
Bulan telah terganti, kini Ara sudah resmi regsign dari rumah sakit tempatnya berdinas di kota Klaten. Kesehariannya, wanita cantik itu menghabiskan waktunya untuk mengabdi kepada sang suami tercinta. Membantu Rais mengolah susu sebelum pada akhirnya dijual kepada konsumen. Senyum kebahagiaan selalu mengembang dari kedua sudut bibir Ara. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari ia selalu disuguhkan dengan kejutan-kejutan kecil yang diberikan oleh Rais.
Setelah Ara memutuskan untuk tidak bekerja lagi. Kedua orang tua Rais memilih untuk tinggal di daerah Tempur yang letaknya tak jauh dari kediaman Rais. Umma serta ayah sambung Rais tak ingin mengganggu kebahagiaan putra serta menantu idamannya itu. Memilih tinggal di rumah yang lebih dekat dengan pabrik bata milik sang Umma. Membuat Rais tidak begitu ambil pusing. Sebab, lelaki itu bisa kapan saja menjenguk kedua orang tuanya.
Pun dengan Mila sang adik. Gadis berparas itu pun mengikuti kemana sang Umma tinggal. Hanya saja ketika Mila pulang dari pesantren, tetap Raislah yang menjemputnya. Itu sudah menjadi perjanjian awal sebelum Rais mempunyai gelar sebagai suami. Ara tak keberan akan hal itu. Sebab, bagi Ara keluarga Rais adalah keluarganya juga. Tak ingin menganggap keluarga itu sebagai orang lain. Ara benar-benar menganggap keluarga Rais adalah keluarga kandungnya.
Seperti pagi ini, kediaman Rais kedatangan Mila yang baru saja memang pulang dari pesantren. Gadis putih bermata belo itu meminta Rais untuk ikut kerumahnya.
"Assalamualaikum ... Mbak Ara!" panggil Mila dari teras rumah.
Ara yang sedang sibuk menyetrika baju diruang tengah, sekonyong-konyong mengambil hijab lalu memakainya. Wanita itu segera bergegas membuka pintu rumah. Ingin tahu siapa gerangan yang bertamu dipagi hari.
Senyum mengembang dari bibir Ara, setelah ia mendapati jika yang menguluk salam adalah sang adik ipar.
"Waalikumsalam..." sambut Ara dengan menjawab salam dari Mila, lalu keduanya saling berpelukan.
"Mila kangen sama Mbak Ara." Ucap Mila ketika memeluk Ara.
"Ehm... Mbak juga kangen sama Mila. Ayo masuk," ajak Ara.
"Lupa nih kalau ada Abi disini!" protes Rais yang hampir tidak dipedulikan oleh Ara.
"Astagfirullah Abi ... kan Ummi udah salim." Jawabnya tersenyum.
"Tapi nggak dipeluk kaya Mila."
"Hus! Abi ..." Ara mencubit lembut perut sang suami.
"Tau nih mas Rais. Kaya yang nggak pernah ketemu mbak Ara aja." Ucap Mila ketawa.
Setelah masuk kedalam rumah. Tiga anak adam tersebut berhambur masuk dalam ruang dapur.
"Mbak masak apa?" tanya Mila.
"Emh, masak kangkung sama ikan tongkol. Makan gih. Pasti kamu belum makan kan?"
Mila nyengir sembari mengelus perutnya yang mulai perih, "belum Mbak. Tadinya mau makan dulu di kantin. Tapi mas Rais nggak mah nungguin sih. Katanya suruh makan dirumah aja."
"Yaudah sekarang Mila sarapan dulu. Habis itu, kamu istirahat. Kamu nginep sini kan?"
"Iya Mbak, Mila makan ya." jawab Mila sembari mengambil piring di rak. "Nggak lah Mbak. Kalau Mila nginep disini. Ntar kalian keganggu. Tahu sendiri Mila kan orangnya ruwet." sambungnya ketawa.
"Nggak lah. Nginep aja." Ucap Ara sembari melanjutkan setrika diruang tengah.
Rais yang sedang berada di dapur bersama Mila, tiba-tiba menghampiri Ara.
__ADS_1
"Mi... besok pagi kita ke Solo, mau nggak?" ajak Rais tiba-tiba.
"Ke Solo? ngapain, Bi?"
"Berkunjung kerumah mas Ahmad. Sekalian kita bulan madu lagi." bisik Rais. Membuat Ara senyum-senyum sendiri.
