya, dok. Bukan saya gimana-gimana." Ucap Rais.


"Ah, nggak masalah. Saya sangat menghargai itu, Mas."


Setelah mereka berbincang cukup lama, akhirnya dr.Yuni yang di tunggu-tunggu datang juga.


"Selamat ya, Mbak Ara. Usia kandungan Mbak Ara udah tiga minggu. Dijaga baik-baik." Ucap dr.Yuni ketika sudah selesai memeriksa perut Ara.


Haru biru, menyelimuti kedua sejoli tersebut. Rasa syukur tak henti-hentunya mereka lantunkan. Bahkan tanpa rasa malu, Ara memeluk erat tubuh Rais di depan sang dokter kandungan.


"Iya, dok. Pasti saya jaga dengan baik-baik. Makasih, ya, dok?"


Sepulang dari rumah sakit, sesuai permintaan Ara. Wanita itu ingin berkunjung ke makam Ali. Sebelum memasuki area pemakaman, nampak Rais membelikan bunga melati dan mawar seperti yang biasa Ara lakukan sebelum sampai Makam.


"Assalamualaikum, Mas. Ara balik lagi ke rumah Mas Ali. Ara tengah mengandung anak dari Mas Rais. Doakan kami selalu bahagia ya, Mas. Kami juga selalu memdoakan Mas Ali disana." Tutur Ara sembari menaburi kembang diatas tanah yang sudah mengering tersebut.


Sepulang dari pemakaman. Ara tak lantas mengajak Rais pulang. Wanita itu ingin menikmati tahu gekrot, cilok, gorengan dan yang terkahir ia meminta agar Rais membelikannya asinan. Seperti biasa saja, Ara melahap semua makanan yang telah di minta kepada sang suami. Namun, selang tiga puluh menit, semua yang sudah ia makan masuk perutnya tiba-tiba keluar semua. Ara muntah.


"Kenapa, Mi?"


"Enneg, Bi. Tapi bawaannya pengen makan terus." Ucapnya sedikit loyo.


"Yaudah, Ummi sekarang mau makan apa? Biar nanti kita cari, sayang."


"Pengen makan gudangan, enak kayanya Bi, yang pedes banget gitu."


Permintaan Ara kali ini bikin Rais melotot. Jelas saja, makanan yang diinginkan sang istri hanya ada di Klaten. Sedangkan mereka masih di Jakarta.


"Kalau misal makan urap gimana, Mi? Nanti Abi cari deket-deket sini yang jual urap."


"Kenapa jadi urap, Bi? Jelas-jelas gudangan sama urap beda!" Seloroh Ara kesal.

__ADS_1


"Ya ... disini dimana ada orang jual gudangan, Mi? Lagian, gudangan sama urap kan sama-sama sayur dikasih kelapa parut."


"Terserah!" Jawab Ara jutek, ia memilih memejamkan matanya di dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, Raia mencoba untuk mencari penjual gudangan di area Jakarta. Namun, nihil tak di temui satu pun. Membuatnya pusing tujuh keliling. Tak ada pilihan lain, selain ia mengajak sang istri pulang ke Klaten.


Sesampai di rumah sang mama, nampak raut Ara masih di tekuk cemberut. Ia bahkan tidak menegor sang suami sama sekali.


"Anak Mama udah pulang? Gimana hasilnya? Positif hamil, kan?" Tanya sang mama antusias, namun hanya mendapat jawaban sebuah anggukan. Lalu, Ara melesat ke dalam kamar di lantai dua.


"Ada apa sama istrimu, Mas? Apa dia bener posistif hamil?" Tanya sang mama kepada anak menantunya.


"Iya, Ma. Adek posistif hamil___"


"Alhamdulillah, akhirnya bentar lagi Mama bakal nimang cucu dari anak Mama yang cantik itu. Eh tapi? Kenapa dia cemberut, Mas?"


"Anu, Ma ... Adek pengen makan gudangan. Tapi nggak ada orang jual gudangan." Jawab Rais lesu.


Alis sang mama bertautan, bingung dengan kata-kata Rais. Bagi perempuan baya itu, kata gudangan nampam asing di telinganya.


"Gudangan tuh apa? Makana? Atau gedung?"


"Makanan, Ma. Mirip sama urap."


"Astagfirullah. Terus? Itu belinya dimana?"


" Ya di Klaten, Ma."


"Hmmm ... istrimu ada-ada aja ya ngidamnya. Tapi yaudah, kasihan dia. Kamu turuti saja. Kalau dia nggak hamil juga nggak akan seperti itu, iya 'kan?" Ucap sang mama yang di jawab anggukan oleh sang menantu.


Rais pun segera berjingkat menuju kamar, di dalam kamar, di dapati snag istri tengah tidur tengkurap. Rais pun segera menujunya, ternyata Ara tidak tidur. Wanita itu menangis lirih. Entah apa sebabnya, yang jelas Ara saat ini orangnya suka Baper.


"Ummi kenapa kok nangis?"


Ara menggeleng, wajahnya masih tersembunyi di balik bantal.


"Ayo kita pulang ke Klaten, katanya pengen makan gudangan?" Bujuk Rais lembut.

__ADS_1


sekonyong-konyong Ara menghapus buliran di kedua pipinya. Tanpa banyak pikir, wanita cantik itu langsung bangun dan merapikan pakaian yang dikenakan. Persis seperti anak kecil.


Melihat antusiasme dari sang istri, Rais pun memoles senyum di kedua sudut bibirnya. Lelaki itu bersyukur, dengan karunia Allah yang tak terhingga sampai saat ini.


__ADS_2