
Perjalanan Klaten-Solo hampir memakan waktu empat jam. Bukan tanpa alasan. Rais terlalu banyak menepikan kendaraannya hanya ingin menikmati setiap tempat yang pernah ia pijak sebelum menikah.
Tepat pukul lima lebih tiga puluh menit, Ara serta Rais sampai di kediaman Ahmad saudara tertua dari Rais. Hidangan spesial terlah terjadi diatas meja ruang makan. Ahmad dan sang istri telah menyiapkan semua sebelum kedua sejoli benar-benar sampai di penghuniannya.
"Habis sholat magrib. Kita makan sama-sama, ya?" ajak Ahmad kepada keluarga.
Saat ini, Ahmad dan Rais melesatkan langkahnya menuju surau yang tak jauh dari kediaman Ahmad. Sedangkan Ara dan sang kakak ipar memilih untuk sholat di rumah.
"Dek, kita jamaah aja, ya?" ajak istri Ahmad kepada Ara.
"Iya, Mbak."
****
Setelah selesai dengan ritual keagamaan. Dua pasangan tersebut kini tebgah duduk di ruang makan untuk siap-siap bersantab malam. Makan malam penuh dengan khitmat tanpa adanya gaduh.
Usai makan malam, kini mereka beringsut ke ruang tamu, sekedar untuk berbincang-bincang.
"Le? Piye? Kamu sama Dek Ara kira-kira ikut program KB apa program hamil?" Tanya istri Ahmad yang di sambut senyuman oleh Rais dan Ara.
Ara melempar pandang kepada Rais, seolah mempersilahkan sang suami untuk menjawab pertanyaan sang kakak ipar.
"Alhamdulillah, Mbak Yu. Kami tidak ingin menunda-nunda. Kami memilih untuk ikut program hamil."
"Syukurlah. Semoga di segerakan. Aamiin."
__ADS_1
"Oh, ya. Kamar kalian udah siap." Tutur Ahmad. "Kalian pasti lelah. Beristirahat dulu."
"Nggak Mas. Kami nggak nginep disini." Jawab Rais. Membuat Ahmad mengerutkan kening.
"Kenapa? Lalu kalian mau nginep dimana?"
Kini Ara mengambil posisi untuk menjawab pertanyaan Ahmad. "Kata Mas Rais, kami akan tidur di hotel, Mas."
"Ayah ini piye? Mereka itu kan manten baru. Udah pasti mereka masih mau menikmati bulan madu, iya kan Dek?" Canda istri Ahmad. Hingga membuat suasana bingar dengan gelak tawa dari masing-masing.
Tepat pukul sembilan malam, Rais dan Ara keluar dari kediaman Ahmad. Mereka segera pindah ke hotel yang memang telah di pesan oleh Rais melalui online. Hotel yang bagus cocok untuk mereka berdua menghabiskan waktu seminggu disana.
"Gimana? Ummi suka kita nginep disini?" tanya Rais lembut.
"Suka, Bi. Cuma___?"
"Maaf, Bi. Ummi takut Abi menggelontorkan uang yang tidak sedikit. Sayang-sayang duitnya, mending buat yang lain."
"Sayang? Ini kan nggak tiap hari juga. Dan hanya berlaku seminggu ini saja. Memang Ummi nggak mau? Abi nyenengin Ummi dengan cara Abi?"
"Bukan, Bi ... bukan begitu. Ummi senang. Cuma Ummi nggak enak aja."
"Kenapa nggak enak? Ummi kan istri Abi? Semua apa yang Abi kumpulin selama masih bujang itu hanya demi istri Abi kelak. Siapa istri itu? Ya, Ummi Shamira ini."
"Masha Allah, Bi. Makasih banget."
__ADS_1
"Udah sayang. Jangan bahas itu lagi. Pokoknya Ummi jangan mikir yang nggak-nggak sama Abi. Sebab Abi akan selalu kasih kejutan buat bidadari Abi ini sewaktu-waktu." Ucap Rais sembari mengecup kening Ara.
Seketika suasana mendadak hening. Tatapan mata Rais begitu dalam kepada Ara. Mengisyaratkan jika ia sedang memohon sesuatu terhadap sang istri.
"Abi kalau lihatin Ummi jangan kaya gitu, ih!" cubit Ara di perut Rais, hingga pria itu nyengir kesakitan.
"Sakit ya, Bi?" Tanya Ara.
"Ya dakit Mi."
"Maaf ya?"
"Emh ... bakal Abi maafin, tapi ada syaratnya."
"Apa?"
Rais membisiki sesuatu ditelinga Ara. Membuat pipi wanita itu merah merona.
"Boleh ya?" tanya Rais lirih.
Ara menutupi wajahnya dengan kesepuluh jari, sembari mengangguk.
Rais mulai melayangkan kecupan di kening sang istri sembari membaca sebuah doa. Lalu, lelaki itu membuka jemari Ara yang masih menutupi rautnya. Berlahan namun pasti. Rais mulai meluncurkan ciumannya tepat di bibir sintal sang istri. Menjelajahi tiap ronggo dalam mulut Ara. Hingga akhirnya suasana panas mendera keduanya. Dinginnya Ac kamar hotel tak lagi mereka rasakan. Mereka terbuai oleh panasnya api cinta.
Tangan kanan Rais mulai bergerilya ke pagian sensitif Ara. Hingga membuat sang wanita mengerang kenikmatan. Hanya butuh hitungan detik, keduanya kini bergulat diatas ranjang kamar hotel. Baju gamis yang masih Ara kenakan di singkap oleh Rais. Lelaki itu sepertinya sudah tidak tahan ingin menikmati tubuh sang pujaan hati.
__ADS_1
Dengan pelan, Rais mulai membuka resleting gamis Ara. pun dengan Ara, Ia mencoba untuk mebuka kancing-kancing baju Rais.
Malam panjang penuh dengan peluh kenikmatan tengah dirasakan oleh dua sejoli tersebut. Keduanya mengembangkan senyum kepuasan satu sama lainnya. Seakan tak ingin menyudahi permainan. Mereka berdua sesekali menjedah adegan-adegan panas yang tertuang diatas ranjang kenikmatan.