JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
BERTEMU SAHABAT LAMA


__ADS_3

Dua minggu berlalu, Ara pun dengan semangat mengurus perpanjangan SRR serta SIP dokter. Dengan ditemani sang suami, wanita cantik itu nampak sedanv berada di sebuah kantor yang khusus untuk mengurus segala kepentingan untuk membuka praktek. Tak dinyana, Ara pun bertemu sahabat semasa SMP nya, rupanya sahabatnya tersebut adalah salah satu pegawai di situ.


"Mira! Kamu Mira, kan?" ucap lelaki tampan yang kini sedang berdiri dihadapan Ara.


Ara menautkan kedua alisnya, "kok Masnya tahu kalau panggilan kecil saya Mira?" ucap Ara keherannan. Nampaknya Ara tidak lagi mengenali sang sahabat.


"Masya Allah, Mir. Ini aku Zaki, Mir. Masa kamu lupa?"


"Zaki? Zaki temen SMP ku?"


"Yaiyalah Mir."


"Astagfirullah, maaf Zak, aku palingling sama kamu."


Obrolan yang spontan seperti saling dakat tersebut, membuat Rais tidak nyaman. "Ehem," Rais pun berdehem.


"Eh, sampe lupa, kenalin ini suamiku, Mas Rais. Kenalin, Bi. Ini temen Ummi paling jahil, namanya Gombloh." Ucap Ara terkekeh.


"Kamu masih ingat sama panggilanku, Mir. Ohya, kenalin Mas, nama saya Zaki."


"Rais."


"Omong-omong? Kalian ngapain kesini? Dan kamu Mir? Nikah kok nggak undang-undang? Udah punya anak berapa kalian?" Tutur pemuda yang bernama Zaki tersebut.


Ara melihat ke arah sang suami, berharap jika ia akan menjawab pertanyaan sang sahabat. Namun, sepertinya Rais memilih untu membiarkan Ara menjawab pertanyaan dari kawan kecilnya itu.


"Ehm ... mau ngurus berkas buat buka pkraktek, Zak." Jawab Ara lalu mengembuskan napas. "Alhamdulillah, anak kami udah dua, kembar. Kalau masalah nikah, aku minta maaf nggak sempet ngabarin kamu. Bukan nggak sempet sih sebenernya, cuma emang nggak tahu kamu pindah kemana. Sejak kamu mutusin buat ikut Mama kamu, aku bener-bener kehilangan jejakmu. Jadi, maaf ya nggak ngabarin."


Zaki tersenyum, "nggak apa-apa. Yang penting kalian bahagia terus. Terus mana anak kalian?"


"Lagi dirumah sama Uti dan Tantenya," kali ini Rais menjawab pertanyaan Zaki.


"Kamu udah nikah, Zak?"


"Yaudah, nanti kita lanjut ya, saya lagi banyak kerjaan. Ntar dimarahin sama bos. Oh, ya. Boleh kita tukeran nomor Hp mas Rais?" Pinta Zaki, tanpa mau menjawab pertanyaan dari Ara.


"Boleh, emang Mas Zaki tinggal dimana?"


"Deket sini, saya juga baru di pindah kesini. Sebelumnya saya ditugaskan di Surabaya. Kalau Mas Rais?"


"Saya aseli sini Mas."


"Oh yaudah, mana nomor Hp nya."


Setelah bertukar nomor ponsel, Zaki berpamitan kepada Ara dan Rais.


"Temen deket, Mi?" Ucap Rais sembari melihat lekat langkah demi langkah sahabat sang istri tersebut, hingga akhirnya langkahnya hilang tepat setelah memasuki sebuah ruangan.

__ADS_1


"Dulu sih temen deket, Bi. Kebetulan kami tetangga komplek, rumah kami berhadapan. Rumah kosong itu lho, Bi. Dulu itu rumah Zaki dan keluarganya."


"Sedekat apa, Mi?" telisik Rais menatap kedua mata sang istri.


"Maksudnya?" Tanya Ara tidak mengerti. "Bentar-bentar ... ini? Jangan bilang kalau Abi cemburu ama Zaki?" lanjut Ara menahan tawa.


"Apa wajah Abi seperti lagi cemburu?" tanya Rais menekuk wajahnya. "lni kali pertamanya Ummi ketemu teman lawan jenis dan membuat hati Abi berdesir panas." Ucap Rais.


"Astagfirullah, Bi? Kami itu dulu sahabat waktu masih jaman SMP. Dan kami nggak ada yang namanya pacar-pacaran, kita memang pyur sahabat biasa. Mungkin tadi Ummi hanya kaget aja lihat Zaki. Karena kami nggak ketemunya udah belasan tahun." Jawab Ara tersenyum.


"Tapi tatapan Zaki sama Ummi kenapa kaya beda, ya?"


"Husss ... Abi. Nggak boleh gitu, itu namanya su'udhon, gimana kalau Zaki ternyata udah punya anak istri? Dosa lho, Bi." Tukas Ara. "Lagian kenapa Abi mesti cemburu sama dia? Ummi aja biasa aja lihatin Zaki, nggak ada perasaan apa-apa."


"Iya, Mi. Maaf."


