JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
ZULVA DAN ZULVI


__ADS_3

Usai di adzani dan di mandikan, kedua bayi kembar berjenis kelamin perempuan tersebut nampak hingar dengan tangisannya. kulitnya yang masih kisut bersisik, menandakan jika ia baru beberapa jam keluar dari peraduannya, yakni rahim. Suster yang ikut menangani proses persalinan Ara ikut bahagia melihat bayi kembar miliknya.


"dokter Ara, bayinya susuin dulu ya, dok." Ucap salah seorang suster sembari menggendong sang bayi.


Ara yang baru saja usai dimandikan oleh Rais, kini nampak lebih cerah dan segar, rambutnya yang basah, menambah aura kecantikannya.


"Iya, sini Sus. Eh yang mana dulu nih anak Ummi yang mau mimi cucu?" Ucap Ara tersenyum.


"Udah Ummi susuin adeknya dulu. Kakaknya belum nangis kok, sini Sus biar saya gendong yang satu." Timpal Rais sembari meminta sang buah hati kepada seorang suster lagi.


Tinggalah mereka berempat dalam kamar, ibu Rais yang memang lelah habis menjaga proses lahiran, pulang sebentar untuk istirahat. Sedangkan orang tua Ara masih di dalam perjalanan dari Jakarta.


Ara meringis, antara sakit dan geli ia menyusui sang buah hati.


"Bi? Mau dikasih nama siapa?" Tanya Ara.


"Bismillah, Abi mau kasih nama Zulva Shyrlee Almunfiq dan Zulvi Shyrlee Almunfiq, bagus nggak Mi? Abi pengen mereka mempunyai hati seorang pemimpin dan sosok pekerja keras, persis seperti Umminya." Ucap Rais tersenyum.


Ara tersenyum menanggapi kata-kata Rais, bagi Ara siapapun nama anak yang di berikan oleh sang suami, insha allah bermakna bagus.


"Tanggung jawab Abi nambah dan beban di pundak Abi semakin besar. Semoga Abi bisa menjaga kami bertiga. Mendidik anak-anak kita untuk selalu bisa menjaga marwahnya kelak. aamiin." Ucap Ara sembari menyentuh pipi sang suami.


"Aamiin. Selagi Ummi percaya kepada Abi. Insha Allah dengan sekuat tenaga, Abi akan menjaga kalian bertiga. Apalagi, Abi adalah cinta pertama bagi putri-putri kita ini. Jadi, Ummi nggak boleh cemburu," goda Rais.


"Oh, ya, Bi? lni yang Zulva sama Zulvi yang mana?" Ucap Ara tersenyum. "Awas jangan sampe ketuker," lanjutnya.

__ADS_1


"Si kakak yang Abi gendong ini namanya Kakak Zulva, dan si adek yang Ummi gendong ini namanya adek Zulvi. Semoga kalian menjadi anak-anak sholiha dan cantiknya Abi serta Ummi ya, Nak?"


"Aamiin." Sahut Ara.


Rais dan Ara nampak begitu bahagia dengan kehadiran Zulva dan Zulvi. Senyum yang mengembang tak pernah lepas dari sudut bibir masing masing. Sesekali, Rais melantunkan ayat-ayat suci alquran di kedua telinga sang bayi. Ara yang melihatnya ikut bahagia, bahkan hatinya merasa damai. Baginya, lengkap sudah kebahagiaan yang ia impi-impikan selama ini.


Usai menyususi dua bayinya, kini Ara nampak menyandarkan punggungnya di bahu kasur. Menunggu kedatangan kedua orang tuanya dari Jakarta, pasalnya beberapa saat lalu, ibunya menelpon dan sudah memasuki kota Klaten.


"Ummi makan dulu yuk? Biar Abi suapin. Mumpung Mama sama Papa belum sampe." Bujuk Rais yang di iyakan oleh Ara.


"Ummi harus banyak makan, biaf asinya bagus dan subur," ucap Rais sembari menyuapi Ara dengan sayur bayam, jagung muda dan ikan tuna.


"Abi juga harus banyak makan, biar nyari rejekinya habis ini makin giat." Goda Ara.


Ditengah-tengah mereka sedang asik bercanda, suara ketukan pintu kamar rumah sakit mengagetkan keduanya. Rais pun segera membuka pintu tersebut. Beberapa ibu-ibu nampak berdiri tersenyum di balik pintu. Rupanya, kabar persalinan Ara sampai pada ibu-ibu pengajian, setelah menguluk salam ibu-ibu tersebut masuk tanpa mempedulikan Rais yang melongo di depan pintu.


