
Malam panjang yang mereka lalui berdua. Membuat kedua anak adam tersebut segut untuk memulai aktifitas di pagi ini. Selepas menjalankan sholat subuh. Dua pasangan itu masih terlihat saling bermanja ria diatas pembaringannya. Jam sarapan pagi pun mereka lewati begitu saja. Bak kejatuhan cinta, Ara dan Rais masih ingin memadu cinta yang sepertinya belum menuai kepuasan satu dengan yang lainnya.
"Ummi, masih pengen?"
Ara terlihat mengangguk manja. Jelita itu nampak hanya memakai baju tidur yang tipis menerawang. Hingga membuat pelupuk Rais berbinar melihat pemandangan yang selalu ingin ia tonton setiap saat.
"Nggak capek? Kan belum sarapan, sayang?" bisik Rais. Suaranya bergetar.
"Ehm ... yaudah, kita keluar, Bi. Nyari sarapan di sekitar sini. Ummi pengen makan, makanan khas Solo." Tutur Ara.
Dua insan tersebut nampak saling bersiap-siap untuk mencari makan di dekat hotel tempatnya bermalam. Rais yang memang tidak suka dengan makanan yang disediakan oleh pihak hotel. Akhirnya memilih untuk mencari resto.
Di sepanjang jalan Ara dan Rais nampak begitu bahagia. Kali ini sang wanita lah yang memegang kemudi. Sedangkan Rais disuruh oleh Ara untuk duduk manis di sampingnya.
"Maaf ya, Mi?" tutur Rais seketika. Membuat Ara mengernyitkan kening.
"Maaf?"
"Iya."
"Emang kenapa, Bi?"
"Karena Ummi yang nyetir."
"Abi ... bisa aja."
"Abi sebenarnya nggak mau lihat Ummi capek. Tapi Ummi maksa buat nyetir."
"Kan emang Ummi yang minta."
Seketika suasana hening. Hanya terdengar lalu-lalang kendaraan saling menyalip di samping kanan dan kiri mobil yang dikendari oleh Ara.
"Bi ... boleh Ummi tanya?"
"Sejak kapan Abi ngelarang Ummi tanya, sayang?"
Ara tersenyum sembari melihat ke arah Rais.
"Mau nanya apa?" ucap Rais lembut.
__ADS_1
"Ntar aja, kalau udah sampe tempat makan."
Tak butuh waktu lama, keduanya pun kini sampai di sebuah warung nasi. Ara dan Rais segera keluar dari mobil menuju ke warung tersebut.
Sesampai di dalam resto, mereka berdua mencari tempat duduk yang nyaman.
"Bi disana, yuk." Ajak Ara ketika mendapati sebuah bangku kosong di sudut resto.
"Ayo." Jawab Rais seketika itu juga menggandeng jemari Ara.
Rais dan Ara terlihat tengah melihat-lihat menu yang ada di daftar. Setelah beres dengan pesanannya. Kini mereka berdua terlihat sedang bersenda gurau.
"Abi pernah makan disini?" tanya Ara tiba-tiba.
"Pernah." Jawab Rais. Kedua matanya masih enggan berkedip melihat sang jelita.
"Mas Rais!" Terdengar sebuah suara perempuan dari arah punggung Rais.
Pemuda itu seketika menoleh kearah datangnya suara. Kedua alisnya saling bertautan. Sepertinya ia kaget dengan kedatangan seorang gadis berhijab lebar. Gadis itu tersenyum kepada Rais.
"Mayra?" ucap Rais lirih.
Rais mengangguk, "May, kenalin. Ini istriku, Shamira."
"Istri? Mas Rais udah nikah!" sebuah pertanyaan yang membuat Mayra
sedikit tetlihat syok. Entah apa sebenarnya hubungannya dengan Rais.
Ara yang melihat gelagat aneh di antara mereka berdua, segera mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Mayra.
"Shamira, panggil saja, Ara." Ucap Ara disertai senyuman.
Mayra masih ternganga.
"May!" Seru Rais.
Mayra tak sadar jika dirinya disambut hangat oleh Ara.
"Eh ... maaf-maaf. Mayra, Mbak."
__ADS_1
"Ayo duduk sini." Pinta Ara. "Kalian teman kampus atau sekolah?" tanya Ara penasaran.
"Kami___" kata-kata Mayra terhenti. Matanya menatap lekat ke arah Rais. Hingga membuat Ara sedikit tidak nyaman dengan pemandangan tersebut. Apalagi ia melihat sang suami diam menunduk.
"Kami apa, Mbak?" tanya Ara penasaran. Hatinya sudah mulai bergetar.
"Eh ... nggak! Maksud saya, kami ini dulu kawan bermain sewaktu kecil. Iya kan, Mas?"
"Iya." Jawab Rais singkat.
Ara mulai menaruh curiga kepada Mayra dan Rais. Jika memang hanya sebatas kawan. Mengapa mereka saling canggung?
"Bi ... Ummi ke toilet dulu, ya?" tutur Ara smebari berdiri dari duduknya. "Mbak Mayra, pesan makan aja dulu. Kami tadi udah pesan." Ucapnya lagi.
Di toilet, Ara mencuci tangannya. Pikirannya menerawang. Hatinya bertanya-tanya. Siapa Mayara? Kenapa Rais seolah takut ketika bertemu dengan gadis itu.
***
Di tempat Mayra dan Rais. Mereka berdua terlihat saling diam, sebelum pada akhirnya Mayra membuka percakapan dengan pelan dan lirih.
"Kenapa Mas Rais nggak ngomong-ngomong kalau mau nikah?" ucapnya. Terlihat dari binarnya gadis itu nampak memendam rasa kecewa yang mendalam terhadap Rais. "Mas Rais tahu? Aku ke Kairo untuk menempuh belajar. Aku di sana berusaha semampuku agar lulus lebih cepat dan bisa segera menikah denganmu."
"Maafkan aku, May. Tiga tahun aku mencoba untuk menghubungimu. Tapi tidak bisa. Aku pun sampai bertanya kesemua keluargamu, tapi, mereka memintaku untuk melupakanmu. Sebab kamu sudah dijodohkan."
Mayra tertunduk lesu. Sesekali gadis itu menghembuskan napasnya secara berlahan. Suasana hening, hingga akhirnya Ara pun datang di tengah-tengah mereka.
"Kenapa pada diem?" tanya Ara.
"Nggak Mbak. Ini, saya lagi ada urusan mendadak. Jadi, saya pamit duluan ya?"
"Lho? Nggak makan dulu, Mbak?"
"Lain kali saja Mbak."
Mayra berpamitan kepada Ara, memeluk serta bersalaman dengannya.
"Mbak May, boleh minta nomor hp nya?" Pinta Ara. Membuat Rais tersentak dan melihat ke arah mereka berdua secara bergantian.
Mayra melihat ke arah Rais. "Sepertinya Mas Rais masih menyimpan nomorku Mbak. Mbak bisa minta sama dia. Maaf aku lagi buru-buru." Katanya sembari berlalu dari hadapan Rais dan Ara.
__ADS_1