Entah kenapa, perasaan cemburu dalam hati Rais begitu nampak mencoloj, tidak seperti biasanya, lelaki itu akan bersikap santai dan biasa saja kepada kawan-kawan sang istri. Rais berharap jika Zaki tidak akan pernah menghubunginya. Terlebih jika hanya ingin tahu kabar sang istri.


Setelah selesai dengan urusan, mereka berdua segera kembali. Sesampai di area parkir, lagi-lagi Zaki menghampiri Ara dan Rais.


"Udah mau pulang?" Tanya Zaki sembari mempercepat langkah menuju mereka berdua.


Rais dan Ara saling melempar pandangan.


"Iya, Zak. Takut si kembar rewel. Kasihan Uti sama Tantenya yang nungguin." Ucap Ara tersenyum.


Ara diam mematung, perempuan cantik itu bingung harus menjawab apa. Sepertinya sang suami mulai gerah.


"Maaf Zak. Kami sedang terburu-buru. Kalau memang ada yang penting, kamu hubungi saja suamiku. Ayo, Bi." Ucap Ara sembari masuk dalam mobil.


"Kami duluan, Mas." timpal Rais tersenyum.


Zaki masih mematung, baru saja ia bertemu sang sahabat. Kini pergi lagi. Namun, Zaki ternyata sudah mengantongi alamat rumah Ara dari surat-surat yang di ajukannya tadi.


*****


Tiga hari pasca bertemu dengan Zaki, kini Rais dan Ara tengah sibuk memandikan sang buah hati. Kaki Rais yang audah nampak baik-baik saja, tidak ingin tinggal diam. Lelaki itu nampak ikut memandikan sang buah hati di dalam bak mandi lain.


Gelak tawa dan celoteh yang saling bersahutan nampak keluar dari bibir kedua bayi kembar tersebut. Nampaknya merek menikmati prosesi mandi sorenya. Setelah selesai mandi dan memakai baju yang baru. Kini, giliran Ara dan Rais mengajak duo Zul jalan-jalan di depan rumah untuk menikmati ssenja sore.


Baru saja pasangan suami istri itu mengajak sang buah hati berceloteh ria. Sebuah mobil berwarna silver masuk ke pelataran rumah mereka.


"Siapa, Bi?"


"Nggak tahu, baru ini Abi lihat mobilnya." Ucap Rais.


Seorang pemuda nampak turun dari dalam mobil tersebut. Sebuah senyum tersimpul di kedua sudut bibirnya. Membuat Ara menganjur napas dalam.

__ADS_1


Mau ngapain sih, Ki! Runtuk Ara dalam hati.


"Asslamualaikum," ucap pemuda yang tak lain Zaki tersebut.


Ara dan Rais menjawab secara serempak.


"Darimana tahu alamat kami, Mas?" Tanya Rais sembari menyalami Zaki.


"Kan Mas Rais ngasih data lengkap ke kantor tempat saya kerja. Ini sekalian saya mau anter suratnya udah jadi. Jadi, kapan mau buka prakteknya?"


"Aku tinggal masuk dulu ya, Zak. Kamu ngobrol ama suamiku dulu."


"Mi? Bikinin minum ya?" Ucap Rais.


Ara mengguk sembari mendorong kereta dorong Zulva dan Zulvi.


Di dalam dapur, Ara nampak kesal dengan kedatangan Zaki. Bukan tidak senang, sebenarnya Ara suka dengan kedatangan sang sahabat. Namun, baginya, menjaga hati suaminya adalah yang utama. Jika pun dia harus kehilangan sang sahabat. Itu tidak mengapa, asal hubungannya dengan sang suami baik-baik saja.


"Silahkan diminum, Zak." ucap Ara ketika usai menyediakan tea untuk Zaki.


"Wah, ternyata nggak salah. Anak kalian lucu-lucu sekali. Persis seperti kamu waktu kecil, Mir."


Kata-kata Zaki membuat rahang Rais sedikit mengeras. Namun, bagaimana pun juga, dia harus bisa menjaga sikap kepada sang tamu. Apalagi dia belum tahu, apakah Zaki ini single atau sudah berumah tangga.


"Mas Zaki kok nggak sama istri?" Ucap Raia basa-basi.


Zaki tersenyum, "kan saya langsung dari kantor, Mas."


"Oh iya." Jawab Rais sedikit lega. Setidaknya jawaban Zaki mewakili jika dirinya saat ini berstatus sebagai suami orang.


"Istrimu orang mana, Zak?" Tanya Ara.


Lagi-lagi Zaki hanya tersenyum. "Rencana kamu buka parkatek disebelah mana, Mir?"


"Ya dirumah ini."


"Kalau mas Rais sendiri? Kerjanya apa?"


Pertanyaan yang membuat hati Rais menciut. Bukan malu, namun dia takut sang istri lah yang minder ketika Zaki tahu jika dirinya hanya seorang penjual susu keliling.


Ara memegang tangan Rais dengan lembut, senyum manis tersunghing di bibirnya."Dia pengusaha. Alhamdulillah, berkat usahanya itu kami bisa jalani hidup se asik ini."


"Usaha apa?" Zaki mulai menelisik.


"Saya penjual susu murni, Mas. Tepatnya tukang susu keliling."


"Tapi Ummi bangga sama Abi. Berkat kegigihan dan perjuangan Abi. Bisa menjadikan hidup kita lebih baik saat ini." Timpal Ara.

__ADS_1


__ADS_2