JODOH SANG DOKTER

JODOH SANG DOKTER
MEMBUAT SUSU


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya, subuh menyapu Kota Klaten. Sayup-sayup kumandang adzan terdengar saling bersahutan dari masjid ke massjid. Membuat siapa saja yang terbuai oleh lelapnya akan sekonyong-konyong bergegas dari dalam selimut untuk mensyucikan diri dari hadast kecil mau pun besar. Tak terkecuali dengan pasangan pengantin baru Ara dan Rais.


"Abi mandi duluan ya, Umm," ucap Rais dengan suara lembut di telinga dokter muda tersebut.


Ara mengangguk, kedua kelopak matanya masih terlihat enggan dibuka. Tubuh mulusnya terbalut oleh selimut tebal.


Kali ini Rais mencoba untuk membuang kebiasaan buruknya. Mempercepat mandinya. Agar sang istri bisa segera membersihkan diri pula.


"Loalah molor," ucap Rais sembari beringsut ketempat tidur untuk segera membangunkan sang bidadarinya.


"Sayang ... ayo bangun, udah subuh." bisiknya diteli Ara. "Masa keduluan ayam jago bangunny." Lanjutnya.


Dengan sisa-sisa tenaga Ara mencoba untuk menepis Rais. Wanita berparas itu mengambil sebuah bantal sebagai benteng perlawanan.


"Sayang ... ayo bangun! Kita sholat subuh." seru Rais sembari membuka bantal yang sengaja Ara buat sebagai penutup kepala.


Dengan rasa malas, Ara segera membuka selumut tebal yang membalut tubuhnya. Matanya nampak masih terpejam.


"Sayang, pakai sarung dulu!" tukas Rais.


"Astagfirullah! Maaf Abi," jawab Ara sontak.


Peremouan cantik itu segera berjingkat menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.


****


Jam menunjukkam pukul tujuh pagi. Karena hari ini adalah cuti trakhir, maka Ara masih bisa menghabiskan waktu bersama keluarga Rais. Wanita berparas cantik itu terlihat sedang sibuk di dapur bersama sang mertua. Jika dilihat dari kegiatannya. Nampaknya dua wanita yang beda generasi itu tengah menyiapkan santap pagi untuk para suami.

__ADS_1


"Nduk ... hari ini Umma mau pergi ke Jogja sama Ayah. Jadi, kamu sama Rais berdua saja dirumah, ya?" ucap sang ibu mertua kepada Ara.


"Njeh Umm. Dek Mila apa tidak pulang hari ini?" tanya Ara lembut.


"Ndak, Mila pulangnya besok, biar dijemput suamimu Nduk." Jawab sang ibu mertua.


Ara mengangguk sembari tersenyum. Setelah beberapa adegan dan ritual masak-memasak didapur. Akhirnya apa yang sedang mereka masak matang juga. Beberapa makanan sudah tersaji diatas meja makan. Tinggal menunggu aba-aba dari sang empunya untuk disantap hingga habis.


"Le ... Cah Bagus. Besok jangan lupa jam delapan pagi kamu ke pondok untuk jemput Mila." Tutur sang ibu kepada Rais.


Ini bukan kali pertamanya bagi Rais dipesan oleh sang ibu. Ibu Rais memang akan selalu mengingatkan sang putra jika hari jumat pukul delapan pagi adalah waktu untuknya menjemput sang adik tercinta.


"Njeh ... Umm."


Sepeninggal kedua orang tuanya ke Jogja. Kini, Rais dan Ara tinggal berdua dirumah. Masih malu-malu, terkadang dua sejoli itu senyum-senyum tanpa tahu sebabnya apa. Untuk menghilangkan rasa canggung yang menggelayuti hati. Rais berniat untuk membuatkan susu untuk sang istri.


"Mi ... bikin susu, yuk?" ajaknya yang seketika membuat kedua kornea Ara melotot. Bibirnya membentuk bulatan seperti angka nol.


"Kenapa ketawa?" tanya Ara dengan malu-malu.


"Emang Ummi pikir mau bikin susu apaan? Bikin susu nggak kenal waktu Umm. Apalagi ini masih pagi, paling enak minum susu. Bukankah Ummi suka susu bikinan Abi?" tutur Rais panjang lebar, hingga benar-benar membuat Ara malu dibuatnya.


"Astagfirullah Abi, maafin Ummi!" ucap Ara dengan kedua pipi merona merah.


"Ayo kita kedapur, bikin susu." Ajak Rais sembari menahan tawa. "Ummi mau dibikinin yang oroginal atau yang rasa strawberry?" tanya Rais.


"Ummi suka yang ori, Bi. Tapi? nggak ada salahnya kalau abi mau bikin yang rasa strawberry. Biar Ummi paham cara bikinnya."

__ADS_1


"Yaudah kita bikin keduanya. Abi mau ngajarin bidadari Abi ini gimana cara bikin susu yang benar dan enak." Canda Rais yang lagi-lagi membuat Ara kelepek-kelepek dibuatnya.


Ara dan Rais terlihat tengah sibuk membuat bahan-bahan untuk susu. Rais yang memang sudah biasa dengan kerjaannya itu, terlihat lihai tanpa salah-salah. Sedangkang Ara terlihat masih kikuk.


byaaaarrr


Susu dalam baskom tumpah tak tersisa.


"Abi ... maafin Ummi." Pekik Ara. Ia merasa bersalah akibat menumpahkan susu yang diangkatnya untuk ditaruh diatas kompor.


Dengan lembut Rais mengangguk dan tersenyum, "nggak apa-apa sayang. Kan Ummi nggak sengaja." Tutur Rais sembari membelai hijab yang dikenakan Ara.


"Tapi Bi ... gara-gara Ummi, susunya tumpah nggak tersisa. Gimana dong Bi?"


Rais terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Ummi masih pengen minum susu nggak?" Tanya Rais, yang segera dijawab gelengan oleh sang istri.


"Abi malah masih pengen." Ucap Raia kembali.


"Tapi persediaan susunya kan udah habis, Bi."


Rais tak menjawab, lelaki berjanggut tipis itu melihat ke arah Ara dengan tatapan menggemaskan.


"Ayo kita tidur aja."


"Tidur? Ini masih pagi, Bi. Nggak baik untuk kesehatan."


"Tapi baik untuk proses pembenihan."

__ADS_1


"Abi ...!" Jawab Ara merasa malu.


Dan akhirnya dua sejoli itu tidak melanjutkan aktifitasnya untuk membuat susu.


__ADS_2