
"Batul kata Mira, Mas Rais. Yang penting tuh saat ini, kalian hidup bahagia." Tukas Zaki tersenyum.
"Ayo diminum dulu, Zak. Aku tinggal kebelakang ya. Ngobrol sama suamiku aja." Ucap Ara, lali melangkah membawa duo Zul masuk kedalam kamar.
Speninggal Ara, suasana mendadak hening. Ada rasa canggung menyelimuti Rais. Entah, apa yang harus di jadikan bahan obrolan. Raia nampak tegang berhadapan dengan sahabat sang istri. Berbeda dengan Rais, Zaki nampak biasa-biasa saja.
"Oh, ya Mas, kenal Mira dimana? Kok biaa nikah sama dia?" Zaki membuka percakapan.
"Kenal nggak sengaja, Mas. Pas saya jualan susu keliling, istri saya beli."
"Wah unik juga, ya?"
"Apa Mas Zaki tahu? Kalau istri saya sebelumnya sudah pernah menikah?"
Zaki menuatkan kedua alisnya, "menikah? Nggak ... yang saya tahu ya nikah sama Mas Rais aja. Soalnya kami memanf nggak pernah komunikasi lagi semenjak saya ikut mama pindah ke Manado."
Rais mengangguk-anggukkan kepalanya, "jadi istri saya ini dulu menikah, tapi nggak lama suaminya meninggal, Mas. Kirain Mas Zaki tahu."
"Innalillahi wainnailahirojiun, saya beneran nggak tahu, Mas. Ya, semoga rumah tangga kalian Samara hingga jannah. aamiin," ucap Zaki.
Mendengar kata-kata Zaki, Rais nampak bahagia, sepertnya apa yang di sangkanya terhadap Zaki salah besar. Zaki memang hanya sebatas sahabat Ara. Mereka tidak pernah terlibat dalam urusan hati.
"Kalau istri Mas Zaki? Asli mana?" Rais mulai bertanya.
Zaki tersenyum, "saya belum menikah, Mas. Sempat mau menikah tapi gagal."
"Lho ... kok bisa gagal? Maaf Mas kalau saya banyak nanya."
"Nggak apa-apa Mas. Daripada nanti salah sangka. Jadi setahun yang lalu saya sudah mempersiapkan semua untuk menikahi gadis asal Kudus. Tapi ... nggak jadi. Sebab, dari pihak keluarga tiba-tiba kerumah dan menggagalkannya." Zaki berucap sembari mengingat kejadian memilukan tersebut.
"Astagfirullah, mungkin memang belum jdodoh Mas. Saya doakan semoga Mas Zaki segera mendapat wanita yang baik untuk masadepan Mas Zaaki."
"Aamiin, makasih Mas doanya."
"Sekarang Mas Zaki tinggal dimana?"
"Saya tinggal di Klatennya. Kapan-kapan main kerumah. Ajak Mira, pasti mama saya senang bisa bertemu dengan Mira lagi." Ucap Zaki.
"Insya Allah Mas, nanti kalau ada waktu saya main kerumah Mas Zaki sama anak istri saya. Tapi akhir-akhir ini kami sedikit repot."
"Ya nggak apa-apa Mas. Kapan-kapan saja," ucap Zaki melihat jam yanf melingjar di pergelangan tangannya. "Udah sore Mas. Saya pamit pulang dulu, takut di cari sama mama." lanjutnya.
"Jangan kapok main kesini Mas, kerumah kami, Mas Zaki malah dianggurin gini," ucap Rais tersenyum.
"Waah saya malah senang bisa ketemu sama Mira, Mas. Mira itu anaknya sederhana dari dulu, nggak neko-neko, pendiam. Kalau ada masalah, dia juga memilih diam nggak mau cerita kalau nggak di sentil dulu. Beruntung Mas Rais dapetun Mira." Ucap Zaki sembari berdiri.
"Ya saya beruntung sekali Mas." Jawab Rais, "Mi! Mas Zaki mau balik nih." Seru Rais.
"Kok udah mau balik, Zak?" Ucap Ara berjalan dari dalam kamar.
"Iya nih, udah sore. Mama takut nungguin."
__ADS_1
"Eh, Tante apa kabar? Sehat?" Tanya Ara.
"Alhamdulillah sehat. Main-main kerumah, mama pasti senang kamu kerumah."
"Insya Allah, kalau aku mah apa kata sopir pribadi, kalau dia mau anter, ya oke-oke aja. Iya nggak, Bi." Canda Ara. "Eh, salamin ama tante ya, zak."
