
"Mbak Ara kemana, Mas? Kok, Mas Rais masak sendiri?" Tanya Mila.
Sudah empat kali jum'at, Ara tak dirumah Rais. Ia benar-benar meninggalkan sang suami sendiri dirumah tersebut. Hari ini, sengaja Rais mengajak Mila untuk kerumahnya, meminta tolong kepada sang adik agar mau membereskan rumahnya yang sudah nampak berantakan.
"Lagì pulang ke Jakarta." Jawab Rais berkilah.
Alis Mila saling bertahutan, "kok Mas Rais nggak ikut?"
"Ya, tadinya mas mau ikut. Tapi karena Mas sibuk sama bikin susu. Jadinya mas nggak ikut."
"Tumben? Biasanya Mas nggak mau jauh-jauh dari bu dokter." Ucap Mila sembari mencuci perabotan diatas wastaffel.
Rais tak menjawab, lelaki itu pura-pura tidak mendengar apa yang baru saja di utarakan oleh sang adik.
"Mas."
"Emh."
"Umma bilang sama Mila, katanya mbak Mayra pernah telepon." Ucap Mila, tangannya masih nampak sibuk dengan baskom yang kotor.
Rais menghampiri Mila, "kapan?"
"Mila nggak tahu jelas kapannya. Cuma, Umma bilang sama Mila, katanya mbak May telepon, gitu. Terus Umma bilang, semoga mbak May nggak hubungi mas Rais. Karena Mas kan udah punya kehidupan sendiri." Tutur Mila. "Emh, dia nggak ada hubungi Mas Rais kan?" Telisik Mila.
Rais kembali menuang susu kedalam botol dagangannya. Lelaki itu nampak bergeming dengan pertanyaan sang adik.
"Mas? Kok diem? Jangan bilang sama Mila, kalau mbak Ara pergi dari rumah, gara-gara mbak Mayra!"
"Kamu bocah ngerti apa, udah kerjain itu kerjaan. Habis itu, kamu kewarung beli makan."
"Mila nggak ikhlas kalau Mas Rais nyakitin hati mbak Ara. Mbak Ara perempuan baik dan sholihah, Mas. Bahkan, keluarga Mbak Ara yang kaya raya, mau menerima keluarga kita." Mila terus saja mengomel kepada sang Kakak.
"Yang bilang mas sama mbak Ara ada masalah itu siapa? Kan mas udah bilang sama Mila, kalau mbak Ara lagi pulang ke Jakarta."
"Ya, siapa tahu mas Rais bohong!" Tukas Mila, "Kalau mas Rais nyakitin mbak Ara, itu sama aja mas Rais nyakitin Mila, khususnya Umma."
"Mila!"
__ADS_1
"Kok mas Rais ngebentak Mila? Emang Mila salah apa?" ucap Mila lirih. Matanya terlihat berkaca-kaca, ini kali pertamanya bagi Mila dibentak oleh sang kakak.
Rais tercekat, ia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya. "Astagfirullah, maafin Mas, Mil."
"Mas Rais kenapa? Apa jangan-jangan Mbak Ara pergi dari rumah karena kelakuan Mas Rais! Jawab Mas!"
Rais tertunduk, pandangannya menyapu lantai.
"Sudah dari kapan, Mbak Ara pergi, Mas! Mas Rais tega, nyakitin hati wanita sebaik Mbak Ara?" ucap Mila lirih. Matanya mulai berembun, gadis cantik itu benar-benar tidak mau sang kakak ipar disakiti hatinya oleh kakak kandungnya sendiri.
"Mbak Ara salah paham sama, Mas. Semua nggak seperti yang kamu tuduhkan ke Mas, Mila!"
"Salah paham? Salah paham gimana maksud mas Rais? Jangan bilang mas Rais berhubungan lagi sama Mayra! Kurang apa istri mas Rais? Ingat Mas! Yang ninggalin Mas Rais itu Mayra. Gimana dulu keluarga Mayra memperlakukan Mas Rais, bahkan ketika Umma bertandang kerumah Mayra! Kita diperlakukan seperti apa!"
"Tutup mulutmu, Mil!"
"Kenapa? Benar kan Mas? Mbak Ara pergi karena Mayra? Mila akan memberi tahu Umma." Ucap Mila sembari menghentikan aktifitasnya, gadis itu beringsut ke ruang tamu untuk mengambil tas slempangnya.
"Tunggu, Mila! Mas harap, kamu jangan ngomong sama Umma. Ini masalah rumah tangga mas sama Mbak Ara. Biarkan Mas dan Mbak Ara menyelesaikan masalah kami sendiri."
"Terus sekarang Mbak Ara dimana?" cecar Mila.
Tanpa menunggu lama, Mila pun menyambar kunci motor yang tergeletak di atas buffet, ia melesatkan langkahnya menuju motor yang terparkir diteras rumah Rais.
