
Dua bulan sudah Ara mengandung. Perutnya masih terlihat datar-datar saja. Tidak seperti yang sudah-sudah. Kali ini, wanita berparas itu nampak tidak nafsu makan. Jangankan makan, ketika dirinya hendak minum susu saja, harus melalui beberapa drama. Ya, kali ini Ara benar-benar merasakan apa itu namanya nyidam.
Seharian ini, ia memilih untuk merebahkan dirinya diatas tilam, sesekali bangun hanya untuk ke kamar mandi. Bahkan, kali ini peran seorang Rais lah yang utama. Lelaki itu nampak sedang menggiling baju-baju kotor, disambi dengan masak alakadarnya. Karena Rais juga tidak pandai masak seperti laki-laki perfeck pada umumnya. Rais tetaplah seorang Rais, hanya bisa romantis tapi tidak bisa masak.
Aroma ikan asin menyapu tiap-tiap ruangan. Hingga membuat Ara mabuk kepayang.
"Abi! Masak apaan!" Teriak Ara dari balik kamar.
"Ikan asin, Mi. Biar Ummi berselera makan." Timpal Rais dari balik dapur.
"Buang nggak Bi!" Teriak Ara kembali.
Rais segera mematikan kompor lalu berjalan menuju kamar dimana temoat sang istri sedang istirahat. "Kenapa, Mi?"
"Abi bau .... huueeek. Mandi sana! Eh sebelum mandi, beresin dulu itu ikan asin. Buang Bi. Ummi nggak mau ada bau-bau ikan asin." Tukas Ara kesal.
Rais melongo, "bukannya Ummi biasanya suka banget makan pakai ikan asin sambal dadakan ama tahu goreng?" Tutur Rais, ia rupanya ingin memancing nafsu makan sang istri.
"Beda, Bi? Itu dulu sebelum hamil! Ummi nggak mau ada aroma ini. Cepet buang. Ummi udah pengen muntah."
"l ... iya, Mi. Bentar." Ucap Rais sembari berhambur ke dapur.
Kasihan juga jadi orang hamil, susah banget makannya. Runtuk Rais sembari membersihkan ikan asin yang masih nampak setengah matang.
Setelah membereskan semua, kini lelaki itu mulai menuju kamar mandi untuk membersihkan aroma ikan asin yang masih begitu melekat di tubuhnya.
"Besok-besok kalau mau masak apa tuh! ngomong dulu sama Ummi. Jangan asal masak, udah tahu Ummi lagi teler." Ucap Ara setelah mendapati sang suami keluar dari kamar mandi.
Rais nampak diam, ia benar-benar merasa bersalah sebab menjadikan Ara semakin mual. "Maafin, Abi."
"Pijitin dulu ini tengkuk, ini udah berasa kaya mau muntah, Bi. Baunya masih berasa banget." Protes Ara.
"Udah nggak, Mi. Atau Abi semprot pakai minyak wangi dulu ya? Biar nggak bau." Usul Rais.
"Minyak wangi? Abi bener-bener pengen Ummi teler, ya!"
Begitu bawelnya Ara ketika berbadan dua. Hampir apa pun yang diĺakukan sang suami nampak salah di matanya.
"Terus mau Ummi gimana?" Tanya Rais lembut.
"Ehm ... kita jalan-jalan Bi, Ummi pengen makan pecel." Usul Ara.
__ADS_1
"Diamana ada orang jual pecel tengah hari gini, Mi?"
"Ya, mana Ummi tahu, yang Ummi pengen makan pecel kok."
Rais mengembus napas, lalu mengelus perut sang istri. "Sayang? Jangan biki Ummi kamu kaya gini dong? Abi jadi serba bingung dan serba salah, Nak." Ucapnya, lalu ia mencium perut Ara.
"Abi?" Panggil Ara lirih.
"Iya sayang, ada apa?"
"Kok Ummi tiba-tiba pengen di manja ya, Bi?"
Kedua alis Rais saling bertautan, "Manja? Manja gimana maksud Ummi?"
"Ya pengen diapain gitu sama Abi."
"Hmm ... seriusan? Ummi kan masih hamil muda, Sayang? Katanya nggak boleh."
"Abi pikirannya kotor banget? Yang minta di gituin siapa, Bi? Ummi pengennya di pijitin, di elus-elus perutnya." Ucap Ara manja.