"Isnya Allah nanti di sampein, yaudah saya balik dulu. Maaf udah menggagu aktifatasnya nih. Si kembar mana?"
"Lagi bobo."
"Yaudah kalau gitu, pamit dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Ara dan Rais serempak.
Setelah mobil berwarna silver itu menjauh dan hilang di depan gang rumah Rais, terlihat pasangan suami istri itu berjalan menuju dalam rumah.
"Gimana? Apa Abi masih cemburu sama dia?" Ara berucal sembari bergelayutan di pundak sang suami.
Rais merasa malu, wajahnya memerah. "Maafin Abi, Mi. Kalau Abi awalnya curiga sama kalian."
"Abi ... yang harus Abi tahu, Ummi tuh nggak mau yang namanya main rahasia-rahasiaan dari suami. Ummi takut Allah nggak ridho." Ucap Ara.
Rais tercekat, ia mengingat kejadian beberapa bulan lalu dengan almarhumah Mayra.
"Abi percaya sama, Ummi."
"Bi, Zaki itu anaknya baik. Baik banget, tadi Ummi sempet denger kalau dia gagal nikah. Kasihan dia."
"Aamiin."
***
Malam makin temaram, suasana syahdu menyelimuti kediaman Rais dan Ara. Tak ada gaduh, sebab duo Zul hari ini nampak tidak rewel. Hingga menjadikan kedua orang tuanya lebih longgar dan bisa mengatur napas dengan ritme yang sesuai.
"Abi udah tidur?" Ara memanggil Rais yang terlihat sudah memejamkan matanya di samping Ara.
"Udah," ucap Rais masih terpejam.
"Udah kok bisa jawab?"
Rais tersenyum, "ada apa, Mi?"
"Nggak apa-apa, Bi. Cuma sekedar ngetes aja. Kirain beneran tidur."
"Ummi minta jatah?"
"Nggak. Abi pikirannya itu mulu, ih."
"Habisnya ada apa? Sepertinya istri Abi lagi banyak pikiran. Cerita, Mi." Ucap Rais masih dengan mata terpejam.
"Abi kenapa cemburu sama Zaki?"
__ADS_1
Lelaki itu membuka matanya, "enthalah. Tapi, naluri Abi mengatakan kalau dia suka sama Ummi."
"Darimana bisa Abi bilang dia suka sama Ummi?"
"Dari gesturnya."
"Heleh, Abi mah ngarang."
"Lho? Kok ngarang! Ya nggak toh Mi. Abi nggak ngarang. Tapi, Abi salut ama dia, dia bisa menempatkan diri, nggak pengen baik Ummi atau Abi tahu jika dia menyukai Ummi."
"Ummi malah nggak kepikiran kalau Zaki suka sama Ummi."
"Terus? Kenapa tiba-tiba Ummi tanya perihal dia malem-malem gini?"
"Bi?"
"Ehm."
"Zaki itu orang baik, dulu dia sahabat dan tetangga Ummi."
"Terus?"
"Dia cerita gagal nikah dengan pasangannya sama Abi."
"Heem ... terus?"
"Ummi kepikiran___"
"Kepikiran apa, Mi?" Rais berkata sebelum Ara sempat melanjutkan kata-katanya.
"Jodohin Zaki ama Mila."
"Husss."
"Kok huss?"
"Mila masih kecil, mau kuliah tahun ini."
"Ya emang dijodohinnya kudu nikah saat ini juga? Kan nggak Bi?"
Rais terduduk, dia mengambil sikap bersandar di bahu ranjang.
"Ini tuh gimana maksud Ummi?"
"Gini lho, Bi. Ummi kan kenal Zaki tuh dari dia masih TK. Dia anaknya baik, baik banget. Sedangkan Mila pun anaknya baik. Apa salahnya jika kita kenalin mereka, kalau memang cocok dan ada jodoh biar mereka nanti menikah."
"Tapi Abi nggak setuju kalau mereka harus pacaran, Mi."
"Lho yang nyuruh pacaran siapa? Kenalan aja Bi, dan kita jangan sampai bilang sama mereka kalau kita ada niat buat jodohin mereka."
"Ummi atur aja, yang penting jangan pakai acara pacar-pacaran. Dan satu lagi, Abi percaya sama Ummi, kalau kawan Ummi memang baik. Sekarang, Ummi mending kasih jatah buat Abi. Biar besok Abi semangat nyari rejekinya." Tutur Rais tersenyum.
__ADS_1