
Sebulan sudah berlalu, setelàh pertemuan Zaki dirumah Ara. Nampak Ara dan Rais masih tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk membuka praktek dokter yang telah mereka rencakana. Tanpa di sangka-sangka. Ternyata usaha susu Rais nampak semakin berkembang pesat. Hingga ia bisa membeli segala perlengkapan untuk membangunkan sang istri sebuah tempat praktek. Ya, kali ini Rais tidak ingin sang istri membuka praktek di dalam rumah mereka. Lelaki ber karisma itu, memilih untuk merogoh kocek demi memuaskan hati sang istri.
"Nanti, bangunannya kaya gini, Mi." Rais berkata sembari menunjukkan sebuah gambar.
Ara terperangah melihat desain tersebut. Tidak pernah menyangka jika dirinya akan di bangunkan sebuah tempat praktek oleh sang suami.
"Masya Allah bagus, Bi? Ini Abi yang gambar?" tanya Ara, matanya nampam berkaca-kaca saking bahagianya.
Rais tersenyum, "Ummi suka?"
Ara mengangguk. "Sangat suka. Makasih banyak Bi."
"Abi yang makasih, karena Ummi lah, Abi jadi gigih dalam berjuang mencari nafkah demi keluarga kecil kita."
"Tapi, Bi?"
"Tapi kenapa, Mi?"
"Apa ini nggak terlalu berlebihan, Bi? Kita kan buka praktek bukan untuk mencari materi. Kita hanya ingin menolong sesama." Ucap Ara. Ia takut jika aang suami salah mengartikan keinginannya.
Rais terkekeh, "memangnya kalau untuk membantu sesama harus yang biasa gitu, Mi? Kalau kita bisa dan mampu. Membuat mereka nyaman dan rasa ingin sembuhnya semakin besar, kenapa tidak? Abi ikhlas kok bangun tempat praktek ini buat Ummi."
"Masya Allah, entah dengan apa Ummi harus bilang makasih sama Abi. Abi begitu baik."
"Gampang, Mi."
Ara mengernyitkan kemingnya, "maksudnya?"
"Ummi jatah aja Abi tiap hari."
"Astagfirullah, Abi!" Ucap Ara sembari mencubit manja perut sang suami.
***
__ADS_1
Malam menyapa, Kediaman Rais dan Ara nampak begitu riuh. Pasalnya Zulvi adik dari Zulva belum tidur. Bayi itu masih cengar bahkan ingin bermain bersama sang ayah. Gelak tawa kian melengkin manakala sang ayah mengajak dia main cilukba. Sungguh cantik Zulvi, dengan rambut yang terlihat hitam lebat, lurus lembut, gigi yang belum tumbuh, semakin membuatnya menggemaskan kala tertawa. Berbeda dengan Zulvi yang masih terjaga. Zulva sang kakak audah memasuki alam mimpi dari satu jam yang lalu.
"Sholihahnya Abi, sebentar lagi udah bisa ngomong ya Nak? Kalau udah bisa ngomong. Abi pengen, ķamu bisa belajar baca alquran." Ucap Rais sembari menciumi pipi sang buah hati.
Zulvi kecil membalas kata-kata sang ayah hanya dengan celotehannya. Sesekali dia mencoba meremas pipi sang ayah sambil menjerit kegirangan. Mungkin memang benar, jika sebagian orang menyebut cinta pertama anak perempuan adalah sosok sang ayah. Buktinya, Zulvi begitu girang ketika berinteraksi dengan sang ayah.
"Abi harus bener-bener jaga titipan Allah ini, Bi. Jangan sampai salah langkah dan salah dalam membimbing. Resikonya gede." Ucap sang istri, ia terlihat sedang sibuk melipat kain yang baru saja dicuci tadi pagi.
"Insya Allah, Mi. Ummi harus selalu ingetin Abi kalau Abi salah dalam mendidik." Ucap Rais.
Ara tersenyum sembari mengangguk, "Zulvi nggak tidur, Nak? Kasihan Abi lho capek. Seharian keliling ke toko-toko buat naruh susu." ucap Ara, sembari mendekat ke arah ayah dan anak yang sesang asik bermain itu.
