JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
ISI HATI RAIS


__ADS_3

Sudah beberapa hari ara dan mila kembali ke kota klaten tempat asal mila dan tempat ara bekerja. Semakin hari ara dan mila semakin dekat, sudah seperti kakak beradik. Setiap kali mila pulang dari pesantren selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan ara. Sedang ara yang memang hampir setiap hari sepulang dari berdinas mengikuti kajian dirumah mila, semakin dekat pula dengan ibu mila.


Hari ini tepatnya hari selasa, ara yang tidak ada jam dinas pergi kerumah mila untuk mengikuti kajian. Sesampainya dirumah mila dengan diantar ojek online, ara langsung berjalan menuju rumah ibu mila. Namun hari ini didapati ara tidak seperti hari kemare, keadaan rumah itu sepi. Namun ara mendengar ada suara orang dari balik pintu rumah tersebut.


"Assalamualaikum..."kata ara mengucap salam sambil mengetuk pintu rumah ibu mila.


Dari dalam rumah terdengar suara menjawab salam dari ara sambil membuka pintu.


"Mbak ara,,ayo masuk sini..." sambut ibu mila sembari mempersilahkan ara masuk.


"Bu kok sepi...ibu ibu yang lain kemana...?" Tanya ara sambil melihat kanan kirinya tidak ada orang.


"Iya mbak ara...maaf hari ini kajiannya libur dulu, soalnya ibu mau ke kampung sebelah ada undangan..." jawa ibu mila sambil memperailahkan ara duduk.


"Oh gitu... ibu sama siapa ke kampung sebelahnya..."tanya ara lanjut.


"Tadinya mau dianter bapak mbak..tapi bapak nggak bisa lagi ada urusan juga...jadi ya dianter mas rais..." jawab ibu mila dengan senyum.


"Iya bu...yaudah ibu hati hati ya dijalan...kalau gitu ara pamit pulang dulu..." jawab ara.


"Eh jangan pulang dulu...sini masuk dulu ibu masak banyak, mbak ara bawa pulang ya buat makan siang sama malam nanti.." pinta ibu mila sembari mengajak ara masuk ruang makan.


"Lho rais belum siap siap is..." tanya ara yang melihat rais masih sibuk dengan kerjaannya diatas kompor.


"Bentar lagi mbak...nanggung ini kalau mau ditinggal mandi..nanti yang ada susunya pecah kalau nggak diaduk..." kata rais sambil mengaduk aduk isi panci diatas kompor.


"Yaudah sini aku yang ngaduk kamu mandi gih...ntar telat lho...ibu aja udah mau beres siap siapnya..." pinta ara untuk membantu rais.


"Iya mas...kamu cepet mandi udah siang ini...maaf ya mbak ara ngerepotin mbak ara jadinya..."kata sang ibu sambil sibuk memasukkan makanan ke dalam rantang untuk dibawa ara pulang.


"Nggak kok bu... ara malah seneng, sambil belajar juga gimana cara yang bener bikin susu..." jawab ara sambil tersenyum

__ADS_1


Rais yang sedari tadi sibuk mengaduk aduk susu diatas kompor, akhirnya memberikan alat adukannya kepada ara. Tidak sengaja jemari rais yang menyodorkan alat adukan mengenai tangan ara, raispun langsung minta maaf dan tanpa sengaja menatap wajah ara.


Sejenak mereka terdiam, tapi tatapan mereka langsung di bubarkan oleh ibu rais.


"Ehem...belum muhrim.." kata sang ibu sembari batuk.


"Satagfirullah...maaf kan saya mbak..maaf..." ucap rais sambil menunduk dan berlalu dari depan ara.


"Bu..." panggil ara kepada ibu rais.


"Iya mbak..ada apa.." tanya ibu rais.


"Apa ibu punya kriteria calon menantu untuk rais..." tanya ara sambil mengaduk susu diatas kompor yang sudah ditinggalkan rais.


"Nggak ada mbak...asal rais senang...calonnya senang ibu pasti nerima mbak...tapi masalahnya belum ada yang mau sama rais mbak..." jawab ibu rais sambil tertawa.


"Apa rais pernah jatuh cinta sama perempuan bu..." tanya ara lagi.


"Setau ibu sih nggak mbak..karena mas rais juga anak paling dekat dengan ibu, kalau ada apa apa pasti cerita sama ibu... selama ini yang diceritakannya hanya tentang usahanya dan hafalan Al-qurannya aja mbak..." kata ibu rais dengan jelas.


