JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
KEINGINAN ARA


__ADS_3

Seminggu sudah Rais berjalan dibantu oleh tongkat, luka di siku tangannya sudah mulai mengering. Lelaki itu tak segut melihat Ara yang nampak agak kewalahan menjaga kedua buah hatinya. Apalagi, semenjak Rais kecelakaan, mereka berdua agak rewel. Hingga membuat Ara kurang istirahat malam. Namun, ibu muda itu tidak ingin memperlihatkan rasa lelahnya di hadapan sang suami.


"Mi, maafin Abi ya? Gara-gara Abi diserempet motor, jadi nggak bisa bantuin Ummi jaga sholihah kita."


Ara menyimpulkan senyum, "kata siapa Abi nggak bantuin Ummi, Abi ikut terbangun dan jagain Zulva sam Zulvi aja Ummi udah bersyukur."


"Ya, tapi kan nggak bisa bantuin Ummi gendong mereka kalau pas rewel. Nggak bisa bantuin nyuci ama bersih-bersih rumah." Ucap Rais sedih.


"Makanya, kalau mau apa-apa itu, pamit sama istri. Udah nggak pamit, nggak bawa Hp. Untung Ummi belum lapor polisi."


"Abi kan udah minta maaf, Mi, perkara itu."


"Iya Bi, dan Ummi maafin Abi. Ummi hanya ingetin, jangan kaya gitu lagi. Jangan suka bikin Ummi panik."


Rais tertunduk lesu, ayah dua orang putri itu nampak kesal terhadap kelakuannya sendiri. Awalnya ia berfikir ingin mencari nafkah untuk keluarga kecilnya tersebut. Namun, alih-alih ingin mengerjakan semua dengan maksimal, hasilnya malah merugikan dirinya sendiri dan terutama istrinya.


Disaat yang bersamaan kedua putrinya nangis, Rais pun bingung harus seperti apa. Ara segera menggendong Zulvi untuk menyusuinya. Dan meminta tolong kepada Rais untuk menjaga Zulva sebentar. Mata lelaki itu berkaca-kaca, melihat kerempongan Ara. Hatusnya ketika seperti itu, dia adalah orang pertama yang ikut andil dalam menimang sang buah hati.


Ara yang melihat Rais segera berjalan menujunya. Tersenyum dan membesarkan hati sang suami.


"Yang namanya kecelakaan itu, Bi, ya nggak bisa kita hindari. Udah takdir. Jangan di sesali."


"Iya, Mi."


"Oh, ya, Bi. Ummi boleh ngomong serius?"

__ADS_1


"Serius? Serius tentang apa, Mi?"


"Ntar ya, biar Zulva ama Zulvi bobo dulu."


Setelah duo Zul tidur lelap, Ara segera duduk disamping Rais. Ia mengambil napas sebelum pada akhirnya membuka percakapan.


"Abi? Ummi mau ngomong penting sama Abi."


"Iya, sayang. Penting apa? Coba ngomong?"


"Gini, Bi. Ummi kan dokter___"


"Terus?"


"Abi paham itu, Mi."


"Ummi kasihan sama orang-orang yang nggak ada biaya, Bi. Mereka kalau sakit ngandelin obat dari warung. Ara pengen bantu mereka tanpa pamrih. Ya, setidaknya mereka bayar semampu dan seikhlas mereka. Biar ilma Ummi juga nggak mubadzir."


Rais terlihat manggut-manggut. "Abi sangat setuju dengan ide Ummi. Tapi, Mi___"


"Tapi kenapa, Bi?"


"Disamping anak-anak kita masih kecil, buka praktek kan nggak murah Mi. Ummi pernah bilang sama Abi, kalau belum urus SIPD, belum lagi perpanjang STR. Kita butuh biaya yang besar untuk itu semua, Mi."


"Masalah anak-anak, lnsya Allah Ummi masih bisa urus dengan baik, Bi. Kalau emang lagi sibuk banget, Ummi bisa minta tolong sama sepupu Abi, Mbak Zahra buat bantu-bantu jagain Zulva dan Zulvi. Kalau masalah dana pengurusan SIPD sama STR, Ummi masih punya tabungan Bi. Kita bisa pakai itu dulu buat buka praktek." Ucap Ara panjang lebar.

__ADS_1


"Oke, Abi seteju masalah Mbak Zahra. Tapi, Abi nggak setuju kalau Ummibpakai uang pribadi Ummi buat buka praktek. Ummi tanggung jawab Abi. Abi akan usahain untuk Ummi. Abi serius."


Ara tertunduk diam, netranya menyapu lantai. Pikirannya menerawang entah kemana.


"Ummi setuju kan? Kalau Abi usahain dulu? Abi nggak mau Ummi pakai uang Ummi pribadi. Uang Ummi itu, simpan saja, untuk keperluan yang lain."


"Bi ... kita ini suami istri, yang semuanya harus saling gotong royong dan sama-sama. Ummi nggak pernah berfikir sedikit pun, jika uang Ummi ya uang Ummi sendiri, nggak, Bi. Bagi Ummi, kita dua orang yang harus saling melengkapi."


"Bagi Ummi gitu, tapi bagi Abi? Harga diri Abi ditaruh mana kalau Ummi pakai uang pribadi?"


"Ditaruh disini," ucap Ara tersenyum, tangan kanannya meraih tangan sang suami, ia letakkan di dadanya. "Bagi Ummi, Abi tetap laki-laki terbaik, lmam terbaik, bahkan ... Abi bisa menjaga marwah Ummi sebagai istri Abi, itu udah lebih dari kata cukup."


Rais meraih tubuh sang istri, ia memeluk erat sembari sesekali mencium kening snag istri. "Entah dengan cara apa Abi harus bersyukur mempunyai istri sebaik Ummi. Jika selama ini Abi bersikap kurang baik, Abi sungguh minta maaf. Ummi boleh pakai uang pribadi Ummi. Tapi, Abi yakinkan, jika uang Ummi akan segera Abi balikin, Sayang. Sebab, bagi Abi. Ummi tetap tanggung jawab Abi."


"Ummi juga bersyukur karena memiliki suami yang penuh tanggung jawab kepada istri. Kalau masalah uang pribadi Ummi. Itu terserah Abi, tapi harus Abi pahami, Ummi tidak pernah memberatkan, dan tidak pernah mempermasalahkan tentang itu semua. Sebab, bagi Ummi kita ini keluarga, sudah kewajiban jika berjalan bersama-sama, apapun keadaannya."


"Iya, Abi paham itu, Mi. Doakan Abi, usaha Abi lancar, biar bisa bantu Ummi buat ngembangin prakteknya nanti."


"Pasti Bi, Ummi pasti diain Abi yang terbaik. Oh, ya. Gimana Kaki Abi? Masih sakit?" Ucap Ara sembari memijit mijit lebut kaki Rais yang sudah nampak lebih kempes.


"Alhamdulillah sudah agak mendingan."


"Tadi Umma telepon, nanti sore mau kesini nganter pareman buat kaki Abi."


Ara dan Rais larut dalam suasana haru, mereka saling tenggelam dalam rasa masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2