Zulvi nampak kehirangan setelah sang ibu duduk disampingnya, celotehannya begitu menggemaskan. Sesekali Zulvi nampak memasukkkan kepalan tangannya ke dalam mulut.
"Putri Ummi udah pinter, ya? Bisa nyesap jari. Bentar lagi pasti mau merangkak. Iya sayang?" Ucap Ara memainkan tangan Zulvi yang masih penuh dengan air liur. "Abi udah ngantuk?" lanjut Ara.
"Dikit, Mi."
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Celotehan Zulvi masih nampak terdengar memantul di antara tembok-tembok kamar. Kali ini bukan hanya Zulvi, namun sang kakak Zulva oun ikut terbangun. Jadilah mereka berdua berkonser ria. Sedangkan sang ayah sudah pulas dengan dunia mimpinya.
"Ssttt .... jangan rame Nak. Kasihan Abimu kecapean. Ntar kaget." Ucap Ara.
Kelopak Ara seperti tidak bisa diajak kompromi. Hingga menjadikan dia, mau tidak mau harus membangunkan sang suami untuk gantian berjaga malam.
"Abi ... Bi. Bangun Bi, gantian. Ummi udah bener-bener ngantuk." Ucap Ara pelan di telinga Rais.
Rais yang nampak kaget, langsung bangun sembari mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak matanya. Rais masih terlihat sangat malas dengan muka bantal dia mencoba untuk mengusap maniknya.
"Ummi belum tidur?" tanya Rais lirih.
"Gimana mau tidur, si bocil nggak tidur-tidur. Abi masih ngantuk?" Tanya Ara.
"Dikit, nggak apa-apa udah tugas kita jaganya gantian. Ummi tidurlah. Biar Abi jagain sholihah ini. Abi pastiin sebetar lagi mereka bobo."
__ADS_1
"Yaudah, Ummi merem bentaran ya, Bi. Selamat berpesta sama duo Zul." ucap Ara sembari memeluk guling.
Lama Rais mengajak Zulva dan Zulvi bermain, mengganti popok hingga membuatkan susu untuk mereka berdua. Semenjak kedua putrinya usia empat bulan, Ara dan Rais memutuskan untuk memberinya susu tambahan. Jadi, ketika sang ibu tertidur, maka susu formula jadi penggantinya.
Setelah kenyang dengan susu masing-masing, kini dua bayi tersebut nampak terlelap dalam pelukan sang ayah.
Setelah ritual menjaga sang buah hati, rasa kantuk yang bergelayut di kedua mata Rais seakan hilang entah kemana. Ayah dua anak itu melihat jarum jam yang bertengger di dinding kamar menunjukkan pukul satu dini hari. Sehingga Rais memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk mensucikan diri dari hadast kecil.
Setelah melaksanakan sholat malam, kini Rais nampak berjalan menuju ranjang. Melihat seksama wajah sang istri yang begitu terlihat lelah. Tak ingin mengganggu tidurnya. Keingin Rais untuk mecinta dengan sang istri ia urungkan niatnya.
Lelaki itu mmemilih untuk memijit-mijit lembut betis sang istri. Hinggarasa kantuk itu hadir kembali.
"Abi udah tidur?" tanya Ara tiba-tiba, membuat sang suami kaget.
"Ummi kok nggak tidur?"
"Gimana mau tidur, wong Abi ngelus-ngelus betis Ummi."
"Astagfirullah Ummi? Itu bukan ngelus, tapi mijit."
"Mijit?"
"Iya, Mijit."
"Ummi kangen sama Abi." Ucap Ara berbisik.
"Abi juga kangen." balas Rais sembari mengelus rambut hitam legam sang istri.
Tanpa diminta, Rais mencium bibir merah sang istri, yang dibalas pagutan oleh Ara.
"Sssttt.... jangan berisik, ntar duo Zul kebangun, kita gagal lagi." Ucap Rais di telinga Ara.
Ara mencubit manja perut Rais, lalu ia memeluk tubuh sang suami hingga terjadilah adegan dua puluh satu plus-plus.
__ADS_1