JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
KABAR KEMATIAN


__ADS_3

Kabar kematian Mayra santer dibicarakan dari mulut ke mulut. Kedua orang tua gadis itu amat terpukul disaat mengetahui jika sang putri tewas dengan cara gantung diri. Rasa malu yang mereka terima, tak ubahnya seperti lemparan kotoran anjing tepat mengenai muka keduanya. Isak tangis ibundanya tak dapat mengembalikan jasad itu hidup lagi. Seakan di sambar petir di siang bolong. Melihat Mayra menggantung tanpa ampun di tengah pintu kamar mandi.


Para tetangga berhamburan mendatangi kediaman Mayra ketika mendengar suara minta tolong disertai jerit histeris. Tak sedikit para tetangga ikut menurunkan jasat itu dari seutas tali yang dibuatnya dengan tali tas slempang. Darah dari hidung mulai terlihat mengering. Lidah menjulur kaku dengan warna bibir kebiruan. Membuat para tetangga menggelengkan kepala serasa menyayangkan tindakan Mayra.


"Kok bisa sampai kaya gini? Bukannya Neng Mayra ini terkenal sangat religi?" Ucap salah satu tetangga yang ikut menurunkan jasat Mayra.


"Ya, mau religi, mau bejat sekali pun. Kita kan nggak pernah tahu isi hati orang itu seperti apa. Mungkin, selama ini Neng Mayra menutupi semua dengan cara berpura-pura baik di depan semua orang." Timpal tetangga yang lain.


Terilhat di ujung kasur, lelaki baya tengah menatap nanar sebuah buku catatan. Benar saja, lelaki itu membaca pesan terakhir dari sang putri sebelum tewas gantung diri. Buku-buku tangannya mengepal kuat. Guratan-guratan kesedihan itu kini berganti dengan tatapan penuh amarah. Dirematnya kertas putih yang ada tulisan tangan Mayra. Rahangnya nampak bergetar, manakala ia teringat akan satu nama yang Mayra tulis dengan tegas dalam pesan singkatnya.


lnii semua gara-gara kamu, ls. Coba kemaren kamu bersedia menemui Mayra. Semua ini tidak akan mungkin terjadi! Runtuknya dalam hati.


Dilihatnya sang istri yang nampak tersedu. Tak terima dengan kepergian sang buah hati, ibu Mayra pingsan.


Para tetagga segera membopong ibu Mayra ke sebuah sofa yang tak jauh dari pempat ia pingsan. Ada yang memijit kelingking kakinya, ada yang memijit tengkuknya, bahkan ada juga yang mengoles-ngoles minyak kayu putih tepat dibagian hidungnya.


Wanita baya yang biasa akrab dipanggil Umi itu nampak terengah disertai batuk. Ia bangun dari pingsannya. Mulutnya meracau memanggil sang buah hati yang kini telah tiada. Matanya enggan dibuka. Namun, rembesan air mata masih nampak begitu nyata dari sudut mata sang ibunda.


"Umi sabar, ya? Istigfar, ikhlaskan Mayra." Ucap seorang kerabat sembari memeluk erat tubuh ringkih itu.


Ibunda Mayra tetap tak bergeming, ia terus saja meracau merapal nama Mayra. Bisa jadi, ibunda Mayra tak sadar jika saat ini rumah megah miliknya tengah di kerumuni banyak orang.


"Mayra? Kambali, Nak?" Ucapnya histeris.


"Udah, Mi. Ikhlasin Neng Mayra. Biar dia tenang dialam sana." Timpal tetangga yang lain.


Sedangkan di kediaman Rias. Ara dan dia tidak tahu akan gemparnya kabaf kematian yang begitu sangat mengenaskan tersebut. Pasangan suami istri itu, nampak sedang jalan-jalan mengitari kota Klaten. Sore yang cukup cerah. Udaranya pun sejuk, Ara dan Rais memutuskan untuk menghabiskan waktu senjanya dengan jalan-jalan pakai mobil.


"Ummi mau makan apa?"


"Ehm, apa ya? Bingung Bi."


"Kok bingung? Dedek maunya dibeliin makan apa? Coba tanya?" Canda Rais sembari mengelus perut Ara yang makin mengembang.


"Begah, Bi. Lagi nggak pengen makan apa-apa. Kita keliling aja, nanti kalau Ummi laper, baru kita nyari tempat makan." Ucap Ara.

__ADS_1


Rais pun segera mengindak pedal mobilnya, berkeliling kota sembari mendengarkan lagu-lagu religi milik sang maestro Maher Zen.


