
"Jadi, selama sebulan Ummi nggak di rumah. Abi ngapain aja?" Tanya Ara ketika melihat seisi rumah hampir berantakan semua. Bahkan, terlihat lantai yang di injaknya tidak pernah tersentuh oleh alat pel sama sekali.
"Mikirin Ummi dan kesalahan Abi."
"Itu aja? Nggak ngapa-ngapain?"
"Ya, jualan susu, Mi." Jawab Rais sembari membuka jendela yang memang sudah hampir sebulan tidak dibukanya.
Ara beringsut menuju Rais yang masih berada di bibir jendela. Lelaki itu nampak begitu lekat melihat cahaya merah saga diatas langit sore. Hampir magrib, namun. Rais tetap membuka jendela demi mendapat asupan oksigen yang lebih baik.
"Maafin Ummi, Bi." Ucap Ara lirih. Kedua tangannya memegang jemari Rais yang tengah bertumpu pada bibir jendela.
"Abi yang harusnya minta maaf, karena sikap Abi yang nggak mau jujur sama Ummi, sampai membuat masalah dalam rumah tangga kita."
"Sekarang, kita kubur semua apa yang pernah terjadi kemarin ya, Bi. Kita buka lembaran baru. Semoga, rumah tangga kita damai hingga ajal menjemput kita." Ucap Ara sembari merebahkan kepalanya di pundah Rais.
"Aamiin, Mi."
Senja kali ini mungkin adalah senja paling indah sejek beberapa bulan terakhir. Rais dan Ara terlihat tengah menghirup udara sore itu dengan penuh gairah dan rasa suka cita. Dalam hati mereka saling berjanji kepada diri masing-masing. Semoga cobaan tiap cobaan yang datang dalam biduk rumah tangganya, akan bisa dihadapi dengan kepala dingin dan tutur kata yang saling mengingatkan.
****
Seminggu setelah kepulang Ara kerumah Rais, terlihat Mila datang kembali kerumah itu. Gadis berparas itu tak hanya sendiri, ia nàmpak di dampingi sang ibunda.
"Assalamualaikum." Ucap Mila dan sang ibu serempak. Membuat Ara dan Rais yang tengah sibuk di dapur segera melangkah ke depan. Terdengar dari suadanya, mereka tahu, jika yang bertamu adalah orang yang mereka sayangi.
"Waalaikum salam, Umma." jawab ara dan Rais serempak. Kedua sejoli itu nampak bergantian mencium punggung tangan sang ibu.
"Apa kabar anak-anak Umma. Kenapa kalian lama nggak kerumah Umma, sampai kangen." Celoteh sang ibu sembari berjalan menuju ruang tamu.
Ara dan Rais saling bersitatap, "ngapunten, Um. Kami akhir-akhir ini sibuk. Jadi, belum sempat berkunjung kerumah Umma." jawab Rais mewakili sang istri.
"Benar begitu, Mbak Ara?" Tanya sang ibu kepada anak menantunya.
"Ehm, njeh, Um. Kami sedang sibuk." timpal Ara.
"Umma harap rumah tangga kalian baik-baik saja. Umma nggak pengen denger keributan di antara kalian berdua. Kalian berdua anak Umma. Umma akan merasa sedih, jika sampai hal itu terjadi."
*****
Sepulang sang ibu dan sang adik dari kediaman mereka. Kini tiba lah untuk Rais dan Ara berjualan susu. Namun, kali ini Rais nampak membawa semua susunya keatas satu motor.
"Bagian Ummi mana, Bi?" Tanya Ara clingukan.
"Mulai saat ini, Ummi nggak boleh ikutan jual susu. Cukup Abi yang ngider, Ummi dirumah aja, doain Abi." Jawab Rais tersenyum.
__ADS_1
"Tapi, Bi?"
"Nggak ada tapi-tapian. Abi nggak mau Ummi sakit dan capek. Lagian ini sudah tugas dan jewajiban Abi mencari nafkah untuk istri Abi."
"Yaudah kalau memang Abi nyuruh Ummi dirumah. Tapi, Abi hati-hati, ya?"
"Iya sayang. Doain dagangannya laris tak tersisa ya." Ucap Rais, sembari mencium kening sang istri.
Belum sempat Rais menyalakan motor metiknya. Sebuah mobil merah mengkilat masuk ke pelataran rumah tersebut. Kedua mata Rais dan Ara fokus menatap mobil tersebut, yang semakin pelan dan akhirnya parkir tepat disamping motor milik Rais.
"Siapa, Bi." Tanya Ara berbisik.
"Ayahnya, Mayra." Jawab Rais dengan kedua mata masih fokus kearah mobil yang tak lain punya orang tua Mayra.
"Mau ngapain?" Tanya lagi Ara.
"Mana Abi tahu, Mi. Kita tunggu aja," ucap Rais sembari membuka jaket yang sudah kadung di pakaianya.
"Assalamualaikum." Ucap seorang lelaki baya ketika turun dari mobil mewah tersebut.
"Waalaikumsalam." Jawab Ara dan Rais serempak.
Ara dan Rais masih nampak lekat memandang setapak demi setapak langkah kaki lelaki tersebut.