"Masa bulan madu nginep dirumah sodara, Bi? Malu, ih."
"Ya nggak lah sayang. Nanti kita tidur di hotel. Abi pengen nyenengin istri Abi ini. Mau, ya?"
Ara menghentikan aktifitasnya. Mematikan setrika yang masih menancap di stop kontak. Perempuan cantik itu mengembuskan napasnya dengan berlahan.
"Abi ... maaf banget, bukan maksud Ummi mau menyinggung Abi." Ara mengentikan kata-katanya. Perempuan itu seperti masih berfikir apa yang akan disampaikannya kepada sang suami. "Memang Abi punya duit? Mohon maaf Bi, jangan tersinggung. Ummi hanya tidak ingin memberatkan Abi." Lanjutnya dengan memegang jemari Rais.
Rais tersenyum, lalu mencium kening sang wanita, " Ummi tenang saja. Kalau Abi ngajak, itu artinya Abi siap, Mi." Jawab Rais.
"Yakin?"
"Ummi nggak percaya sama Abi?"
"Bukan nggak percaya. Ummi 1000% percaya sama Abi."
"Lalu?"
"Nggak sayang-sayang duitnya? Katanya pengen ngembangin usaha."
"Maksud Abi?"
"Selama ini Abi menabung untuk bekal rumah tangga Abi. Jadi, Ummi nggak usah mikirin sayang. Semua sudah Abi siapin buat Ummi."
"Masha allah Abi." Jawab Ara kedua matanya berkaca-kaca. Betapa bahagianya ia mendapat suami yang sempurna seperti Rais. "Makasih, Bi."
"Hayo lagi pada ngapain?" tiba-tiba Mila mengagetkan keseriusan mereka berdua.
"Bocil kepo!" jawab Rais.
"Ih. Mas Rais."
"Mas sama Mbak Ara mau ke Solo."
"Wah kerumah Mas Ahmad, ya?" tanya Mila dengan mata berbinar. "Pengen ikutan, kangen sama ponakan."
"Kalau ikut gimana sama mondokmu, Nduk?" tanya Rais.
"Makanya itu Mas. Mila nggak ikut. Ntar aja pas hari raya. Salam aja sama keluarga disana."
__ADS_1
*****
Mentari pagi mulai menyingkap jubahnya. Hangatnya menelisik hingga ke pori-pori kulit. Ara dan Rais tengah menikmati pagi dengan jogging keliling kampung. Setelah lelah dengan altifitasnya, mereka pun segera pulang. Sesampai dihalaman rumah. Rais menyetop langkah Ara.
"Jangan masuk dulu ya, Mi." Pinta Rais.
Kedua alis Ara terlihat saling bertautan. "Kenapa, Bi?"
"Abi punya kejutan buat Ummi."
"Kejutan? kejutan apa?" Tanya Ara makin penasaran.
"Kalau Abi kasih tahu sekarang. Bukan kejutan namanya."
"Terus?"
"Ummi pejamin mata dulu."
"Abi kaya apaan ih. Masa Ummi suruh pejamin mata dibawah terik gini."
"Ummi ... kata dokter ya? berjemur dibawah terik jam delapan itu bagus."
"Iya Pak dokter ..."
"Udah Ummi pejamin mata dulu. Mau tahu kejutannya kan?"
Ara oun segera mengangguk dan memejamkan mata.
Sebuah kotak kecil berwarna merah telah Rais siapkan jauh-jauh hari. Kali ini kotak itu ia keluarkan dari kantong celana parasutnya. Lelaki itu segera membuka kotak merah tersebut.
Sebuah Kalung dengan liontin berbentuk huruf AR yang menjadi satu. Dengan satu permata dibagian tengahnya.
"Sekarang Ummi buka mata."
"Masha Allah ... Abi?" ucap Ara terperangah dengan kejutan tersebut.
"Maaf ya, Mi. Cuma ini yang bisa Abi kasih buat Ummi."
Ara tak mampu menjawab, perempuan itu hanya memeluk Rais dengan erat sembari menangis bahagia.
"Ini adalah kejutan untuk Bu dokternya Abi. Yang selalu mampu bikin Abi jatuh cinta setiap saat."
"Makasih Bi. Abi adalah suami terbaik Ummi."
"Love you sayang. Semoga kita se dunia dan se Jannah kelak. Aamiin."
__ADS_1
"Aamiin, Bi."
"Yaudah kita masuk, setelah ini kita siap-siap ke Solo."