"Astagfirullah ... maaf-maaf, Mi. Abi kira yang lain."
"Ummi kenapa lagi?" Teriak Rais sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
Ara tak menjawab, ia terus saja mengelurakan sisa-sisa makanan yang adà dalam perutnya.
Sepuluh menit, Ara nampak baru keluar dari kamar mandi. "Ummi kenapa?"
"Ummi nggak bisa nyium bau minyak kayu putih, Bi?" Ucapnya lirih.
"Yaudah sayang, Abi bersihin dulu ya yang dikamar biar nggak bau. Ummi istirahat dulu di sofa tengah, ya?"
Ara mengangguk, ia dibantu Rais berjalan ke arah sofa.
"Bi ... maafin Ummi ya? Karena Ummi hamil, Abi jadi kaya gini?" Ucapnya lirih.
"Nggak apa-apa sayang. Lagian kan emang udah kewajiban Abi jagain Ummi. Ummi nggak hamil aja, Abi jagain. Apalagi pas nyidam kaya gini. Udah, Ummi istirhat dulu disini. Abi beresin semua biar nggak bau minyak kayu putih lagi." Ucap Rais tersenyum.
Rais terlihat cekatab mengganti sepre yang ada di dalam kamarnya dengan yang baru. Belum selesai ia mengganti sarung bantal, terlihat Ara menatap ia di depan pintu kamar.
"Abi ... jangan pakr wewangian, ya? Ummi nggak bisa kena yang wangi-wangi. Bawaannya pengen muntah." Pesan Ara.
__ADS_1
Rais terlihat mencium sarung bantal. Baginya itu bukan aroma parfum, itu hanya wangi dari pengharum pakaian.
"Wanginya pengharum pakaian, nggak apa-apa, Mi?" Tanya Rais. Batinnya, jika memang tidak suka, maka dia akan mengganti dengan yang tidak ada aromanya.
Benar saja, Ara masih bertanya kepada Rais, "yang lain nggak ada ya, Bi?"
"Ada? Bentar ya, Sayang."
"Maaf ya, Bi?"
"Nggaka apa-apa. Abi justru yang minta maaf kepada Ummi. Gara-gara mengandung anak Abi, Ummi jadi tersiksa kaya gini."
Ara mengelus perutnya, "Ummi nggak tersiksa. Ummi menikmatinyam Hanya saja, Ummi kadang nggak suka lihatin Abi." Katanya tersenyum.
"Begitu, ya? Lalu ... saat ini perasaan Ummi gimana sama Abi?" Tanya Rais sembari memilih sepre dalam lemari. Ia nampak menciumi satu per satu sepre tersebut. Memastikan jika aromanya tidak akan membuat sang istri ingin muntah.
"Saat ini? Emh, kasih tahu nggak ya?" Seloroh Ara sembari memeluk sang suamj dari belakang.
Membuat Rais menghentikan aktifitasnya mencari sepre yang Ara inginkan. "Abi tahu, kali ini pasti Ummi pengen Abi manja." Ucapnya sembari melayangkan kecupan manis di kening Ara. "Bentar ya, Abi pasang sepre dulu." Lanjut Rais ketika menemukan sepre warna hijau di dalam lemari.
Setelah sepre terpasang rapi diatas kasur, kini sang empunya terlihat membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Ummi belum makan apa-apa dari pagi, susu juga nggak mau minum. Mau Abi masakin apa?" Tanya Rais sembari memijit kaki sang istri.
"Emang Abi bisa masak?"
"Ehm ... buat Ummi apa yang nggak bisa?"
"Tapi kan selama ini yang masak Ummi. Abi belum menikah aja yang masak Mila. Andalan Abi paling juga nasi goreng." Ucap Ara ngeledek.
"Wah ... istri Abi nggak percayaan banget kalau suaminya bisa masak. Sekarang Ummi pengen dimasakin apa? Biar Abi masakin."
"Emh ... pengen lele goreng kering di penyet diatas sambal terasi, ama kemangi plus mentimun, Bi. Kayanya enak banget."
"Siap tuan putri. Abi cari lelenya dulu di warung sama kemanginya. Ummi tunggu ya."
"Seriusan, Bi."
"Ya serius? Kenapa? Ummi nggak percaya kalau Abi bakal masakin Ummi."
Ara tertawa, membayangkan hasil masakan sang suami.
__ADS_1