
"Alhamduliah, udah pada cantik dan wangi anak Abi dan Ummi." Tutur Rais ketika berhasil memakainkan baju kepada dua orang putri cantiknya. "Mi? Abi apa Ummi duluan yang mau mandi sayang?" ucap Rais kembali.
"Ummi dulu ya, Bi. Takutnya ntar duo Zul mau *****. Kalau Umminya belum mandi ntar mereka kotor lagi kalau mau *****." Tutur Ara.
"Siap, yaudah, Abi jagain mereka dulu. Ummi mandi gih." Perintah Rais.
Hampir lima belas menit, Ara baru keluar dari kamar mandi. Betapa terharunya ibu muda tersebut. Mendapati kedua putrinya tidur disamping sang ayah, dan yang membuat lebih terharu lagi, Ara pun melihat Rais tidur dengan pulasnya, dengan keadaan terlentang, mulut menganga ditambah suara alunan musik yang dihasilkan dari suara dengkuran Rais.
"Nampaknya kamu lelah sekali, Bi." Ucap Ara sembari berjalan ke Arah Rais.
Sebelum membangunkan sang suami yang terlihat begitu nyenyak, Ara menoleh ke arah jam yang terletak di dinding kamar. Waktu sudah menunjuk ke arah pukul lima sore. Jadi, mau tidak mau, Ara harus membangunkan Rais untuk segera mandi dan sholat. Karena Ara masih dalam masa nifas, jadi wanita cantik itu tidak mengambil wudhu.
"Bi ... Abi, ayo bangun, mandi. Abi belum sholat ashar kan?" Tutur Ara lembut.
Rais yang masih terbuai di alam mimpi, meringkuk tak mau di ganggu.
"Abi, ayo bangun dulu. Ntar keburu magrib." Ucap Ara lagi.
Kali ini Rais nampak membuka matanya dengan pelan dan rasa malas. "Ummi cantik sekali sayang, boleh Abi minta cium, dikit aja."
"Ih, Àbi genit! Baru juga bangun tidur, nyawa aja belum kekumpul bener udah minta cium." Ucap Ara.
"Nggak apa-apa dong, genit ama miliknya sendiri?" goda Rais.
"Abi? Udah sore, jangan becanda ih. Ayo bangun, apa perlu Ummi mandiin Abi macam duo Zul tadi?"
"Nggak apa-apa kalau Ummi seneng. Abi siap-siap aja. Jangankan di mandiin, Mi. Lebih dari itu juga Abi nggak nolak."
"Abi!"
"Hehehe ... maaf becanda sayang. Sini cium dulu, biar Abi semangat."
__ADS_1
Ara mengembuskan napas, lalu mencium Rais agar sang suami cepat mandi dan segera sholat.
****
Malam semakin temaram, jam di dinding sudah menuju pada angka sebelas lebih. Nampak Ara dan Rais serta duo Zul sudah terlelap dalam dunia mimpi masing-masing. Sayup-sayup terdengar tangisan seorang bayi, Ara yang nampak setengah sadar menganggap jika tangisan itu berasal dari dunia mimpinya. Namun, semuanya buyar ketika Zulvi adik dari Zulva nangis dengan kencang.
"Astagfirullah," ucap Ara gragapan. "Adek kenapa? Lqper ya?" ucapnya lanjut. Lalu memangku Zulvi yang nampak kelaparan.
Rais masih terbuai oleh dunia mimpi. Sepertinya tangisan Zulvi tidak membuatnya terbangun.
Baru hitungan menit, Zulva kakak dari Zulvi terbangun dan menangis. Antara haus dan gerah. Dengan lembht, Ara segera membangunkan sang suami.
"Bi ... Abi? Ayo bangun dulu, Ummi minta tolong Abi gendong Kak Zulva dulu." Ucap Ara mengusap-usap kepala sang suami, sehingga menjadikan Rais tergagap dan langsung duduk.
Dengan muka bantal serta netra masih mengantuk, Rais tetap harus siaga dan menimang sang buah hati. Sesekali terlihat kelopak mata Rais terpejam tidak sengaja. Membuat Ara tidak tega melihat sang suami.