"Iya, hidungnya mirip Mas Rais, tapi matanya Mbak Ara banget ya?" sahut tetangga yang lain.


Akibat ramainya mereka bercakap ria, bayi Zulva bangun dan menangis.


"Eh jangan rame, tuh lihat bayinya bangun satu, kasihan Mbak Ara sama Mas Rais." Ucap salah satu ibu sembara meraih bayi Zulva. "Mbak Ara, nggak apa-apa toh Mbak tak gendong?"


Ara tersenyum bahagia melihat begitu antusiasnya para ibu-ibu pengajian tersebut untuk gantian gendong bayi Zulva.


Ditengah-tengah keramaian kamar itu, orang tua Ara sudah sampai dan berdiri di depan pintu kamar dengan senyum yang mengembang. Membuat para ibu-ibu yang membesuk Ara terperangah dibuatnya.

__ADS_1


"Masya Allah ibunya Mbak Ara iki kok ya cantik banget, udah gitu ramah banget ya? Beda sama kebanyakan orang kaya yang di kamoung kita. Baru jadi orang kaya, pamernya udah ngalah-ngalahin Jendral bintang tujuh." Bisik seorang tetangga yang baru usai bersalaman dengan ibunda Ara.


"Cucu Oma udah lahir sayang ... cantik cantik banget anak-anak sholihah." Ucap ibunda Ara sembari mencium sang cucu secara bergantian.


Hari itu suasana ruangan Ara nampak begitu bingar dengan kedatangan orang tua Ara dari Jakarta serta kedatangan para ibu-ibu pengajian di kampungnya.


****


Dua hari berlalu, kini Ara sudah pulang dari rumah sakit. Rumah yang tadinya sepi, kini audah berwarna dengan hadirnya dua orang bayi lucu dan cantik. Para tetangga dan kerabat masih hilir mudik bergantian menjenguk Ara dan melihat sang bayi kembar. Tak pelak, buah tangan dari para tetangga banyak berjubel mengisi ruang tengah rumah tersebut. Ada yanģ membawa; gula, sabun bayi, deterjen, baju-baju bayi yang lucu, gendongan bayi, sepatu bayi hingga peralatan makan untuk Zulva dan Zulvi.


Rais dan Ara sangat bersyukur mempunyai tetangga yang guyub rukun.


Sore ini, nampak Ara yang memang sudah terlihat lebih segar, bersiap-siap untuk memandikan sang buah hati, selepas memberi asi kepada Zulva dan Zulvi, ibu muda itu bergegas ke dapur mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan mandi dua putrinya. Pun dengan Rais, ia tak mau ketinggal dan berdiam diri, dengan sangat hati-hati Rais mulai membuka baju kedua putrinya. Bapak dua putri itu sudah tahu cadanya bagaimana membuka baju Zulva dan Zulvi, sebab Ara sudah mengajarinya kemarin.


Kini waktunya untuk sang buah hati mandi di bak mandi, untuk hal ini Rais nampaknya belum mahir, ia masih mengamati sang istri yang tengah memandikan bayi Zulvi, bola mata Rais enggan berkedip. Ia begitu menikmati proses demi proses sang istri memandikan si bayi.


Usai memandikan Zulvi, kini giliran Rais memakaikan baju serta bebapa perlengkapan agar Zulvi tidak merasa kedinginan. Baru hendak memakaikan diapers, bayi Zulvi terlihat pipis dan mengenai tangan sang ayah. Membuat Rais terkekeh akibat dari kelakuan sang buah hati.


"Wealah, Nduk ... Nduk, belum juga pampers nya terpasang dengan benar, kamu udah main pipis aja," ucapnya geleng-geleng sambil tersenyum.


Ara yang masih nampak memandikan bayi Zulva hanya terkekeh melihat pemandangan itu.


"Ummi kok malah ngetawain Abi?"


"Habisnya Abi lucu? ltu Abi lagi marahin Zulvi apa lagi guyonan." kekeh Ara.

__ADS_1


"Mana mungkin Abi marah sama si sholihah yang cantik ini, Mi. Lihat senyum yang tanpa gigi gitu, Abi malah seneng banget."


"Yaudah, nanti Zulvi sama Kak Zulva ompolin Abi lagi ya, Nak?" Goda Ara.


__ADS_2