"Mau kemana kamu, Mil!"
"Mau lihat keadaan Mbak Ara!" ucapnya ketus.
"Jangan Mila, nanti mbak mu malah marah sama Mas. Dia meminta sama mas Rais, agar masalah ini jangan sampai diketahui orang tua kita."
"Sampai kapan Mas mau ngediemin Mbak Ara? Sampai kapan, Mas!" Tukas Mila, gadis itu lalu melajukan kendaraannya menjauh dari rumah Rais.
****
Ditempat yang berbeda, sebuah rumah nampak begitu megah bernuansa jawa. terdengar dari balik tembok kokoh tersebut, sebuah keluarga sedang adu mulut.
"Kamu ini lulusan Kaìro! Nggak pantes berlaku seperti itu kepada suami orang! Paham!" Suara lelaki renta tengah berbicara tegas kepada sosok wanita yang duduk tertunduk dihadpannya.
__ADS_1
"Tapi, Abu! Mayra hanya ingin memperjuangkan cinta Mayra untuk laki-laki yang Mayra cintai." Pekik wanita yang tak lain adalah Mayra.
Benar, rumah megah itu adalah kediaman orang tua Mayra, berada di salah satu daerah di kota Solo, tak jauh dari rumah Ahmad kakak dari Rais.
"Abu kan sudah bilang sama kamu! Kalau Abu tidak setuju dengan laki-laki pedagang susu itu! Punya apa dia? Hanya mengandalkan usaha jualan susu kelilingnya, iya? Apalagi sekarang dia sudah punya istri! Tak patut kamu mengemis cinta laki-laki itu, sampai jatuh sakit seperti ini!" Tukas ayah Mayra yang biasa dipanggil Abu.
"Mayra mohon kepada Abu. Sekali ini saja Abu mengabulkan keinginan Mayra. Mayra hanya ingin bertemu dengan mas Rais, setelah itu, Mayra janji tidak akan menemui dia lagi, Abu."
"Mayra! Kamu bisa minta apapun kepada Abu, pasti Abu turuti! Asal jangan menyuruh Abu untuk menjemput laki-laki yang sudah berkeluarga. Mau ditaruh mana muka Abu, Nduk!"
"Abu tidak ingin melihat Mayra sembuh?" tukas gadis cantik itu, tatapannya nanar kepada sang ayah.
"Tapi tidak harus dengan cara bertemu dengan pedagang susu itu, May!"
"Sudah Abu, mungkin obatnya Mayra hanya ada di Nak Rais. Siapa tahu ketika bertemu dia, Mayra sembuh."
"Tidak bisa begitu Umi, Kalau nanti Mayra sembuh karena bertemu laki-laki itu. Tidak menutup kemungkinan, ketika laki-laki itu meninggalkan Mayra, putri kita akan jatuh sakit lagi!"
"Tapi tidak ada cara lain, Abu? Kita sudah membawa Mayra berobat kemana-mana, Abu sendiri tahu 'kan hasilnya seperti apa? Mayra tidak apa-apa. Tapi ketika dilihat secara fisik, Mayra sakit Abu. bahkan untuk sekedar jalan saja, Mayra harus dibantu dengan kursi roda."
"Mayra mohon kepada Abu dan Umi, tolong bawakan mas Rais kesini. Sekali ini saja."
"Baik! Abu sendiri yang akan mendatangi penjual susu itu! Tapi, Abu minta sama kamu, kalau sudah bertemu dengannya, kamu harus sembuh."
****
"Saya harap kamu mau ikut dengan saya kerumah! Mayra sedang sakit dan ingin bertemu dengan kamu." Ucap sebuah suara didalam rumah Rais.
Hampir satu jam, ayah Mayra nampak berada dirumah Rais. Meminta agar ikut dengannya ke Solo.
"Maaf, Paman. Tapi saya sudah menikah, saya tidak bisa menemui Mayra tanpa seijin dari istri Paman."
"Sebenarnya saya juga enggan mengemis kepadamu untuk ikut dengan saya kerumah! Tapi ini demi putri semata wayang saya yang sedang sakit! Jika tidak, kamu bawa serta istrimu. Agar tidak terjadi salah faham."
"Tidak mungkin, Paman. Mohon maaf, saya tidak biaa menemui Mayra. Sampaikan salam permohonan maaf saya kepada putri Paman. Jika saya tidak bisa menemuinya." Ucap Rais kekeuh. Lelaki itu kini nampak lebih tegas menjawab permintaan dari orang tua Mayra.
"Sombong kamu!" Ucap ayah Mayra sembari berdiri.
__ADS_1
"Mohon maaf, Paman! Saya hanya ingin menjaga perasaan istri saja." Tutur Rais sembari tersenyum.
Lelaki baya itu nampak meninggalkan kediaman Raia tanpa pamit. Rupanya beliau benar-benar geram dan merasa dihina oleh mantan calon menantunya tersebut.