Namun, bagaimana pun juga, Rais harus tetap terjaga, ia tidak mau melihat sang istri lelah sendirian. Setidaknya, Rais bisa mengajak sang istri ngobrol untuk menghilangkan kejenuhan.
Mata Ara nampak begitu sayu. Membuat Rais yang melihatnya tidak tega dengan keadaan sang istri.
Tangan Rais segera meraih kaki Ara yang nampak selonjoran diatas kasur, ia mulai memijit-mijit kaki Ara dengan lembut.
"Mi, Abi minta maaf, ya?"
"Minta maaf kenapa sih Bi?"
"Ya... demi anak-anak Abi, Ummi rela nggak tidur semalaman dan terbangun untuk menjaga mereka. Pasti Ummi capek."
Ara menyimpulkan senyum, "nggak ada yang membuat Ummi capek, apalagi masalah anak. Bagi Ummi ini adalah kebahagiaan yang tiada tara Bi. Bisa melihat mereka terjaga di tengah malam, menyusui mereka. Itu adalah anugerah yang benar-benar Ummi nikmati."
"Abi bahagia banget, bisa punya istri yang penyayang dan penyabar kaya Ummi."
__ADS_1
Ditengah-tengah mereka sedang berbincang, tiba-tiba bayi Zulvi yang beberapa saat lalu diletakkan di ataa kasur nangis.
"Sst... sstt... kenapa sayang? Kenapa sholihah Abi nangis malem-malem?" ucap Rais sembari menggendong Zulvi.
"Bi, coba di lihat dulu, popoknya basa apa nggak. Zulvi nggak Ummi pakein pampers lho."
"Masya Allah, Mi. Zulvi ngompol." Tutur Rais terkekeh.
"Ssttt ... Abi jangan kenceng-kenceng. Zulva baru tidur ini." Ucap Ara pelan.
"Maaf Mi ... maaf."
"Yaudah bentar, Ummi taruh Zulva dulu, baru Ummi ganti popok Zulvi."
"Nggak usah Mi, biar Abi yang ganti. Ummi pasti capek, jadi, Ummi istirahat aja ya?"
"Seriusan Bi?"
"Serius, sayang."
"Yaudah, Ummi rebahan dulu, ya. Punggung Ummi panas."
Rais sudah membereskan popok Zulvi, bayi cantik itu nampak tertidur ketika sang ayah menggendong serta melantunkan sholawat di tenganya. Sedangkan Ara nampak tertidur lulas disamping Zulva. Baru saja Rais menaruh Zulva di atas kasur. Kini gantian, Zulvi terjaga, merengek lirih. Rais lun segera mengangkat dan memangku sang buah hati. Tak ingin mengganggu sang istri yang sedang terbuai oleh alam mimpi. Sebisa mungkin, Rais menina bobokan Zulva. Namun, bukannya semaki diam, Zulva semakin merengek. Rais pun ingat kata-kata Ara, mengecek popok.
Benar saja, Zulva ngompol, namun bukan sekedar ngompol. Bayi Zulva nampak sedang buang air besar. Membuat Rais sedikit bingung. Pasalnya, lelaki yang sudah berstatus sebagai ayah itu belum pernah membersihkan kotoran sang anak. Baru saja Rais mau membangunkan Ara untuk membantunya menggangti popok Zulva. Rais mengurungkan niatnya. Ia tidak tega melihat wajah polos Ara yang sedang tidur. Nampaknya ibu dari si kembar itu benar-benar sedang lelah.
Alhasil, Rais pun tidak kehabiaan cara. Ia searching di google bagaimana cara mengganti dan menceboki bayi yang tengah buang air besar.
Seperti yang Rais lihat di youtub, akhirnya lelaki itu menggendong Zulva untuk ikut dengannya ke dapur. Menyalakan kompor memasak air setengah hangat untuk membersihkan bekas kotoran si kecil.
Setelah air hangat dituang ke dalam baskom khusus. Rais pun berjalan ke dalam kamar lagi. Menaruh Zulva diatas kasur, lalu membersihkan bekas kotorannya dengan air hangat. setelah selesai ia membasuhkan beberapa tetes minyak telon. Setelah itu, ia menggendong kembali bayi cantik itu. Melantunkan beberapa ayat-ayat pendek hingga sang bayi nyenyak dalam dekapannya.
__ADS_1