"Ibu bisa aja... mana mungkin juga bu..saya kan janda...lebih tua juga dibanding putra ibu..." kata ara sambil tersenyum.


"Ya kalau jodoh mbak... semua tak ada yang tak mungkin kalau Allah sudah berkehendak...yang tidak mungkinpun akan menjadi mungkin..." kata ibu rais, yang memang sudah melihat tanda tanda putranya jatuh cinta kepada ara, dan begitu juga sebaliknya.


Ara tidak menjawab, hanya tersenyum malu.


Setelah obrolan mereka selesai mereka beranjak keruang depan. Sembari menunggu rais yang belum selesai bersiap siap. Rais terkenal lelet kalau disuruh mandi. Dia bisa berlama lama dikamar mandi hanya untuk membersihkan setiap inci tubuhnya.


Setelah hampir 30 menit raispun sudah keluar dari dalam kamarnya, dia memakai kemeja berwarna putih, semakin nampak aura ketampanannya.


"Mas rais...sini dulu duduk le..." kata ibu rais sambil menepuk sofa untuk diduduki rais.

__ADS_1


Raispun langsung menuju sofa tersebut.


"Ada apa umm..."tanya rais.


Ara yang duduk disamping ibu rais merasa tidak enak, karena takut mengganggu obrolan mereka. Tapi pas ara minta ijin untuk pulang duluan, ibu rais malah tidak mengijinkannya.  Karena ibu rais ingin berbincang dengan mereka berdua sebelum ibu rais ke kampung sebelah memenuhi undangan.


"Mas rais...mbak ara...ibu pengen tanya sama kalain berdua..tolong dijawab jujur,, demi kebaikan bersama kedepannya..." kata ibu rais.


"Apa kalian saling punya perasaan satu sama lain.." sambung ibu rais.


Ara dan rais terdiam, sesekali ara melihat kearah rais. Namun rais tidak berani melihat kearah ara, dia hanya menunduk.


"Tolong dijawab mas..mbak..ibu pengen tau...biar kedepannya enak nggak ada kesalahan.."


Akhirnya raispun memberanikan dirinya untuk menjawab.


"Iya umm..saya menyukai mbak ara, tapi umma kan juga tau, kalau hubungan tanpa status dilarang oleh agama, jadi saya rasa menghindari mbak ara jauh lebih baik daripada menyatakan perasaan umm...apalagi saya juga nggak tau apakah mbak ara juga suka sama saya..." kata rais dengan wajah merah dan gugup.


Mata ara yang terbelalak tidak bisa berkata apa apa. Dia hanya tidak menyangka kalau ternyata rais yang dikenalnya pendiam itu menyukainya.


"Trus mbak ara gimana tanggapan mbak tentang kata kata rais barusan mbak..." tanya ibu rais kepada ara.


Ara tidak menjawab pertanyaan ibu rais, ara hanya menangis. Entah apa arti dari tangisan ara, ara beranjak dari duduknya dan minta ijin untuk pulang kepada ibu rais.


"Maafin saya mbak ara..karena sudah lancang menyukai mbak ara... saya sadar kok saya bukan siapa siapa...saya hanya penjual susu keliling dengan penghasilan yang tidak seberapa dibanding dengan profesi mbak ara. Bahkan saya masih terlalu kecil untuk mengatakan kalau saya ingin menikahi mbak ara.." kata rais dengan kata yang cukup jelas sebelum ara melangkah dari pintu keluar rumah.


Namun ara masih tidak menjawab juga, dia hanya melihat kearah rais dan ibu rais sembari menangis dan berlalu dari dalam rumah mereka.


\=\=\=\=\=\=


Hari ini menjadi hari yang berkecamuk bagi hati ara karena kejadian tadi oagi dirumah rais, bahkan makanan yang sudah disediakan dirrmantang oleh ibu rais pun lupa tidak dibawa pulang oleh ara. Entah apa yang sekarang ada didalam hati ara, namun yan jelas hari ini ara benar benar bingung dengan perasaannya, apalagi setelah rais mengutarakan isi hati didepan ibunya dan ara.

__ADS_1


Didalam hati ara, sebenarnya dia senang dengan ungkapan hati rais tadi, namun disisi lain ara berfikir lagi. Apalagi dia sempat berjanji kepada almarhum suaminya kalau dia tidak akan menikah lagi setelah kepergiannya.


Mungkin itu yang membuat ara sedari tadi bersedih dan menangis.


__ADS_2