"Saya mau bicara dengan kalian berdua!" Ucapnya ketus.
Lelaki itu tidak menjawab, hanya dengusan yang terdengar dari kedua telinga Rais dan Rais.
"Ada apa ya, Pak?" Tanya Ara kembali. Rais enggan berbicara sepatah pun dengan lelaki yang tengah duduk di hadapannya saat ini.
"Mungkin suamimu sudah bercerita tentang putri saya."
Ara mengangguk dengan senyum.
"Maksud kedatangan saya kesini untuk mengajak suamimu bertemu dengan putri saya yang sedang sakit."
Ara melihat kearah Rais, sebelum pada akhirnya membalas obrolan ayah Mayra.
"Mohon maaf, Pak. Putri bapak sakit apa?"
Lelaki itu menatap lekat ke arah Ara dengan penuh kegeraman.
"Tahu apa kamu masalah penyakit! Saya kesini hanya mau mengajak suamimu untuk menjenguk putri saya yang sedang sakit!"
"Istri saya seorang dokter. Mungkin, istri saya bisa memberi resep untuk Mayra putri Paman." Sahut Rais, yang tidak ingin harga diri sang istri di injak-injak.
__ADS_1
"Saya tidak butuh dokter. Saya hanya ingin kamu ikut dengan saya ke rumah. Itu saja!"
"Abi? Pergilah. Ummi percaya kepada Abi." Ara mengijinkan Rais dengan wajah penuh senyuman yang mendamaikan.
"Maaf Mi, Abi nggak bisa. Abi bukan dokter atau dukun yang bisa menyembuhkan Mayra. Kalau pun harus ke rumah Mayra, itu harusnya Ummi. Ummi seorang dokter."
"Tapi, Bi. Bapak ini sepertinya memohon kepada Abi agar mau ikut dengannya."
"Maaf, Mi. Untuk hal ini Abi tidak bisa, jangan paksa Abi, dan Paman! Paman salah alamat jika kerumah saya untuk mengajak saya kerumah Paman. Saya bukan siapa-siapa Mayra. Sepertinya tidak etis jika Paman menginginkan saya menemui putri Paman."
Bruak!
"Sombong Kamu!" Lelaki itu menggebrak meja yang berada dihadapannya.
"Maaf Paman. Saya tidak mau ada keributan dirumah. Mohon Paman silahkan pulang dari rumah saya!" Kali ini Rais benar-benar tidak mau tinggal diam. Dirinya harus tegas mengambil keputusan.
"Abi?"
"Ummi masuk, ini urusan laki-laki."
"Tapi, Bi."
"Abi bilang masuk, Mi!"
Ara terlihat melangkah pelan, perempuan itu takut terjadi apa-apa dengan dua orang yang beda generasi tersebut.
"Saya pastikan! Kamu akan bertekuk lutut di hadapan saya."
"Silahkan Paman keluar dari rumah saya." Rais terus saja menyuruh lelaki itu untuk pergi dari rumahnya. Telunjuk kanannya mengarah ke pintu keluar.
Kegaduhan itu nampak berhenti setelah ayah Mayra pergi dari dalam rumah Rais.
Rais segera menutup pintu rumahnya, lalu ia duduk disofa dan ber istigfar, matanya nampak terpejam, tangan kanannya memijit-mijit bagian pelipis matanya. Ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya untuk berjualan susu hari ini.
Ara nampak keluar dari dalam kamar, perempuan itu beringsut ke arah Rais yang tengah bersandar di sofa. Tanpa diminta, Ara memijit-mijit punggung Rais.
"Nggak seharusnya Abi bersikap kasar sama ayah Mayra, Bi."
"Apa Ummi rela melihat Abi ikut dengan ayah Mayra untuk melihat keadaannya!" Tukas Rais, nampaknya lelaki itu masih kesal.
"Bukan begitu maksud Ummi, Bi."
"Bukan begitu gimana, Mi. Cukup bagi Abi sebulan kemaren kehilangan Ummi. Bahkan Abi menjadi orang paling bodoh dan bersalah sama Ummi. Abi nggak mau mengulangi kesalahan yang sama!" Seloroh Rais penuh dengan penekanan.
"Ummi paham, Bi. Tapi nggak seharusnya tadi Abi mengusir ayah Mayra. Bagaimana pun juga beliau orang tua yang harus kita hormati. Abi kan bisa ngomong secara baik-baik."
__ADS_1
"Tadinya Abi udah mau ngomong secara baik-baik. Tapi ketika laki-laki itu membentak Ummi, Abi nggak bisa terima, Mi. Karena Bagi Abi, Ummi adalah tanggung jawab Abi. Dan Abi nggak mau orang merendahkan atau oun meremehkan istri Abi. Kalau hanya Abi yang dapat perlakuan seperti itu, Abi masih bisa terima."
Ara tertunduk, tangisannya pecah ketika tahu, jika sang suami benar-benar menjaga harga dirinya di depan orang lain. Bahkan, ia baru tahu, jika Rais murka akan seperti apa. Karena selama ini, yang Ara tahu, Rais orangnya lemah lembut.