
"Mbak Ara, please pulang ya, Mbak?" Mohon Mila sembari sesenggukan.
Ara nampak duduk terdiam disamping Mila. Perempuan yang memutuskan untuk meninggalkan rumah itu nampak terlihat banyak fikiran. Sebulan sudah, sang suami tidak kunjung menjemputnya ke kotrakan. Hatinya bergolak, ia ingin betul Rais datang ke kontrakan, lalu memintanya untuk pulang bersamanya. Namun, mimpi tinggalah mimpi. Suami yang di impikannya akan menjemputnya, saat ini yang menangis dan memohon adalah adiknya, bukan suaminya.
"Mbak nggak bisa, Mil. Mbak masih mau disini."
"Sampai kapan, Mbak?"
Ara menatap wajah Mila. Bibirnya enggan terbuka, hanya nanar yang nampak begitu jelas di kedua maniknya.
"Mbak nggak kasihan sama Mas Rais?"
Ara membalas dengan senyuman datar.
"Kalai Umma tahu masalah ini. Umma pasti murka sama Mas Rais, Mbak?"
Ara masih tetap terdiam. Perempuan itu terlihat sesekali memijit-mijit jemarinya.
"Pulang ya, Mbak? Kasihan Mas Rais. Dia seperti orang linglung sejak ditinggal Mbak Ara."
Ara mengbuskan napasnya, "Mbak pasti pulang. Tapi___" Ara menggantung kalimatnya.
"Tapi apa, Mbak?"
"Mbak mau Mas mu yang datang menjemput Mbak. Bukan orang lain." Jawab Ara sedikit meradang. "Mas mu sudah keterlaluan, Mil! Dia banyak membohongi Mbak Ara. Mbak juga manusia biasa, bisa sakit hati kalau terus-terusan dibohongi!" Air mata perempuan itu mengucur deras. Beban yang selama ini ia pendam akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka. Harus ia luapkan kepada Mila. Agar sang adik tahu, bagaimana kelakuan sang kakak kepadanya.
"Atas nama Maa Rais, Mila sungguh minta maaf, Mbak?"
"Mbak udah maafin dia, Mil! Meskipun setelahnya Mbak dia bohongi lagi! Andai dia jujur dari awal tentang Mayra. Mbak nggak akan seperti ini. Kita sama-sama punya masalalu. Tapi, nggak ada yang Mbak tutup-tutupi dari Mas mu. Karena Mbak takut akan terjadi salah faham!"
"Iya, Mbak, Mila tahu. Tapi, apa yang Mbak Ara tangkep, itu semua nggak seperti dugaan Mbak. Percaya sama Mila. Mas Raia cinta banget sama Mbak."
__ADS_1
"Naluri seorang istri itu lebih peka, Mil. Bahkan, aroma ketidak jujuran dari seorang suami saja, bisa istri endus dari radius puluhan kilo meter!"
Mila terdiam, bagaimana pun juga, Mila tahu, jika semua ini memang salah dari sang kakak. Sebetulnya Mila geram kepada Rais. Namub, yang namanya saudara, sejelek apa pun. Pasti tetap akan di bela.
"Pulang lah, Mil. Biar Mbak disini dulu. Hingga pikiran Mbak benar-benar tenang."
"Tapi gimana kalau misal nanti, tiba-tiba Umma datang kerumah kalian? Mendapati Mbak Ara nggak dirumah. Naman Mbak Ara sendiri yang akan jelek, Mbak. Karena Mbak keluar rumah tanpa seijin suami."
"Rais pasti sudah menyiapkan jawaban kepada Umma, jika beliau sewaktu-waktu kerumah. Saat ini, Mbak benar-benar butuh sendiri."
"Tapi Mbak udah lama disini, apa kata tetangga Mbak?"
"Sudah lah Mil. Mbak tahu harus bersikap seperti apa. Pulang lah."
