
Dengan napas berat, Mila mencoba untuk membuka sepucuk surat tersebut. Matanya terpejam, entah apa yang ada dalam pikirannya.
Deg.
Hatinya bertetak tak seirama, manakala ia melihat isi dari kertas putih tersebut.
Assalamualaikum.
Ndug Mila. Jumat besok kamu pulangnya lebih awal ya, Nak. Soalnya akan ada tamu dirumah. Umma sudah bilang sama mas Rais untuk menjemputmu subuh.
Tertanda
Umma.
Surat yang isinya singkat dan jelas itu segera Mila lipat kembali. Hatinya kembali berdesir, merasakan bias-bias yang hingga saat ini belum bisa ia jabarkan.
Apa Zaki udah kerumah duluan, ya? Kok surat Umma sama suratnya bisa bersamaan kaya gini? Apa ... jangan-jangan ini tak-tik Zaki? Nampaknya, Mila menaruh curiga terhadap pemuda berparas tampan tersebut.
"Mila! Kamu kenapa sih. Dari kemarin bengong mulu," ucap Jayanti, salah seorang kawan dekat Mila di pesantren.
Buru-buru dua buah surat tersebut ia masukkan dalam selipan buku yang dibawanya, "nggak apa-apa, kok. Mungkin ... aku kecapean aja," tukas Mila sembari tersenyum.
Jayanti melirik lipatan kertas yang Mila masukkan dalam buku, dirinya melihat gelagat yang tak biasa dari sang kawan. "Sepertinya kamu lagi jatuh cinta," ucapnya tanpa basa-basi.
Wajah Mila terlihat memerah, "jatuh cinta? Sama siapa?"
"Ya, mana aku tahu, Mil. Emangnya aku dukun. Itu teh kamu yang tahu, lagi kasmaran sama siapa?" Ucap gadis yang berdarah Sunda tersebut dengan terkekeh.
"Yan, boleh aku tanya sama kamu?"
__ADS_1
"Tanya? kalau sekedar tanya mah, boleh-boleh aja Mila. Sok atuh, mau tanya apa? Asal jangan tanya duit, Yanti mah lagi bokek pisan ini teh," ucap Jayanti dengan polosnya.
Mila terkekeh, "nggak lah, Yan. Lagian, aku juga tahu, kalau orang tuamu belum kesini."
"Sok atuh, kamu mau tanya apa?"
Mila menganjur napas berat, "Apa yang akan kamu lakuin, jika ada seorang pemuda memintamu untuk menjadi pendamping hidupmu, Yan?"
Mata Jayanti terbelalak. "Jadi, maksud kamu, kamu di ajak nikah, gitu? Saha yang ngajak kamu nikah, Mil? Kok nggak pernah cerita sama Yanti?" Gadis asal Garut tersebut nampaknya terkaget-kaget ketika Mila mengucapkan kata pendamping.
"Ssstt.... Bisa nggak jangan berisik, ini rahasia, Yan." Ucap Mila sembari membungkam mulut sang kawan.
Jayanti mengangguk pasrah.
"Gimana? Apa yang bakal kamu lakuin?"
"Ih ... si Mila atuh lupa, ya? Kamu kan pernah bilang sama Yanti, kalau nggak mau buru-buru nikah. Kamu bilang bakalan kuliah jurusan kedokteran sama kaya kakak iparmu. Kamu teh lupa, ya?"
"Terus? Kenapa kamu tanya hal macam itu sama Yanti teh? Saha emang pemuda yang ngajakin Mila nikah?"
"Yanti ... aku tuh tanya ama kamu, kalau ada pemuda yang ngajakin kamu nikah, apa yang bakal kamu lakuin?"
"Mila ... kita teh berbeda. Dan jawabanku atas pertanyaanmu pasti bakal aku jawab nggak mau, soalnya masih pengen kuliah dan menjadi seorang dokter. ltu kalau aku. Tapi, sekarang balik sama diri kamu sendiri teh. Kamu siap belum jika di pinang? Udah siap kuliah sembari menyandang gelar Nyonya?" jawab Jayanti panjang lebar. "Mending ya, Mil. Hal-hal seperti itu jangan kamu tanyakan pada manusia, sebab jawabannya bakal bikin kamu pusing teh. Mending kamu istikharah, minta petunjuk kepada sang pemilik hati dan cinta. Agar kamu nggak salah dalam mengambil keputusan." Lanjutnya dengan serius.
Mila tersenyum lega. Gadis itu nampaknya sangat bersyukur mempunyai kawan dekat sebaik Jayanti. Yang selalu memberi solusi dalam setiap persoalan hidup yang ia lalui.
"Makasih, Yanti. Kamu memang sahabat terbaikku," ucap Mila sembari melebarkan tangan untuk memeluk Jayanti.
"Iya sama-sama, sekarang coba kamu ceritai teh, siapa yang ngajakin kamu nikah? Apa kamu udah kenal sama dia?" Sekali lagi, Jayanti mencoba untuk menanyakan siapa pemuda yang telah berani mengajak Mila berumah tangga.
__ADS_1
Mila tertunduk. "Sahabat kakak iparku."
Jayanti terbelalak, "usia kalian terpaut jauh dong?"
Kali ini Mila tersenyum, "begitulah. Aku pun nggak menyangka, kalau dia bakal seberani ini mengajakku untuk menikah. Padahal, kami tidak pernah ngobrol. Jangankan ngobrol, kami hanya bertemu beberapa kali, itu pun karena nggak sengaja."
"Terus? Kamu suka sama dia?" cecar Jayanti.
Mila mengerutkan kening, lalu ia memicingkan pundaknya, "entah, yang aku tahu, dia itu menyebalkan. Masa ia, aku nikah sama orang yang usianya terpaut jauh dariku?"
Jayanti terkekeh, "itu kamu tahu. Kaya nggak ada yang lebih muda lagi."
"Iya, benar kata kamu, Yan. Nggak mungkin aku menikah dengan orang yang jauh lebih tua usianya dibanding aku. Apa kata kawan-kawanky nanti."
"Tapi kalau jodoh?"
Mila terbelalak, "jangan gitu, ah. Aku masih mau kuliah. Lagian, pemuda itu menyebalkan."
"Pesanku, kamu istikharah aja, Mila. Biar nggak salah dalam mengambil keputusan."
Mila mengangguk sembari tersenyum.
"Eh, tapi dia ganteng nggak?"
"Ganteng? Sepertinya masih lebih ganteng kakak dan adik-adikku." Ucap Mila lalu diakhiri dengan kekehan.
🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa mampir di karya terbaruku ya. Makasih.
__ADS_1
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, ISTRI SIMPANAN, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1527205&\_language\=id&\_app\_id\=1