"Oh, ya, Mi? Kalau anak kita lahir perempuan? Ummi mau kasih nama siapa?" Tanya Rais sembari fokus nyetir.


Mereka berdua memang belum menyiapkan nama untuk sang calon jabang bayi. Bahkan memasuki usia kandungan delapa bulan, Ara enggan meng USG nya. Wanita itu ingin melihat kelamin sang buah hati ketika sudah lahir.


"Siapa Ya, Bi?" Balik tanya Ara dengan memutar-mutar matanya.


"Zulva Shyrleey AlMunfiq. Bagus nggak Mi?"


"Bagus Bi. Terus kalau misal cowok dikasih nama siapa, Bi?"


"Ahmad Taqqy Almunfiq."


"Tuh dengerin sayang, Abi kamu udah siapin nama keren buat dedek. Sehat-sehat terus ya, Nak?" Ujar Ara sembari mengelus purutnya.


Tak berselang lama, ketika mereka sedang asyik ngobrol mengenai nama calon anak mereka. Tetiba Ara dan Rais di kejutkan dengan sebuah panggilan telepon. Nama Ahmad sang kakak tertera di layar ponsel.


"Assalamualaikum, pripun, Mas? Ada apa telepon sore-sore?" Ucap Rais sembari menguluk salam kepada sang kakak.


"Kabar? Kabar apa, Mas?" Tanya Rais memasang muka serius.


"Mayra meninggal dunia, Is."


"Innalillahi wainnailahirojiun, kapan Mas?" Tanya Rais kembali.


"Siapa yang meninggal, Bi?" timpal Ara yang memang tidak mendengar percakapan mereka.


Rais hanya memberi kode dengan tangan kirinya, mengisyaratkan jika akan memberi tahu jika sang kakak sudah mematikan teleponnya.


"Hari ini, ini Mas dikabarin tetangga yang anaknya kerja disana. Katanya, Mayra meninggal gantung diri."


"Allahu ... astagfirullah, pendek banget pikiran dia. Ya sudah, Mas. Rais tak kesana sama istri, mau tak ziah, sekalian nanti nginep dirumah Mas Ahmad." Ucap Rais sebelum pada akhirnya mematikan panggilan masuk tersebut.


"Siapa yang meninggal, Bi?"

__ADS_1


"Mayra, Mi. Kata Mas Ahmad dia meninggal gantung diri." Ucap Rais.


"Innalilahi wainnailahirajiun, serius Bi? Mayra meninggal gantung diri?"


"Iya, Mi. Abi nggak nyangka, pendek sekali pikiran dia."


"Apa ini semua gegara Abi nggak nemuin dia?" Ara menebak-nebak.


"Lho? Kok bisa Ummi bilang gara-gara Abi?"


"Bukan gara-gara Abi. Cuma kan dia pengen banget ketemu sama Abi."


Rais tersenyum, "itu bukan alasan buat Mayra mengakhiri hidupnya, Mi. Apapun alasannya, tetap bunuh diri itu tidak dibenarkan."


"Abi nggak sedih?"


"Sedih?"


"Iya, sedih!"


"Abi malah lebih ke kasihan dan kecewa sama sikap dia Mi. Dia belajar agama sampai ke negeri orang, lama lagi. Terus, gegara alasan yang nggak masuk akal. Nggak terima dengan Kadharullah, dia mengakhiri hidupnya! Apa dia nggak mikir, setelah kehidupan di dunia ini masih ada perjalanan akhirat? Pendek sekali pikiran dia." Ucap Rais panjang lebar.


"Entahlah Bi."


"Ummi kenapa jadi murung?" Tanya Rais sembari memegang jemari Ara.


"Ummi sedih aja, coba waktu itu kità nggak egois dan menerima ajakan Abunya Mayra, Bi."


"Sstt ... Mi, jangan punya pikiran kaya gitu, semua sudah di gariskan oleh Allah. Kita nggak salah dalam hal ini. Abi suami Ummi, sedangkan dia? Dia siapa? Orang lain, Mi. Dianggap masalalu, kita dulu hanya sebatas saling suka dan Abi memutuskan untuk melamarnya, tapi ditolak mentah-mentah. Kalau dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu, itu bukan salah kita. Boleh kita bersimpati dengannya. Tapi, Abi harap, Ummi jangan menyalahkan diri Ummi. Kita nggak salah."


Ara merebahkan kepalanya di pundak Rais yang masih fokus menyetir, wajahnya murung.


"Kita langsung ke Solo ya, Mi? Ummi nggak kenapa-kenapa, kan?"


Ara mengangguk tak bersuara.

__ADS_1


__ADS_2