Mila tercekat, ia tak tahu lagi harus memohon kepada Ara seperti apa. Memang seharusnya yang menjemputnya bukan dirinya, melainkan Rais sang kakak.
****
Baru saja ia mau menutup jendela kontrakan yang masih terbuka, sebuah suara mengagetkan jantungnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Ara menjawab sembari tak mempercayainya, jika orang yang memberi salam tersebut adalah sang suami, yang ia tunggu kedatangannya sebulan kebelakang.
"Ummi, apa kabar?" Tanya Rais, ketika Ara mencium punggung tangan lelaki itu.
"Alhamdulillah, Baik. Abi, apa kabar?" Balik tanya Ara.
"Seperti yang Ummi lihat, sayang. Kurus, kumel, nggak keurus." Ucap Rais masih berdiri di depan pintu kontrakan. "Ummi nggak mempersilahlan Abi masuk?"
Ara masih mematung, korneanya menatap wajah Rais yang nampam begitu tidak keurus. Bahkan, rambutnya seperti belum dipotong semenjak kepergian Ara dari rumah.
__ADS_1
"Astagfirullah! Masuk, Bi. Abi ada apa kesini?"
"Menjemput istri Abi."
"Ummi bikini tea dulu, Bi."
"Nggak usah, sayang. Kita pulang sekarang. Ummi udah maafin Abi, kan?" Tanya Rais lembut.
Ara nampak tersenyum, "yang bilang nggak maafin Abi, siapa?"
"Buktinya Ummi pergi dari rumah!"
"Ummi pergi karena ada alasannya."
Rais terdiam, kini pandangannya menunduk. Sekoyong-koyong lelaki itu menggenggam jemari Ara. Berlutut disamping Ara duduk. "Sungguh, Abi mohon maaf sama Ummi. Selama ini Abi nyakitin hati Ummi. Abi baru sadar, betapa berharganya Ummi dibanding dengan apa pun."
"Termasuk Mayra?" tanya Ara lirih.
"Ya, termasuk Mayra. Ummi juga harus tahu, kemarin, ayah Mayra kerumah. Meminta Abi untuk datang menemui putrinya yang sedang sakit. Tapi, Abi nggak mau. Bukan karena Abi takut sama Ummi, bukan. Tapi, Abi lebih menjaga perasaan Ummi. Abi nggak mau Ummi berfikir yang tidak-tidak sama Abi. Cukup bagi Abi membohongi Ummi sebanyak tiga kali. Setelah ini, Abi pastikan, Abi tidak akan pernah berbohong kepada Ummi, apa pun itu."
Air mata Ara menetes. Perempuan itu sesenggukan, "Ummi tidak masalah tentang masalalu Abi, asal Abi mau jujur sama Ummi. Itu saja. Satu lagi, Ummi nggak mau menjalin hubungan dengan orang yang tidak bisa setia kepada satu hati, Bi. Ummi nggak siap untuk berbagi hati dan perasaan."
"Ummi jangan berfikir seperti itu. Abi nggak ada niatan untuk berhubungan dengan Mayra lagi, Mi. Abi hanya kasihan sama dia, karena dia sakit. Itu saja. Tidak lebih. Dan Abi pun tidak kuasa untuk menduakan hati Ummi."
"Mungkin Abi biaa bilang begitu saat ini. Tapi, kita lihat kedepan, apakah kata-kata Abi tersebut masih tetap sama? Karena Allah Maha membolak balikkan hati Ummatnya. Ummi tidak meminta Abi untuk berjanji akan setia, yang Ummi minta, buktikan Bi, itu saja."
Rais menatap lekat kedua manik Ara, "Insya Allah, Abi akan buktikan kepad Ummi. Kalau hanya Ummi satu-satunya istri Abi."
Ara tersenyum, "baiklah, Ummi mau siap-siap dulu."
"Nggak perlu, Mi. Biar Abi yang nata baju-baju Ummi. Ummi duduk saja disini, sayang."
__ADS_1