JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
KELAKUAN RAIS


__ADS_3

"Assalamualaikum ... Mila! Apa kabar, Dek?" ucap Ara ketika sampai di depan pintu rumah.


Wanita itu mendapati Mila sedang mengepel lantai ruang tamu. Senyum manis pun segera terpancar dari dua sudut bibir Mila.


"Waalaikumsalam, Mbak. Alhamdulillah, Mila baik. Wah Mbak Ara makin cantik, setelah dua minggu jadi istri Mas Rais." Goda Mila sembari memeluk tubuh Ara.


"Kamu bisa aja. Udah makan?" tukas Ara. Wanita cantik itu setengah membanting totebag yang dibawanya ke atas sofa.


Mila menggeleng, "emh ... belum. Kenapa Mbak?"


"Kita makan diluar, yuk? Udah lama kita nggak makan di angkringan deket masjid Al-Aqso." Ajak Ara.


Rais terlihat berlalu dari hadapan dua wanita yang berbeda generasi tersebut.


"Abi! Abi udah menjajakan susu, kan?" nampak Ara mengejar langkah Rais yang terlihat kedapur.


"Sampun, Dek Ayu." Jawab Rais sembari mencubit lembut kedua pipi Ara.


"Cie-cie ... romantisnya. Sampai lupa kalau ada adeknya disini." tutur Mila yang memang sengaja ingin melihat kemesraan kedua kakaknya tersebut.


"Hus! nggak boleh lihat. Belum cukup umur." kata Rais.


"Mila, kamu udah mandi dan sholat ashar belum?" tanya Ara.


"Udah Mbak? Mbak Ara tuh yang masih bau ketek."


"Yaudah ... kamu tunggu ya. Mbak mau mandi dulu, udah gerah." ucap Ara. "Oh, ya, Bi. Abi udah mandi?"


"Lah yo sudah toh. Wong Abi udah tampan begini." canda Rais, membuat gelak tawa menguar dari ketiga bibir anak adam tersebut.

__ADS_1


Ara beringsut masuk kedalam kamar. Merebahkan beberapa menit tubuhnya diatas tilam berwarna putih, sebelum pada akhirnya wanita itu terperanjat karena ada langkah kaki masuk kedalam kamar.


"Katanya mau mandi? Kok malah rebahan, sayang?" Rais nampak mendekati sang istro yang terlihat sedang menggantungkan kakinya dibibir dipan.


"Bentar lagi, Bi. Ummi masih rada capek."


Melihat geliat tubuh Ara, membuat Rais tercengang. Pemuda itu cepat-cepat menelan salivanya yang sudah mulai ingin menerobos keluar dari rongga mulutnya.


Posisi Ara yang menggatungkan kakinya dibibir dipan dengan sedikit membuka selangkangannya, membuat Rais tidak bisa membendung hasratnya untuk bercinta dengan Ara.


"Mi..."


"Emh..."


"Abi boleh minta, dikit aja."


Ara tak menjawab pertanyaa Rais tersebut. Namun wanita cantik itu nampak membuka lebih lebar kedua pangkal pahanya. Seolah mempersilahkan Rais untuk menikmati tubuh serta area intimnya.


Rais mulai menciumi kening serta pipi Ara. Lalu pemuda itu memagutkan lidahnya dengan lidah Ara hingga membuat ciuman panas nampak terjadi pada keduanya. Hawa panas dingin sudah menyelimuti pasangan muda tersebut. Hingga desahan tiap desahan tercipta diruang kamar.


Kini, Rais mulai bergerilya memasuki **** ***** Ara. Pemuda itu nampak menatap dengan lekat apa yang tersaji dihadapannya.


"Boleh Abi mencium ini, Mi?" tanya Rais sebelum aksinya dimulai.


Ara yang memang sudah nampak menahan sahwatnya hanya mengangguk pasrah.


Hanya dengan hitungan detik. bibir merah Rais telah menyentuh **** ********** Ara. Tadinya lelaki itu hanya ingin menciumnya. Namun, entah kenapa karena aroma yang menguar dari daerah intim itu wangi dan menggugah selera. Akhirnya Rais mencoba untuk memainkan lidahnya.


tok tok tok...

__ADS_1


"Mbak Ara ... Mas Rais! Jadi makan malam diluar nggak? Udah mau magrib ini?"


Tiba-tiba sebuah suara memecah adegan panas yang tersaji diatas dipan. Membuat kepala Rais dan Ara pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak? permainan mereka belum sampai di puncak, bahkan jauhd ari kata klimaks.


"Iya bentar, Mil."


"Sholag magrib dirumah aja!" Sahut Rais.


Pemuda itu masih ingin melanjutkan aksinya dengan sang istri.


Puas dengan permainan yang sedikit membuat pasangan muda itu tergesa-gesa. Akhirnya adegan demi adegan rampung mereka lalui. Membuat keduanya puas dengan apa yang telah dicapainya.


Setelah mandi basah Rais dan Ara keluar kamar dengan pakaian yang rapih, sehingga tidak membuat Mila curiga apa yang telah membuat mereka berdua lama didalam kamar.


Adzan magrib telah berkumandang. Kini saatnya Rais melenggangkan langkahnya lresjid untuk sholat berjamaah. Sedangkan dua wanita yang beda genetasi tersebut nampak sedang bersiap-siap untuk sholat magrib.


***


Suara musik yang terbuat dari bambu terdengar merdu. Ara, Rais serta Mila terlihat duduk dideretan pembeli nasi kucing.


"Mila mau makan apa?" tanya Ara.


"Nas___"


"Jangan nasi goreng!" tukas Rais.


"Kenapa Mas?"


"Nggak bosen apa Mil, disini nasi goreng di rumah nasi goreng."

__ADS_1


"Yaudah, makan terserah aja Mas. Mila ngikut aja."


"Làkok malah terserah!"


__ADS_2